Rabu, 4 Mar 2026
light_mode

FILM “BIOLA NAMABUGANG” KEMBALI MENJADI OBJEK PENELITIAN

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Rabu, 26 Feb 2014
  • print Cetak

PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Popularitas film daerah berbudaya Mandailing, “Biola Namabugang”, belum juga memudar sejak dirilis akhir tahun 2011 lalu. Film yang menceritakan tokoh Kareen yang diperankan oleh Aulia Sani tersebut baru-baru ini kembali menjadi penelitian tesis S2 di salah satu universitas di Medan. Boru Ritonga, mahasiswa itu, menyebut tertarik pada film produksi Tympanum Novem Films tersebut karena muatan budaya dan jenakanya. “Saya mengangkat masalah ekstrinsik dalam film tersebut, terutama menyangkut muatan budaya Mandailing,” katanya. “Banyak hal menarik di dalamnya, terutama keunikan budaya yang melekat pada tokoh Safii dan Maliki,” tambahnya antusias.

Film “Biola Namabugang” memang menceritakan tokoh Safii dan Maliki yang terisolasi dari kehidupan masyarakat sejak kecil. Mereka lahir dan besar di hutan dan jauh dari sentuhan modernisasi. Itu karena orang tua keduanya melarikan diri ke hutan karena pernikahan satu marga yang ditentang adat. Sentuhan dan konflik budaya makin intens terutama setelah hadir tokoh Kareen, seorang peniliti dari perguruan tinggi luar negeri. Keragaman benturan budaya modern dan tradisional itu yang melahirkan kejenakaan. Itu yang mendominasi seluruh cerita dan menimbulkan daya tarik.

Film ini memang bukan sekedar film komedi badut-badutan. Menurut sutradara sekaligus penulis skenarionya, Askolani Nasution, sejak awal ia memang mengemas komedi dalam film ini secara bernas, sarat makna. “Saya tak ingin memancing tawa penonton hanya dengan adegan-adegan yang sifatnya murahan,” katanya. Ia lalu menambahkan, sebuah film, apapun genrenya, sepatutnya tetap menguji integritas kehidupan manusia, sarat makna, sedapat mungkin menimbulkan kontemplasi berpikir bagi penonton. Film harus mengubah cara berpikir orang, tambahnya.

Memilih film “Biola Namabugang” sebagai objek penelitian ilmiah memang bukan sekali ini saja. Tahun lalu, film yang dibuat dengan dana tujuh juta ini juga pernah menjadi objek penelitian studi S2 di Jurusan Humaniora Universitas Andalas. Lucunya, mahasiswa tersebut bukan penutur bahasa Mandailing. Karena itu, masih menurut Askolani, sebuah budaya acapkali lebih menarik bagi peneliti luar. Peneliti seperti itu biasanya lebih jernih dan logis memposisikan dirinya. Karena itu, kajian tentang Mandailing lebih marak di luar kawasan ini. Arsip-arsip tentang sastra dan budaya Mandailing, misalnya, justru lebih lengkap di universitas luar negeri.

Menanggapi itu, kita sepatutnya merasa miris. Ketika orang diberbagai belahan dunia ini bersemangat membicarakan entitas Mandailing, di kawasannya sendiri ia seperti dilupakan. “Orang, kalau mau mencari buku Dua Sajoli, malah larinya ke universitas Australia. Di sini malah tak ada,” tandas Askolani.

Karena itu, Tympanum Novem Films, setiap tahun secara massif memproduksi film-film berkarakter Mandailing. Selain film “Biola Namabugang”, komunitas ini juga telah memproduksi film berkarakter daerah lainnya, yakni “Tias 1”, “Tias 2”, “Lilu 1”, “Lilu 2”, dan “Senandung Willem”. Saat ini juga sedang dalam proses produksi dua film lainnya, “Si Gotap Ulu” dan “Holong Natarhalang”.

