Home / Seputar Madina / Warga 6 Kecamatan Mengeluh, Pelayanan Publik Madina Tak maksimal

Warga 6 Kecamatan Mengeluh, Pelayanan Publik Madina Tak maksimal


PANYABUNGAN :
Setidaknya banyak keluhan yang dilontarkan pemerintah dan warga dari enam kecamatan di wilayah Mandailing Julu kepada anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) asal daerah pemilihan (dapil) II yang memusatkan kegiatan resesnya di aula kantor Camat Puncak Sorik Marapi.

Lima anggota dewan asal dapil II itu, M Jafar Rangkuti (Partai Golkar), Samsul Anwar Lubis (PKS), Zubeir Lubis (PKB),Rahmad Rizki Daulay (Demokrat) dan Siti Aminah Ismail Lubis (Republikan). Sementara dua anggota dewan lainnya,Zulfahri Batubara (PBR) dan Abdul Kholil Nasution tidak hadir.

Keluhan itu berupa ketidakpuasan pelayanan publik pemerintah saat ini. Soal kesehatan, pendidikan dan insfrastruktur masih dikeluhkan warga di enam kecamatan di wilayah itu,masing Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Tambangan, Kotanopan, Ulupungut, Muarasipongi dan Pakantan.

Pemkab Madina dan Pemprovsu diminta memprioritaskan pembangunan pendidikan, pembangunan kesehatan, serta menyiapkan sarana infrastruktur. Sebab dengan tiga aspek pembangunan ini sangat membantu masyarakat di distrik dan kampung-kampung.

Disamping akses pendidikan dan kesehatan sebagai cerminan kualitas hidup dan modal peningkatan masyarakat, aparat pemerintah kecamatan dan warga juga masih dihadapkan kepada permasalahan PT Sorik Mas Mining (SMM), Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), dan hutan lindung yang perlu dicarikan solusinya.

Camat Puncak Sorik Marapi, Yahya, menjelaskan pembangunan di desa- desa di kaki Gunung Sorik Marapi itu, masih jauh tertinggal,sehingga ke depan perlu mendapat perhatian dari pemerintah.

“Saya menyadari untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, namun berdasarkan perkembangan situasi, kondisi serta dikaitkan dengan sumber daya perlu diperhatikan prioritas pembangunan ke depan secara spesifik,” katanya.

Warga kecamatan itu juga berharap agar jalan kabupaten mengelilingi kawasan Sibanggor mulai dari Tano Bato hingga Pasar Maga diperlebar,karena kondisinya saat ini terlalu kecil dan sudah tidak memungkinkan lagi menampung arus kenderaan yang terus meningkat.

Bahkan warga disana berharap p emerintah daerah segera memperbaiki jalan menghubungkan Puncak Sorik Marapi,karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan di beberapa titik badan jalan ditutupi semak belukar sehingga sangat rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

“Badan jalan menghubungkan Desa Huta Baringin Jae- Desa Huta Baringin Julu yang panjangnya dua kilometer, kini kondisinya juga sudah hancur,sehingga apabila musim penghujan badan jalan tidak bisa lagi dilalui kendaraan mengakibatkan anak-anak yang ingin bersekolah ke luar desa terpaksa jalan kaki sejauh dua kilometer,” kata Kepala Desa Huta Baringin Julu.

Camat Kotanopan Awaluddin Lubis bersama dua tokoh masyarakat, Amin Lubis dan Amiruddin Nasution, berharap agar pembangunan Pasar Kotanopan dapat ditindaklanjuti dalam upaya meningkatkan perekonomian warga.

Mereka juga meminta anggota dewan agar dapat memperjuangkan pengadaan truk sampah, mobil pemadam kebakaran, pembangunan lapangan bola, jembatan gantung menuju lima desa di seberang Batang Gadis dan pemindahan lokasi kantor Camat Kotanopan agar lokasinya dapat dijadikan lokasi parkir.

Perwakilan warga juga mengungkapkan berbagai persoalan pendidikan yang perlu segera ditindak lanjuti pemerintah daerah. Tidak terkecuali sarana transportasi berupa jembatan gantung ke sentra produksi warga Kelurahan Tamiang yang sudah hancur, namun belum mendapatkan sentuhan dari pemerintah daerah. (mag)
Sumber : Beritasore

Comments

Komentar Anda