Home / Artikel / Seri HUT Madina : Mandailing Melahirkan Banyak Ulama Kharismatik (4-Selesai)

Seri HUT Madina : Mandailing Melahirkan Banyak Ulama Kharismatik (4-Selesai)

Oleh : BASYRAL HAMIDI HARAHAP (In Memorial)
Sejarahwan Mandailing

Basyral Hamidi Harahap

 

 

Haji Muhammad Siddiq Nasution (1925-1982) lahir pada tanggal 11 Februari 1925 d Gunung Tua, ia adalah putera tertua Sutan Parimpunan dari Gunung Tua, Mandailing. Ibunya Rukiyah Dalimunthe dari Sigalangan. Belum lagi menamatkan HIS ia berangkat bersama kakek dan neneknya, Syekh Haji  Hasan dan Ramlah Dalimunthe, untuk belajar di Mekkah pd tahun 1938. Mereka mukim di Mekkah selama 12 tahun. Muhammad Siddiq belajar di Madrasah Darul Ulum di Mekkah samapi memperoleh ijazah. Ia menguasai tiga bahasa asing , iyalah Arab, Inggris dan Belanda.

Kakeknya, Syekh Haji Hasan mengajaknya kembali ke Tanah Air pada tahun 1949. Neneknya sendiri telah wafat di Mekkah. Muhammad Siddiq menikah dengan boru Siregar dari Batangtoru. Ia adalah seorang orator yang tutr katanya sangat mengena di hati jamaahnya. Ia menyelenggarakan pengajian di Gunung Tua dan desa-desa lain di Mandailing. Pada tahun 1967, ahli fiqh ini mendirikan perguruan Muhammdiyah di Gunung Tua mulai dari SD, Tsaniwayah dan Aliyah. Perguruan ini berkemabng di Tambah lagi dengan Bustanul Athlifal Taman Kanak-kanak Aisyyiah.

Penulis pernah mewawancarai Haji Muhammad Siddiq di kediamannya pada tahun 1979 dan 1981 dalam rangka penelitian lapangan tentang pergerakan politik dan islam di Tapanuli Selatan. Kesan yang paling mendalam dalam berdialog dengan H. Muhammad Shiddiq adalah tutur katnya yang lembut kahs diale Mandailing yang kental, pilihan kata-katnya yang tepat dan wajahnya yag senyum baik dalam keadaan mendengarkan maupun ketika berbicara. Koleksi bukunya yang kaya tentang Islam menyakinkan bahwa ia benar-benar seorang anggota Majelis Tarjih PP Muhammadiyah yang handal. H. Muhammad Siddiq ikut memberi sumbangan dalam berbagai pembahasan dan keputusan Majelis tarjih PP Muhamadiyah.

Ketika wafat pada tahun 1918, H. Muhammad Siddiq meninggalkan seorang isteri dan delapan orang puteri diantaranya ada yang kembar dan seorang cucu laki-laki.

Inilah sosok ulama yang luas pengetahuannya sampai saat kini belum ada gantinya.

Wafatnya para ulama Madina menimbulkan ke prihatinan yang mendalam. Ini merupakan pertanda akan terjadi berbagai kesulitan dalam kehidupan masyarakat. Tak ada lagi ulama sebesar mereka yang mampu menggantikan peranan mereka dalam mengajrkan segala seluk beluk agama Islam.  Ketekunan, kegigihan, keberanian, kesabaran, kejujuran, kearifan, kesederhanaan, semangat kepeloporan, kemampuan menderita dalam mencari ilmu, kesulitan ilmu yang di miliki para ulama itu tidak lagi memiliki para ulama yang tampil setelah mereka.  (dikutip dari buku Madina Madani)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar