Home / Artikel / SEKOLAH SIAGA BENCANA

SEKOLAH SIAGA BENCANA

Moechtar Nasution

Moechtar Nasution

Oleh : Moechtar Nasution

Saya terdiam dan haru mendengar penuturan anak didik Sekolah Dasar di desa Gunung Manaon saat mereka menceritakan kejadian banjir yang menimpa desanya dua tahun yang lalu. Dengan bahasa yang sederhana, Hasan-sebut saja namanya demikian berkeluh kesah gara-gara banjir dirinya tidak bisa bersekolah hampir seminggu lamanya.Air yang menggenangai desa juga menyebabkan dirinya merasa ketakutan, selain itu dirinya juga mengisahkan bahwa banyak penduduk desa yang mengalami penyakit.

Sepenggal testimoni ini saya temukan dibeberapa sekolah saat pendidikan kebencanaan yang dilaksanakan BPBD Madina pada pertengahan Desember tahun yang lalu. Dalam pelatihan tersebut, saya banyak menggali kesaksian mereka untuk selanjutnya kemudian mencoba menguraikan beberapa materi sederhana yang mudah dipahami anak seusia 9-11 tahun dengan harapan bisa memberikan pemahaman yang benar tentang bencana. Langkah untuk melibatkan peserta didik utamanya anak sekolah dasar dalam pendidikan kebencanaan merupakan hal yang strategis dan vital karena selain menyangkut tentang masa depan bangsa dan daerah tentunya juga program kegiatan ini merupakan upaya untuk melakukan perubahan budaya, paradigma, dan juga peningkatan kemandirian warga negara untuk secara bersama-sama bertanggung-jawab dalam hal penyelenggaraan penanggulangan bencana sesuai dengan amanat konstitusi.

Kesadaran bahwa kita berdiam didaerah rawan bencana sangat penting dan bagian yang terpenting adalah mengintrodusir pengetahuan kebencanaan tersebut kepada generasi penerus secara turun temurun. Pengetahuan kebencanaan bisa meliputi nilai kearifan lokal dan bisa juga pengetahuan yang didapatkan dari kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi. Banyak kearifan lokal tentang kebencanaan yang sejak zaman dahulu dipergunakan nenek moyang untuk mengingatkan terjadinya bencana namun sangat disayangkan sekali tradisi ini banyak yang hilang ditengah jalan akibat tergerus perkembangan zaman. Menjadi fakta yang tidak terbantahkan bahwa di pulau Simeulue sangat sedikit ditemukan korban jiwa pada saat terjadinya bencana gempa yang diiringi tsunami sementara dibeberapa daerah lainnya begitu banyak korban jiwa berjatuhan. Ini tentunya berkat tradisi kearifan lokal yang hingga sekarang ini masih dipegang erat masyarakat.

Ada beberapa faktor penyebab sehingga negara kita dikategorikan sebagai rawa bencana atau lebih populer disebut “Ring Of Fire”.Penyebabnya antara lain dikarenakan berada pada posisi yang diapit dua samudera dan dua benua. Selain itu yang tidak kalah berpengaruhnya karena letak negara Indonesia berada pada titik pertempuan tiga lempeng dunia. Untuk itu sesuai dengan trilogi peyelenggaraan penanggulangan bencana, sangat diharapkan sekali terciptanya kesadaran kollektif seluruh anak bangsa untuk bersama-sama turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini baik pada pra bencana, pada saat terjadi bencana maupun pasca bencana.

Berbicara tentang penyelengaraan penanggulangan bencana, tanpa disadari sering terlewatkan wacana tentang anak sekolah padahal sesungguhnya anak sekolah sama seperti anak-anak lainnya termasuk kategori yang rentan terhadap bencana. Kenapa kita merasa wajib menganggap ini penting, tidak lain dan tidak bukan karena kita menyadari sepenuhnya bahwa anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya disekolah baik yang formal maupun non formal. Lebih kurang sembilan jam waktu anak tersita untuk belajar disekolah. Tentu saja banyak hal yang terjadi selama durasi waktu ini. Hal lainnya, secara kualitatif diprediksikan lebih kurang 75 % atau bahkan lebih ,letak sekolah berada didaerah yang rawan bencana. Dari data Bank Dunia tahun 2010, jumlah sekolah yang berada didaerah rawan bencana di Indonesia termasuk yang terbanyak didunia. Dari 144.507 Sekolah Dasar, sebanyak 76 % atau 109.401 sekolah berada di provinsi dengan risiko gempa tinggi. Untuk SLB, sebanyak 1.147 sekolah dari total 1.455.

