Home / Artikel / URGENSI NIAT BAKAL CALON KEPALA DAERAH DALAM PERSFEKTIF SOSIOLOGI AGAMA

URGENSI NIAT BAKAL CALON KEPALA DAERAH DALAM PERSFEKTIF SOSIOLOGI AGAMA

 

 Oleh : Moechtar Nasution

 

Tinggal hitungan bulan lagi pilkada Madina akan di ”lounching”kan dan diperkirakan hari H-nya digelar pada pusaran bulan Desember tahun ini. Riak-riak pembicaraan warga masyarakat sudah terasa dan belakangan ini menghangat seiring dengan pendaftaran beberapa orang bakal calon kepala daerah ke beberapa partai politik. Sudah dipastikan ada beberapa putra terbaik Madina yang sudah mengembalikan formulir pendaftaran kepartai politik. Sementara yang lain masih menunggu konfirmasi lebih shahih apakah akan mendaftar atau tidak.

Masih ada waktu tersisa beberapa bulan lagi untuk para bakal calon dan bagi yang berminat menjadi bakal calon untuk menimbang-nimbang kembali niatnya apakah sudah benar-benar ikhlas untuk memajukan Madina kedepan atau jangan-jangan memiliki motif  lain yang terselubung? Benarkah sudah siap mendharma baktikan tenaga, pikiran dan waktu bagi masyarakat atau hanya sekedar  ikut-ikutan trend politik kontemporer.

Fenomena yang berkaitan dengan pemerintahan mulai eksekutif, legislatif hingga yudikatif dewasa ini kerap menyita perhatian publik. Tentu saja sorotan masyarakat lebih dominan menguliti kepemimpinan itu sendiri. Porsi besar pemberitaan lebih didominasi kasus penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan (abuse of power) seperti korupsi, perkelahian sesama anggota DPR, kisruh partai, dan deretan kasus lainnya.

Jika dikonklusikan, secara sosiologi agama maka penyebabnya tidak lain berawal dari lemahnya benteng moral untuk menahan godaan hawa nafsu. Ini memiliki hubungan erat dengan tingkat spiritualitas, keimanan dan ketaqwaan Godaan kekuasaan bisa membutakan mata dan mata hati, godaan itu bisa juga menutup telinga dan nurani. Dan ini adalah embrio dari cacat awal yang membuat kepemimpinan mengandung resiko dan resistensi.

 Terjadinya kontroversi pradigmatik timbul dari konsep yang ditawarkan akan tetapi tidak sesuai dengan realita empiris. Das sellon dan Das sein (antara harapan dan kenyataan) yang diujungnya nanti akan berakibat terpinggirkannya moralitas, integritas, dan komitmen. Jurang ini semakin menguak terlebih lagi visi misi yang sejatinya merupakan “kitab suci” hanya akan menjadi pengisi laci. Sama sekali kita tidak berharap itu terjadi karena dikotomi yang tercipta akan membawa dampak luar biasa sehingga kajian tentang kehidupan masyarakat tak lagi berkenaan dengan persoalan adab dan kebaikan akhlak, melainkan sudah beralih ke persoalan hubungan fungsional atau interdependensi antar satuan-satuan sosial dan keefektifannya yang difungsikan untuk menjamin daya survival. Dikotomi ini juga akan melahirkan perubahan pradigma yang secara empirisnya nanti jelas terlihat dalam pengalihan wacana tentang what is right and what is wrong ke wacana tentang what is actually happening and why does it happen, yang bersiterus ke persoalan how to make it happen.

Untuk mewujudkan ekspektasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, kita membutuhkan kehadiran para pemimpin yang memiliki kapasitas, kapabilitas, akuntabilitas, integritas tinggi serta pengalaman. Ilmu kepemimpinan jelas mensyaratkan kemampuan, pertanggungjawabab dan komitmen namun pengalaman menjadi penting untuk diikutkan karena pengalaman jelas melahirkan kematangan, kedewasaan dan kearifan. Pengalaman bisa juga merupakan bukti kesanggupan dalam menghadapi cobaan dan tantangan. Masyarakat Medan mengistilahkannya dengan sebutan “sudah ditanak”. Pengalaman ini juga dibutuhkan mengingat realitas kehidupan  bangsa hampir diseluruh level kepemimpinan sekarang ini sedang dilanda krisis kepemimpinan sehingga dengan bekal pengalaman yang ada diyakini akan menciptakan perbaikan dan perubahan.

Kita tidak berharap pemimpin Madina kedepan diperoleh dari hasil pencitraan dan tepe (tebar pesona) semata. Berlagak seperti pro-rakyat, akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian adanya. Di balik itu semua tersimpan niat yang tidak tulus mensejahterakan rakyat. Kepemimpinan yang merakyat itulah yang dibutuhkan Madina, kepemimpinan yang lahir dari keihklasan dan kesederhanaan.

