Kamis, 19 Mar 2026
light_mode

Lagu Mandailing Tak Seistiqomah Lagu Toba

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 28 Jul 2016
  • print Cetak

KOLOM

Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

Dahlan Batubara

Dahlan Batubara

Para pencipta lagu-lagu Toba itu sangat setia kepada bahasa Toba, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Toba.

Para pencipta lagu-lagu Minangkabau itu sangat setia kepada bahasa Minang, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Minangkabau.

Para pencipta lagu-lagu Karo itu sangat setia kepada bahasa Karo, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Karo.

Tetapi, para pencipta lagu-lagu Mandailing masa kini tak lagi setia kepada bahasa Mandailing, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Ketidaksetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah ketidakistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Mandailing.

Bahwa bahasa adalah elemen terluhur dari suatu bangsa, suatu etnis, suatu kaum. “Tidak ada elemen terluhur dari suatu bangsa selain bahasa” kata Ernst Moritz Ardnt.

Bahasa adalah hasil budidaya para orang-orang terdahulu selama berabad-abad dan diwariskan secara generasi ke generasi.

Orang-orang masa kini boleh-boleh saja berbahasa dari hasil pengasimilasian bahasa, hasil pengaruhisasian bahasa, perkawinanisasian bahasa dalam percakapan sehari-harin sebagai bahasa pasar. Tetapi, nyanyian tak boleh melibatkan diri atau mengorbankan diri dalam pengasimilasian- pengaruhisasian dan  perkawinanisasian bahasa itu, karena nyanyian adalah salah satu sub kebudayaan dari suatu etnis atau bangsa.

Kalau orang-orang mencakapkan “ho maia cintaku”, maka para pencipta lagu Mandailing tak seharusnya mencakapkan kata “cintaku” di dalam nyanyian yang mereka karyakan. Karena nyanyian adalah sub kebudayaan suatu etnis, karena nyanyain adalah sang penjaga kebudayaan suatu etnis.

Si penjaga tak boleh ikut mengorbankan diri dalam pengaruhisasian bahasa itu, karena si penjaga kebudayaan itu berposisi sebagai “kiper”.

Mempertahankan bahasa asli dari serbuan pengaruh bahasa lain bukanlah suatu perbuatan demodernisasi atau kekolotanisasi, atau bukan anti termutakhir, atau bukan anti yang terbaru.

Nyanyian tak boleh dikatakan nyanyian kolot atau tak gaul atau ketinggalan zaman jika bahasa di nyanyain itu mempertahakan bahasa asli kaumnya. Tidak..!!!. Sebab, nyanyian itu adalah jati diri kebudayaan, bukan barang mainan yang harus dikorbankan sesuai dengan selera pasar, selera kaula muda, selera perdagangan album lagu, selera pasar album Tapsel-Madina, selera nafsu komersialisme.

Tentu, mengadopsi kata atau kosa kata bahasa Indonesia atau bahasa asing ke dalam bahasa Mandailing sah-sah saja, wajar saja bahkan berhukum wajib, sepanjang kata atau kosa kata dimaksud tidak ditemukan di dalam bahasa Mandailing. Adopsi diperlukan agar bahasa Mandailing itu tidak kaku, tidak statis, bahkan dinamis dalam dinamika perjalanan kebudayaan Mandailing, agar bahasa Mandailing tak menyandera kebudayaan Mandailing dalam posisi stagnan atau di “katak dalam tempurung”-nya budaya Mandailing di cakrawala geliat ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Karena, bahasa Indonesia sendri juga berkewajiban mengadopsi bahasa daerah, bahasa Inggris, bahasa Arab hingga bahasa Sansekerta. Bahasa Indonesia harus mengadopsi kata “kuantitas” dari  “quantity”-nya Inggris; kata “ramadan” dari “ramadhan”-nya bahasa Arab.

