Kamis, 12 Mar 2026
light_mode

In Memoriam H. Samad Lubis, SE

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Apr 2016
  • print Cetak
Almarhum H. Samad Lubis,SE

Almarhum H. Samad Lubis,SE

Catatan Kecil : Askolani Nasution

“Hal yang paling membuat saya terharu dan selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia tahun 2008. Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu bertanya apa masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah. Saya lihat beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan.

Akhir tahun 2005, ketika saya memenangkan Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional, H. Samad Lubis, SE, yang ketika itu menjadi Kadis Pendidikan Mandailing Natal, memanggil saya ke ruang kerjanya. Ia bertanya apa saya bisa membuat majalah pendidikan. Saya segera mengiyakan, karena dari dulu saya terobsesi membuat media seperti itu.

Beliau segera meminta konsepnya, mulai dari ukuran, warna, tampilan, rubrikasi, hingga kontent. Pendeknya, media dalam bentuk siap cetak. Hanya empat hari, saya kembali menemui beliau dan menunjukkan format yang telah disiapkan. Beliau langsung setuju. Lalu segera dimasukkan dalam APBD 2006.

Kesanku ketika itu, beliau amat percaya kepada orang, karena tak sedikitpun ada perubahan dari konsep yang saya buat. Itulah awal pertama kali saya berhubungan tugas dengan beliau hingga tahun 2009, ketika beliau mencalonkan diri menjadi wakil bupati Mandailing Natal.

Saya merasakan bahwa beliau amat menghargai kami para awak redaktur Buletin “Gema Pendidikan” itu. Bertemu di jalan saja beliau langsung berhenti dan menegur duluan. Justru kami yang merasa segan. Tiap kali berpapasan di kantor Dinas Pendidikan, kami langsung di panggil ke ruangannya, lalu bercerita banyak tentang persoalan dan target pendidikan di daerah ini, mulai dari angka melek huruf, APK, peningkatan mutu guru, penggenjotan siswa berprestasi, dan lain-lain.

Konsepnya yang paling menonjol seingat saya adalah bagaimana meningkatkan jumlah SMK harus lebih banyak dari jumlah SMA. Sebab, menurut beliau, untuk persaingan di masa depan, lebih dibutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi kewirausahaan, karena angka lulusan SLTA yang memasuki dunia kerja jauh lebih banyak dari pada lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya ingat betul, ketika itu beliau menargetkan bahwa dalam lima tahun ke depan, jumlah SMK harus 70 persen dan SMA 30 persen, berbanding terbalik dengan kondisi saat itu.

Selain itu, hal yang paling inovatif saya kira adalah usaha beliau untuk mengembangkan potensi anak-anak berbakat. Karena beliau meyakini bahwa potensi kecerdasan justru lebih banyak lahir dari dari daerah. Karena itu, waktu itu beliau menggagas Pelatihan Fisika bekerja sama dengan Lembaga Fisika Indonesia yang digagas Prof. Johannes Surya. Beberapa anak-anak cerdas dikumpul, lalu diberi pelatihan Matematika dan Fisika. Dan hasilnya amat signifikan. Banyak ajang lomba di tingkat provinsi dan nasional yang segera didominasi oleh anak-anak yang berasal dari Mandailing Natal. Apalagi anak-anak berbakat itu dilatih secara simultan oleh guru-guru terbaik pada masa itu.

Para guru juga diberi dukungan yang signifikan untuk mengembangkan potensinya. Kami para guru berprestasi diperkenalkan sedemikian rupa kepada publik dalam berbagai kesempatan. Itu reward yang luar biasa saya kira. Tahun 2007 misalnya, saya bahkan diberi reward 20 juta karena terpilih menjadi guru berprestasi tingkat SMA/SMK. Saya juga ditawari umroh, tetapi saya tolak karena belum cukup siap rasanya ketika itu. Saya juga ditawari beasiswa S2 yang sempat saya jalani beberapa bulan saja di UBH. Saya keluar karena tidak betah saja. Saya yakin, hingga hari ini, tidak pernah ada hadiah sebesar itu untuk para guru berprestasi.

Reward serupa juga dirasakan oleh teman saya, Ahmad Syukri Lubis, pemenang Medali Emas Nasional untuk Media Pembelajaran Berbasis TIK. Ahmad Syukri Lubis diberi ruang untuk mengajar di SMA Plus Kotanopan ketika itu, meskipun yang bersangkutan hanya lulusan STM. Itu menunjukkan bahwa, bagi beliau, kompetensi jauh lebih penting dari pada ijazah. Ahmad Syukri bercerita kepada saya, bagaimana ia merasa amat dihargai setiap kali bertemu dengan H. Samad Lubis, meskipun dalam kehidupan sehari-hari. Penghargaan yang dilakukannya saya kira tulus, tanpa basa-basi layaknya pejabat lain ketika itu.

Hal yang paling membuat saya terharu dan selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia tahun 2008. Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu bertanya apa masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah. Saya lihat beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan. Itu amat berkesan bagi saya. Tentu karena saya cuma guru rendahan ketika itu, dan beliau secara hirarkis beberapa tingkat kedudukannya di atas saya. Orang seperti saya mungkin tidak akan dianggap ada oleh pejabat setingkat beliau, tetapi beliau tampak tulus memperlakukan kami para guru berprestasi.