Menanggapi hal itu, Holik Nasution, yang juga anggota komunitas Tympanum Novem Films, mengatakan bahwa usaha-usaha tersebut merupakan usaha memperkenalkan entitas Mandailing ke berbagai kalangan. “Sebagus apapun budaya yang kita miliki, tanpa publikasi yang terkemas baik, tidak akan membuat orang bangga dengan budaya yang kita miliki,” katanya

Reporter : Dahlan Batubara

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Batang Natal Tolak Kehadrian PT Inanta

    Warga Batang Natal Tolak Kehadrian PT Inanta

    • calendar_month Senin, 13 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Penduduk Kecamatan Batang Natal menolak kehadiran PT. Inanta di wilayah itu. Alasannya, kawasan itu adalah daerah rawan bencana, terutama banjir dan longsor. Selain alasan itu, warga juga tidak ingin muncul masalah akibat ekspansi perusahaan kapitalis yang sejauh ini marak di kawasan Pantai Barat yang tidak jelas penyelesaiannya dan mengakibatkan rakyat selalu dalam […]

  • Mandailing Indonesia Setuju Iktiraf Tortor Mandailing dan Gordang Sambilan

    Mandailing Indonesia Setuju Iktiraf Tortor Mandailing dan Gordang Sambilan

    • calendar_month Rabu, 11 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Etnis Mandailing di tanah leluhur, Sumatera Utara, Indonesia menyetujui perjuangan etnis Mandailing di Malaysia dalam pengajuan iktiraf Tortor Mandailing dan Gordang Sambilan sebagai warisan kesenian Etnis Mandailing untuk disetarakan dengan kesenian etnis lain di Malaysia. Persetujuan itu muncul dalam pertemuan antara pengurus Persatuan Halak Mandailing Malaysia (PHMM) dengan beberapa unsur, di Sopo […]

  • Polisi Temukan Ladang Ganja 10 Ha di Hutan Kotanopan

    Polisi Temukan Ladang Ganja 10 Ha di Hutan Kotanopan

    • calendar_month Senin, 10 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jika selama ini hutan Desa Huta Tua Kecamatan panyabungan Timur terkenal dengan ladang ganja, kali ini beralih ke hutan Desa Simandolam Kecamatan Kotanopan. Polres Mandailing Natal (Madina) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Madina berhasil menemukan ladang ganja seluas 10 hektar siap panen dan 1 hektar yang baru disemai […]

  • Marhata-Hata Dalam Upacara Marhorja di Nagari Kota Nopan, Rao Utara, Pasaman (2-selesai)

    Marhata-Hata Dalam Upacara Marhorja di Nagari Kota Nopan, Rao Utara, Pasaman (2-selesai)

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      2) Pelengkap dalam Marhorja (Pernikahan) Ada empat jenis bahan dan hewan penting di dalam perlengkapan marhorja yaitu: pira manuk na nihobolan (telur ayam), manuk (ayam), hambeng (kambing), dan horbo (kerbau). Tingkat mangupa dalam marhorja kecil dan mendasar paling sedikit harus memenuhi bahan penting sebutir telur ayam, tingkat kedua harus mengandung ayam, tingkat ketiga harus […]

  • Aishah Schwartz, Hidayah dan Burkini

    Aishah Schwartz, Hidayah dan Burkini

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu dekade silam, Aishah Schwartz memutuskan menjadi Muslim. Putusan ini diambilnya, setelah 41 tahun tak pernah tahu apa itu Islam dan Muslim. Kini, ia kian memahami mengapa Allah memberikan hidayah kepadanya. “Subhanallah, aku bersyukur menjadi Muslim,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Rabu (13/11). Sebelum menjadi Muslim, Aishah gemar berenang. Ia bahkan rutin mengunjungi laut Merah […]

  • 20 Desember, Kiblat Masjid Diukur

    20 Desember, Kiblat Masjid Diukur

    • calendar_month Senin, 13 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK; Sekitar 60 masjid di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), akan diukur arah kiblatnya, Senin (20/12) mendatang. Hal ini sesuai dengan pelaksanaan musyawarah beberapa najir masjid se Kecamatan Sipirok, yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama Sipirok, di Balai Desa Pasar Sipirok, Kamis (9/12) lalu. Kepala Kantor Kementerian Agama Sipirok, Drs Jindsar Tamimi, kepada METRO, […]

expand_less