Karena bahasa Indonesia sendri juga berkewajiban mengadopsi dari luar dirinya, maka bahasa Mandailing juga berkeharusan mengadopsi bahasa dari luar dirinya. Bahasa Mandailing harus mengadopsi kata “televisi” karena televisi dahulu kala tak ada di Mandailing, sehingga ketika tehnologi televisi datang di hadapan masyarakat Mandailing maka bahasa Mandailing juga harus mengadakan bahasa-nya dengan menyebutnya “televisi” atau “talevisi”.

Tetapi mengadopsi bukanlah menukar. Keduanya berbeda. Mengadopsi dilakukan disebabkan ketiadaan, kebelumadaan. Dari tiada menjadi ada. Karena belum ada, maka diadakan, sehingga ada. Sedangkan menukar itu dari ada menjadi ada, sudah ada tapi diadakan lagi dengan yang  lain.

Ketika para pencipta lagu memakai kata “sayang” dari bahasa Indonesia, maka pencipta lagu itu telah menukar kata, karena sudah ada kata “holong” di dalam bahasa Mandailing. Mereka telah menukar “horjami” dengan “pesta pernikahanmi”. Menukar bahasa sedemikian itulah yang menjadi takaran penilaian bahwa para pencipta lagu tak beristiqomah kepada bahasa Mandailing, tak setia kepada bahasa Mandailing di lagu yang mereka sebut lagu Mandailing atau lagu Tapsel-Madina.

Para pencipta lagu-lagu Mandailing masa kini itu sudah begitu familiar dengan “kasihsayangku tu ho”; “ulang siksa batinku” – “kerinduanku sabagas ni laut”; “apalagi dung sannari”; “percintaanta”; “pesta pernikahanmi” dan lain-lain yang menggantikan bahasa Mandailing dengan bahasa Indonesia.

Ketidakistiqomahan para pencipta lagu Mandailing terhadap bahasa Mandailing itu tak sesetia para pencipta lagu Toba, tak sesetia pencipta lagu Mingangkabau.

“Holong na ias dibahen ho / Mangarahut holong hi di ho / Roha na serep dipelehonho / Mangaririt rohaki di ho / Gomos do tangiangmu tu Tuhan I / Asa ho saut di ahu / Godang di bahenho nauli nadenggan / Tu damang dohot sisolhot I / Tagam si tutu dipatuduhonho / Burjumi tu natua-tuaki” kata si pencipta lagu Toba “Sirokkap ni Tondi”

“Bukiktinggi Koto Rang Agam oi andam oi / Mandaki janjang ampek puluah / Basimpang jalan ka Malalak / Sakik sagadang bijo bayam o andam oi / Sakik nan raso ka mambunuah / Diubek indak amuah cegak” kata si pencipta lagu Minang “Andam Oi”.

“Aso ma songoni / kejamna dirimu / sampai hati ma ho maninggalkon au” kata si pencipta lagu Mandailing (judul lagunya saya lupa, karena lagu ini sudah ada sejak saya masih kanak-kanak). “kejam”-“dirimu”-“sampai hati” dan kata “maninggalkon” bukanlah bahasa Mandailing.

Lalu, mengapa lagu-lagu Mandailing masa kini sudah terjerumus kepada kekacaubalauan bahasa? Percampuran dengan bahasa Indonesia? Ada apa dengan para pencipta lagu Mandailing masa kini? Ada apa dengan pencipta lagu Tapsel-Madina? Entahlah. Itu masih dari segmen bahasa, belum masuk sisi genre musik.

Yang pasti, para pencipta lagu Mandailing diharapkan agar kembali “bertaubat” saja agar nyanyian Mandailing kembali kepada pelukan budaya Mandailing, dan diyakini akan mampu menerobos pasar Nasional karena akan terasa “asing”, yang tentunya pula bukan bergenre dangdut, melainkan ketukan “sibaso”, ketukan “raja-raja”, ketukan “roba namosok” ketukan “batu magulang”. Memilki kaldu Mandailing, bukan kaldu dangdut.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD usulkan perampingan SKPD Madina

    DPRD usulkan perampingan SKPD Madina

    • calendar_month Rabu, 29 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Gemuknya’ SKPD (Satuan Kerja Perangkat daerah) Pemerintah Kabupaten Manndailing Natal (Madina) akan berdampak kepada pemborosan anggaran belanja sehingga perlu dirampingkan. Menurut anggota Fraksi Demokrat DPRD Mandailing Natal, Ali Mutiara Rangkuti, perampingan struktur organisasi di lingkungan Pemkab Madina perlu guna penghematan anggaran APBD. Jumlah SKPD di lingkungan Pemkab Madina saat ini sebanyak 47 unit […]

  • Rezeki di Lubuk Larangan Aek Pohon

    Rezeki di Lubuk Larangan Aek Pohon

    • calendar_month Minggu, 28 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Manndailing Online) – Lubuk larangan di Sungai Aek Pohon, Pidoli, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) dibuka untuk halayak umum, Minggu (28/4/2013). Daya tarik lubuk larangan benar-benar selalu memikat sejak dahulu. Ratusan penduduk Madina dari berbagai penjuru kecamatan tumpah ruah di sepanjang aliran sungai dan bergerombol dalam titik-titik lubuk. Mereka membawa jala. Tetapi ada juga yang […]

  • Golkar Tak Khawatirkan Hak Angket Pajak

    Golkar Tak Khawatirkan Hak Angket Pajak

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Politisi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, mengaku heran dengan para politisi DPR yang mencabut dukungannya dalam usulan hak angket pajak yang sedang bergulir di parlemen. Partai Golkar, kata Priyo, tidak merasa khawatir dengan adanya usulan hak angket mafia pajak tersebut. Padahal, ia melanjutkan, semula Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie disebut-sebut berkaitan dengan […]

  • Disangka Cakaran Harimau, Arni Lubis Warga Huta Padang Ternyata Dibunuh

    Disangka Cakaran Harimau, Arni Lubis Warga Huta Padang Ternyata Dibunuh

    • calendar_month Jumat, 10 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tersangka Paoji (32) Pelaku pembunuhan di Desa Huta Padang, Kecamatan Ulu Pungkut Mandailing Natal (Madina) akhirnya di tangkap polisi. Peristiwa sebelumnya sempat menggemparkan masyarakat, lantaran Korban seorang perempuan lansia bernama Arni Lubis (65) Tahun santer di terkam harimau. Jum’at (10/05/2024). Kapolres Madina AKBP Arie Sofandi Paloh membantah Arni (65) warga desa […]

  • Kementerian ESDM Diminta Tinjau Ulang izin PT SMGP

    Kementerian ESDM Diminta Tinjau Ulang izin PT SMGP

    • calendar_month Kamis, 4 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tokoh pemuda mendesak Kementerian ESDM meninjau ulang izin PT SMGP dalam eksploitasi panas bumi untuk pembangkit listrik. Desakan itu menyusul hasil investigasi Kementerian ESDM terhadap peneyabab keracunan warga Sibanggor di kawasan yang bersinggungan dengan sumur panas bumi yang dikelola PT SMGP. “Kita beri apresiasi kepada DPR RI dalam hal ini Komisi […]

  • Lembaga Pemikir Gerep Institute Berdiri di Madina

    Lembaga Pemikir Gerep Institute Berdiri di Madina

    • calendar_month Rabu, 14 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Satu lembaga pemikir atau think tanks berdiri di Mandaling Natal. Lembaga ini bernama Gerep Institute. Lembaga ini akan bekerja melakukan kajian-kajian strategis di berbagai sektor : politik, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Hasil kajian bisa dimanfaatkan sebagai reperensi bagi semua pihak yang membutuhkan, termasuk pemerintah. Pendirian Gerep Institute beranjak dari […]

expand_less