Askolani Nasution

Askolani Nasution

Banyak tugas-tugas inovasi yang diberikan kepada kami. Misalnya membuat video profil pendidikan Mandailing Natal. Semua konsepnya diserahkan kepada kami, dan semua konsep yang kami tawarkan tidak pernah ditolak. Ketika kami datang memperlihatkan profil yang kami buat, beliau memanggil semua staf untuk menyaksikan bersama, menunda semua pekerjaan dulu. Kami ditawari berbagai makan dan minum sambil terus memuji-muji pekerjaan kami di depan stafnya. Saya kira, itu bentuk reinforcement yang luar biasa untuk membuat orang bisa total bekerja.

Tahun 2013, ketika kami menggarap film “Senandung Willem”, beliau juga beberapa kali datang melihat-lihat. Beliau seperti tim bagi kami karena dapat lentur bercerita tentang berbagai persoalan seni, tanpa batas-batas status sosial. Padahal beliau Asisten Sekdakab ketika itu, dan kami cuma para pekerja film. Duduk bersama di bawah kayu, emperan rumah, atau tempat apa saja tanpa sungkan. Itu hal yang luar biasa saya kira, karena sulit bertemu tokoh yang mau mensejajarkan diri dengan orang-orang rendah seperti kami.

Terlalu panjang jadinya tulisan ini, kalau harus saya runut semua segala penciptaan kesan baik yang diperankan H. Samad Lubis, SE kepada kami orang-orang kecil. Tulisan ini tanpa pretensi apa pun, hanya sebatas memperkenalkan sisi lain dari pribadi seorang mantan Kadis Pendidikan Mandailing Natal.

Semoga beliau mendapat tempat yang mulia di hadapan Allah SWT, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Pesona kerendah-hatian beliau kiranya dapat menjadi teladan bagi anak-anak yang ditinggalkan, juga bagi kita semua untuk dapat sedikit merendahkan kedudukannya di hadapan orang-orang kecil yang tak dicatat sejarah. (penulis kini beraktifitas sebagai sutradara)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • H. Ayyub Sulaiman Lubis, Perintis Kemerdekaan Asal Kotanopan

    H. Ayyub Sulaiman Lubis, Perintis Kemerdekaan Asal Kotanopan

    • calendar_month Senin, 21 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Askolani Nasution Tahun 1990, saya mewakili orang tua dalam Ramah Tamah dengan para keluarga Perintis Kemerdekaan asal Sumatera Utara di Medan, bertemu dengan H. Ayyub Sulaiman Lubis. Lelaki berperawakan kecil yang menjadi Ketua Persatuan Persatuan Perintis Kemerdekaan Sumatera Utara setelah H. Mahals meninggal. Tak banyak bicara. Bersama saya waktu itu ada Muhammad TWH, […]

  • Awas Joki CPNS

    Awas Joki CPNS

    • calendar_month Selasa, 14 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    *18.432 Pelamar Rebut 324 Kursi CPNS Medan Informasi dihimpun Berita di lapangan, Selasa (14/12), sejumlah peserta seleksi CPNS tetap saja mengkhawatirkan terjadi kecurangan dalam rek-rutmen CPNS ini. ‘Pengamanan naskah ujian harus dilakukan secara ketat, jangan sampai bocor. Kemudian, harus juga diwaspadai keberadaan joki CPNS saat ujian berlangsung,’ ujar Irma, salah sorang calon peserta seleksi CPNS […]

  • Usut Dugaan Korupsi Milwan

    Usut Dugaan Korupsi Milwan

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) DPR RI diminta mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung dan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum segera menyelidiki kasus dugaan korupsi mantan Bupati Labuhan Batu T Milwan sebesar Rp 30,2 miliar yang sudah empat tahun tidak ditindaklanjuti penyidikan, penyelidikan dan pemeriksaannya. Permintaan tersebut disampaikan politisi PAN Fakhruddin Pohan […]

  • Tuntut Diangkat PNS, Perangkat Desa Blokir Jalan Raya Porong

    Tuntut Diangkat PNS, Perangkat Desa Blokir Jalan Raya Porong

    • calendar_month Kamis, 11 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDOARJO-: Ratusan aparat desa di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur berunjuk rasa dengan cara memblokir Jalan Raya Porong dengan tuntutan supaya mereka diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Salah seorang koordinator aksi Khoirul M, Kamis (11/11) mengatakan aksi ini dilakukan untuk memenuhi kesejahteraan perangkat desa seluruh nusantara. “Selain diangkat menjadi PNS, kami juga menuntut supaya masa […]

  • SelainTemuan BPK RI, Jaksa Juga Temukan Dugaan Kerugian Negara di Pasanggrahan Kota Nopan

    SelainTemuan BPK RI, Jaksa Juga Temukan Dugaan Kerugian Negara di Pasanggrahan Kota Nopan

    • calendar_month Kamis, 10 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Selain temuan Badan Pemeriksa Keuangan RI Provinsi Sumatera Utara ( BPK RI ) Sumut senilai Rp.96.743.134.53, ternyata Kejaksaan Negeri Mandailing Natal ( Madina ) juga menemukan dugaan kerugian negara di proyek konservasi pembangunan pasanggrahan Kota Nopan. Temuan kejaksaan lewat tim ahli yang di turunkan menghitung potensi kerugian itu justru lebih pantastis […]

  • Digugat, Gambar Mengerikan di Bungkus Rokok

    Digugat, Gambar Mengerikan di Bungkus Rokok

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Menurut para penggugat, gambar gigi busuk, jenazah, bisa membuat konsumen rokok depresi. Lima perusahaaan rokok menuntut Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) karena tidak setuju dengan undang-undang baru yang mengharuskan mereka memasang gambar peringatan kesehatan di bungkus rokok. Menurut mereka, hal tersebut melanggar kebebasan berekspresi sebagai warga negara dan bisa membuat mereka kehilangan […]

expand_less