Anak-anak kerap menjadi korban terbesar saat bencana terjadi. Saat tsunami melanda Aceh pada tahun 2004 lalu misalnya diperkirakan sekitar 75 persen dari keseluruhan korban adalah anak-anak dan perempuan. Tsunami dan gempa bumi ini juga meluluhlantakkan lebih kurang 750 unit sekolah.Tragisnya, gempa bumi tahun 2009 yang terjadi di Padang, Sumatera Barat selain meruntuhkan ratusan sekolah juga mengakibatkan sebanyak 60 orang anak didik yang meninggal di sekolah.

Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga kepada kita semua betapa pentingnya pendidikan kebencanaan bagi anak sekolah. Perhatiaan terhadap isu ini menjadi strategis mengingat anak jelas memiliki kerentanan yang tinggi terhadap paparan bencana disamping orang yang sudah lanjut usia. Salah satu terobosan penting yang dilakukan pemerintah untuk menekan risiko bencana pada anak-anak adalah dengan memasukkan materi kebencanaan dalam kurikulum pendidikan nasional di hampir semua jenjang. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Dalam UU tersebut disebutkan bahwa pendidikan siaga bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk ke sektor pendidikan. Terhitung sejak tahun 2011, kurikulum kebencanaan resmi dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional. Tak hanya untuk jenjang sekolah dasar, menengah dan atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini juga menerbitkan buku panduan pendidikan siaga bencana untuk anak usia dini. Meski sejumlah terobosan ini penting, namun belum cukup untuk secara maksimal membangun generasi muda yang siaga bencana. Terdapat sejumlah alasan dan faktor yang melatarbelakanginya. Kita memang harus lebih banyak lagi belajar kepada negara Matahari Terbit yaitu Jepang karena negara ini salah satu negara yang diakui dunia internasional memiliki mitigasi bencana terbaik.Butuh waktu yang sangat lama untuk menciptakan kondisi ini namun tentunya jika dibarengi dengan partisipasi aktif masyarakat maka jelas saja waktu yang lama tersebut akan menjadi singkat.

Keberhasilan mereka membangun masyarakat yang siaga bencana juga didorong oleh terintegrasinya pendidikan tentang kebencanaan dengan banyak sektor selain dunia pendidikan selain memang juga melibatkan segenap komponen masyarakat. Sehingga, siaga bencana telah menjelma menjadi bagian dari budaya masyarakat Jepang. Tidak hanya orang dewasa yang mengerti bagaimana bersiaga terhadap bencana, anak-anak di sana juga memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai bagaimana bersikap benar saat bencana terjadi.                                                                                                                          Pada tahun 2012, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) telah mengeluarkan peraturan No.04 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman Dari Bencana. Dalam peraturan tersebut, dibahas dengan sangat detail tentang nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan strategi dasar untuk membantu pihak sekolah dan stakeholder untuk membangun sekolah siaga bencana/sekolah aman. Sekolah siaga bencana diharapkan memiliki nilai-nilai dasar antara lain perubahan budaya, kemandirian,pendekatan berbasis hak, keberlanjutan, kearifan lokal, kemitraan, dan inklusivitas.

Yang dimaksud dengan sekolah siaga bencana adalah sekolah yang membangun kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana terhadap bencana. Sedangkan tujuan membangun sekolah siaga bencana selain menumbuhkembangkan budaya siaga dan budaya aman dalam menghadapi bencana juga merupakan bentuk peningkatan kapasitas institusi sekaligus indivu yang merupakan pelaku dunia pendidikan aktif. Yang tidak kalah pentingnya dengan terciptanya sekolah siaga bencana ini akan bisa menjadi wahana untuk menyebar luaskan serta mengembangkan pengetahuan kebencanaan kepada masyarakat luas melalui jalur pendidikan sekolah.

Mendidik dan membangun masyarakat Indonesia yang tangguh melalui sekolah siaga bencana merupakan sesuatu yang harus dan wajib kita lakukan bersama karena sebisa mungkin pendidikan dasar-dasar kebencanaan harus diberikan kepada rakyat Indonesia sejak dini.Sekolah siaga bencana diharapkan bisa melindungi anak didik dan pendidik dari kematian atau cedera akibat bencana yang terjadi, selain itu pendirian sekolah siaga bencana ini juga akan mampu melindungi investasi negara disektor pendidikan terutama peningkatan sumber daya manusia.

Tentunya, kegiatan yang dilaksanakan BPBD Madina ini tidak akan bisa menjangkau semua sekolah yang ada, untuk itu peran serta masyarakat dan kalangan dunia usaha menjadi penting untuk dilibatkan secara aktif. Saatnya kita peduli dengan anak didik kita yang merupakan aset daerah dan bangsa….!!!***

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar