Home / Seputar Madina / Toge Panyabungan tak Hanya Ramadhan

Toge Panyabungan tak Hanya Ramadhan


Namanya Toge Panyabungan. Selintas seperti nama kecambah kacang hijau yang sering dijadikan sayuran. Tapi toge yang satu ini adalah sebuah jajanan kuliner khas Mandailing, tepatnya berasal dari Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Panganan segar yang konon identik dengan bulan puasa ini memiliki rasa yang khas dan sangat lezat. Apalagi kalau dicampur dengan tape maka rasanya pasti akan semakin nikmat.
SEJATINYA, Toge Panyabungan sesungguhnya adalah sejenis kolak. Di dalamnya terdapat campuran tape, pulut hitam, lupis, bubur candil dan cendol yang dicampur gula merah cair serta santan sebagai kuahnya. Rasanya tentu saja manis. Bagaimana sebenarnya bentuk makanan ini.
Mungkin jika pertama kali mendengarnya maka orang akan mengasumsikan makanan ini adalah toge atau kecambah kacang hijau yang diberi manisan berupa gula. Tak salah juga jika orang yang tak pernah makan beranggapan seperti itu mengingat namanya toge. Tapi sebenarnya makanan ini tak jauh beda dengan es campur biasa. Sebab panganan ini akan tambah lebih enak lagi jika ditambah dengan es batu.

Selain lezat, keistimewaan Toge Panyabungan dapat menambah tenaga setelah menahan lapar sejak pagi hari. Selain itu, banyaknya kandungan ketan menyebabkan tubuh yang mengonsumsinya menjadi hangat. Maka tak heran kalau Toge Panyabungan banyak diserbu pembeli terutama pada saat menjelang berbuka puasa di bulan suci Ramadhan. Tak heran namanya kini tersiar ke mana-mana. Hal itu membuat kehadiran Toge Panyabungan menjadi sebuah jajanan kuliner yang digemari. Bila dahulu dagangan ini hanya hadir di bulan puasa, tetapi kini hal itu telah berubah. Kini, pada hari biasa pun penggemarnya sudah dapat menikmati karena sudah ada yang menjualnya meskipun hanya segelintir pedagang saja.

Hollad Nasution misalnya. Pedagang Toge Panyabungan yang membuka lapak setiap hari di Jalan Letda Sudjono simpang Gang Makmur persisnya di samping loket bus ALS ini begitu tampak laris manis didatangi pembeli. Lapak dagangannya yang hanya bermodalkan steling diangkut vespa butut terkesan sangat familiar hingga Pak Hollad begitu akrab dengan pelanggannya. Seperti saat ditemui MedanBisnis beberapa waktu lalu, Pak Hollad begitu akrab di mata pembelinya meskipun hanya sekadar menegur pria dua anak ini dengan ramah. “Ya mereka pernah beli dan tahu rasanya seperti apa, jadi sudah seperti keluarga,” kata Pak Hollad membuka pembicaraan.

Diakui pria berusia 52 tahun ini kalau panganan Toge Panyabungan begitu laris di setiap bulan Ramadhan. Mendengar namanya, para pembelinya pun bukan hanya dari masyarakat suku Mandailing saja. Kolak yang berisikan lima bahan utama ini juga telah disukai lidah semua orang yang meminumnya. Maka tak heran, Toge Panyabungan sudah mulai memasyarakat. Selain rasanya yang menyegarkan, Toge Panyabungan juga mampu menghilangkan haus dahaga serta pengganjal perut yang lapar. “Rasanya yang manis dan ramenya bahan campuran di dalamnya menjadikan Toge Panyabungan menjadi makanan favorit,” tambah Pak Hollad tersenyum.

Pria berlobe ini sebenarnya juga tidak tahu kenapa namanya disebut Toge Panyabungan. Memang katanya, jenis kuliner seperti ini memang awalnya dijual di daerah Panyabungan, Madina, Sumatera Utara. Tetapi dasar kata toge juga tidak memiliki arti, dan bukan merupakan bagian dari pembuatan makanan yang berasa manis ini. “Mungkin karena dari sana (Panyabungan) kali ya, tapi toge sama sekali memang tidak ada kita pakai di dalamnya,” jelasnya lagi.

Berbahan Asli
Meskipun terlihat mudah, hanya saja bahan baku Toge Panyabungan bukanlah sembarangan. Bahkan agar cita rasanya mampu memuaskan selera pembeli, maka bahan pembuatan kuliner ini memakai bahan asli. Bahan-bahan seperti beras ketan hitam, putih, gula merah, santan kelapa, tape, cendol, lupis dan cenil semuanya harus diracik dengan alami. “Dagangan kita semua berbahan asli tidak ada pakai zat pengawet, pewarna atau pemanis rasa. Kalau tidak seperti itu, ya semua pelanggan pasti akan lari,” aku Pak Hollad.

Bahkan untuk bahan baku gula merah saja, Pak Hollad tidak mau membeli yang sudah jadi. Ia mengaku membuatnya sendiri dengan cara memasak gula aren yang didatangkan langsung dari Kampung Maga Tanah Male, Panyabungan, Madina. “Gula merahnya memang berasal dari gula aren murni yang kita masak, bahkan bahannya kita datangkan dari Madina,” bebernya sembari mengatakan mulai fokus berjualan Toge Panyabungan sejak 2004 silam ini.

Itu sebabnya harga Toge Panyabungan tiap tahun terus mengalami kenaikan karena bahan bakunya berasal dari bahan asli. Kini, sebungkus Toge Panyabungan dijual Pak Hollad seharga Rp 6.000. Tetapi pak Hollad juga menyiasati dengan tetap menjual es cendol tanpa Toge Panyabungan seharga Rp 4.000. “Untuk hari biasa harganya memang seperti itu. Tetapi kalau bulan puasa kemungkinan naik, karena semua kebutuhan bahan pokok kan semuanya juga naik. Paling berkisar naik seribu rupiah lah untuk sebungkus Toge Panyabungan,” jawab Pak Hollad yang berjualan sejak pukul 11.00 WIB hingga 18.30 WIB ini.

Larisnya panganan Toge Panyabungan tentu membawa berkah bagi Pak Hollad. Bayangkan, setiap harinya ia mampu mengumpulkan omzet bekisar Rp 350 – 400 ribu hasil dagangannya. Terlebih lagi bila bulan puasa, pria yang sudah berjualan Toge Panyabungan musiman sejak 1998 ini mengaku hasil dagangannya bisa menembus Rp1 – 2 juta per harinya. “Kalau di bulan puasa omzetnya memang cukup banyak, bahkan kami sampai kerepotan melayani pembeli. Tetapi hasilnya ya Alhamdulillah,” bilangnya lagi.

Hal itu pula membuat Pak Hollad Nasution bersama istrinya, Deli Hasna boru Harahap mampu memiliki rumah sendiri serta dapat membiayai pendidikan bagi sepasang anak kesayangannya. Bahkan putri sulungnya, Rizky Andriani boru Nasution saat ini tengah mengenyam bangku kuliah masuk semester IV di Universitas Prima. Sedangkan si bungsu, Zulkifli Nasution masih duduk di bangku SMA. Padahal bila melihat pekerjaan Pak Hollad yang dahulunya bekerja sebagai kenek bus ALS, maka profesinya sekarang dengan hanya berjualan Toge Panyabungan dianggap menjadi berkah. “Syukur Alhamdulillah, ganti profesi dari kernet menjadi pedagang es telah membawa berkah,” tandas Pak Hollad sumringah. (Oleh : cw-zulfadli siregar)
Sumber : medanbisnisdaily.com

Comments

Komentar Anda

One comment

  1. Wah… Pak Hollad ini langganan kami.. Memang rame kali kalo dah bulan puasa.. Awak sampe capek nunggu giliran diladeni..
    Tapi gak apa-apa, karena si bapak, dan istrinya melayani pembeli dengan ramah dan adil. Siapa duluan datang, duluan dapat..
    Tetap semangat Pak Hollad!!

Silahkan Anda Beri Komentar