Syekh Ahmad bin ‘Athaillah dalam kitabnya Al-Hikam, menyatakan : “Al A’malu shuwarun qaimatun wa arwahuhah wujudu sirri al ikhlash fiha” (amal perbuatan merupakan kerangka yang tegak sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia ikhlas dalam perbuatan tersebut). Dari ungkapan di atas jelas sekali untuk mencapai sebuah amal yang bernilai tinggi maka perlu diperbaiki jiwa atau ruhnya yaitu ketulusan dan keikhlasan. Ini menunjukkan keikhlasan diposisikan sebagai barometer untuk mengukur kualitas sebuah perbuatan kendatipun setiap perbuatan manusia pasti dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam bisa berupa motivasi yang lahir dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan faktor dari luar bisa berupa dorongan dari orang-orang di sekitar atau bisa juga berupa sasaran atau tujuan yang hendak dicapai. Namun dari kedua hal tersebut tampaknya faktor dari luar merupakan “panglima perang” atau penentu awal suatu kegiatan. Sebab motivasi dan semangat kerja seseorang terkadang membara jika ada dorongan dari luar, khususnya terkait dengan tujuan yang diinginkan. Sehingga dari tujuan itulah maka perbuatan seseorang akan berbeda dengan perbuatan orang lain.

Dalam melakukan sesuatu, banyak orang berorientasi jangka pendek dan ada pula yang diprioritaskan untuk jangka panjang. Disadari atau tidak, seluruh umat manusia bersepakat bahwa tujuan akhir segala perbuatan bermuara pada pencapaian kebahagiaan, atau dalam bahasa Ibnu Khazm, seorang pemikir dan sosiolog Islam bahwa tujuan yang dikejar manusia adalah lepas dari penderitaan.

Dan tentu saja kebahagiaan abadi hanyalah milik Allah Aza Wajala sehingga setiap pekerjaan manusia hendaknya selalu ditujukan kepada Allah semata melalui orientasi kegiatan yang bersifat ibadah. Pekerjaan termasuk menjadi kepala daerah harus dimaknai sebagai ibadah. Dan lagi-lagi keikhlasan ditemukan disini karena jelas syarat diterimanya ibadah harus ikhlas. Keikhlasan memang memiliki korelasi dengan niat. Jika keikhlasan itu sudah dimiliki, yakin dan percaya perjalanan kepemimpinan  akan kondusif dan sejuk.

Disisi lain ibadah atau pekerjaan yang murni tertuju kepada Allah tampaknya sangat sulit diaplikasikan mengingat dalam diri manusia terdapat dorongan naluri untuk mencari kenikmatan. Sangat jamak ditemukan bahkan menjurus pada kenikmatan sesaat yang kerap menyesatkan. Dengan kata lain, tujuan selain Allah masih sering (jika tidak berani mengatakan selalu) menghiasi benak manusia. Setiap perbuatan itu memang sangat tergantung niatnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “‘Innama al-a'malu bi al-niyat.”. Untuk itu sangat diharapkan sekali agar semua bakal calon membersihkan niatnya sehingga bisa menemukan keikhlasan dalam mengikuti setiap tahapan demi tahapan pilkada ini.

Penting rasanya sebagai pemilik suara, kita pertanyakan kembali niat maupun motivasi dari para bakal calon ini dan orang-orang yang akan sebentar lagi menjadi bakal calon, sehingga kedepan nanti cita-cita tentang Madina yang Madina (civil society) atau masyarakat bhaldatun toyyibah wa rabbun ghafur bisa diwujudkan. Apapun visi misinya dan apapun programnya tentu saja semua harus berdasar dan diawali dengan niat. Niat wajib disterilisasi karena ini dijadikan ikatan yang sifatnya fundamental, suci, luhur dan permanen antara manusia dengan tuhan. Mengikat dan memaksa untuk selalu tunduk dan patuh pada niat itu. Apabila niatnya positif, niscaya nanti hasil yang akan di dapat juga positif, dan yang paling penting sikap dan kebijakannya setelah terpilihpun harus tetap positif yakni untuk kepentingan rakyat.

Niat mendorong lahirnya tindakan manusia diseluruh sektor kehidupan termasuk didalamnya tindakan dalam proses pencalonan kepala daerah ini sebab  niat merupakan maksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat memperjuangkannya. Al-Khathabi menyebut niat sebagai maksud mengerjakan sesuatu dengan hati  dan menjatuhkan pilihan untuk melakukan hal itu.

Niat selanjutnya jadi panduan dan pedoman dalam proses berikutnya guna mengambil peran dan sikap yang akan menentukan perilaku untuk mencapai tujuan sedangkan tujuan itu sendiri adalah menurut Hasan Al- Banna, tokoh pendiri Ikhwanul Muslimin adalah dasar yang mendorong langkah disepanjang perjalanan. Sikap merupakan suatu ekspresi seseorang yang merefleksikan rasa suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sama halnya dengan niat maka sikap seseorang pasti berhubungan dengan perilaku, sikap positif akan menyebabkan perilaku positif terhadap suatu objek yang hendak dituju.

Sekali lagi  semua memang harus dikembalikan keawal bahwa apapun yang dilakukan harus didasari dan diawali dengan niat yang baik. Mudah-mudahan Insha Allah terwujud.***

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar