Home / Wisata / Tempat Bersejarah di Madina Diminati Wisatawan Malaysia

Tempat Bersejarah di Madina Diminati Wisatawan Malaysia

Komplek Bagas Godang di Huta Nagodang, Ulu Pungkut

Komplek Bagas Godang di Huta Nagodang, Ulu Pungkut

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Mandailing sangat diminati wisatawan keturunan Mandailing Malaysia.

Hal itu diungkapkan pemandu perjalanan travel, Dahlan Batubara kepada wartawan di Panyabungan, Rabu (23/11/2016) di Panyabungan.

“Yang paling diminati itu adalah lokasi peninggalan sejarah seperti Bagas Godang, makam raja-raja. Peringkat kedua adalah perkampungan asli Mandailing dimana mayoritas rumah-rumah penduduknya belum  tersentuh arsitektur Eropa maupun arsitektur modern.  Peringkat ketiga yng diminati adalah kawasan yang alami,” ungkapnya.

Bagas Godang yang diminati antara lain, Bagas Godang di Huta Nagodang Ulu Pungkut; Bagas Godang di Panyabungan Tonga.

“Menurut penilaian mereka, daya pikat Bagas Godang di Huta Nagodang lebih tinggi dibanding Rumah Gadang Pagaruyung di Sumatera Barat. Hanya saja, tidak adanya perhatian dan tingkat promosi yang rendah yang dilakukan pemerintah Sumatera Utara menyebabkan kemasyhuran Bagas Godang Huta Nagodang ditelan oleh Rumah Gadang Pagaruyung karena dikelola dengan baik dan dipromosikan secara sistematis oleh pemerintah Sumatera Barat,” ujar Dahlan.

Untuk tahun 2016 ini, Dahlan menyatakan membawa rombongan Mandailing Malaysia ke Pakantan, karena di Pakantan juga banyak ditemukan Bagas Godang yang tak kalah daya pikatnya dengan Bagas Godang Huta Nagodang di Ulu Pungkut.

Untuk perkampungan asli Mandailing yang belum banyak disentuh arsitektur modern dan Eropa, ditemukan di beberapa kawasan Ulu Pungkut dan kawasan Sibanggor.

“Rumah-rumah berkolong dan berdinding papan serta style jendela yang bukan arsitektur Eropa menjadi daya pikat bagi mereka,” sebut Dahlan yang juga pemimpin redaksi Mandailing Online ini.

Sementara, untuk kategori kawasan alami, yang diminati adalah kawasan Sibanggor, terutama Sibanggor Julu. Kawasan ini sangat eksotis.     

Selain ketiga kategori di atas, menyaksikan tabuhan Gordang Sambilan dan pagelaran tarian Tor-tor menjadi permintaan rutinitas setiap rombongan Mandailing Malaysia ke Mandailing Natal.

Dahlan Batubara yang juga perwakilan Ikatan Mandailing Malaysia Indonesia (IMAMI) di Madina ini menyabutkan, kunjungan rombongan kaum Mandailing di Malaysia ke kabupaten Mandailing Natal menjadi program rutinitas tahunan, setelah program Mulak Tu Huta digalakkan tahun 2012 lalu.

“Program Mulak Tu Huta itu merupakan paket wisata ke tanah leluhur yang digalakkan oleh IMAMI Malaysia di kalangan keturunan Mandailing ,” sebut Dahlan.

Sejauh ini, kendala yang dihadapi dalam promosi wisata, menurut Dahlan, kesulitannya adalah infrastruktur jalan.

“Jalan menuju lokasi-lokasi wisata itu sangat sempit, termasuk beberaa titik jembatan. Mencapai Sibanggor, Ulu Pungkut dan Pakantan itu tak bisa mengendarai bus wisata besar. Jika wisatawan keliling di Sumatera Utara itu memakai bus besar, maka ketika jadwal memasuki Madina, terutama untuk kaswasan Ulu Pungkut, Sibanggor dan Pakantan harus ditukar dengan bus kecil. Ini tentu akan sengat menyulitkan biro travel,” ungkap Dahlan.

“Jalanan yang sempit itu juga diperparah dengan kondisi badan jalan yang memiliki lobang-lobang. Kondisi itu menyebabkan banyak di antara wisawatan itu mengalami nyeri  tubuh setelah kembali ke hotel. Bahkan sepulang di Malaysia masih juga ditemukan kasus nyeri  pinggang pasca kunjungan ke tanah leluhur,” imbuh Dahlan.

Oleh karenanya, Dahlan menghimbau pemerintah Mandailing Natal melakukan inventarisasi kembali titik kunjungan wisata di Mandailing Natal agar titik perbaikan infrastruktur jalan dapat lebih tersekala.

 

Peliput  : Maradotang Pulungan   

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar