Rabu, 18 Mar 2026
light_mode

Intel Melayu, Belajarlah Kepada Zulkifli Lubis Muda (bagian 2-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 10 Feb 2017
  • print Cetak

Zulkifli Lubis

Zulkifli Lubis tak punya gelar segambreng macam Ph.D., atau master dari kampus-kampus bergengsi. Kuliah di sebuah kampus saja tidak pernah. Pendidikan SMA-nya pun tak jelas, kerena Perang Pasifik telah menutup sekolah pemuda cerdas ini. Dia menghabiskan masa mudanya di zaman Jepang untuk belajar jadi intel militer dan tak melanjutkan SMA-nya.

"Sejak awal 1943 ia juga menjadi salah seorang pemuda Indonesia pertama yang terpilih sebagai taruna yang tergabung dalam PETA (baca: Tentara Sukarela Pembela Tanah Air). Di PETA, Lubis berkenalan dengan untuk pertama kalinya dengan dasar-dasar intelijen. Di Tangerang, yang terletak sedikit di luar kota Jakarta, Tentara Jepang mendirikan versi lokal sekolah intelijen militer Nakano Gakko yang terkenal itu,” tulis Ken Conboy.

Pertengahan 1944, Lubis dikirim ke Singapura. Di sana ia belajar lebih banyak dan lebih intensif lagi soal intelijen. Seorang perwira Jepang kerap bercerita padanya bagaimana aksi intelijen Perancis menaklukan Indocina.

Ken Conboy menulis bagaimana penampilan Zulkifli Lubis: “Perawakan Zulkifli Lubis sama sekali tak ada potongan sebagai Spymaster (Kepala Badan Intelijen) pertama Indonesia…Lubis yang berkacamata tidak menyukai olahraga semasa mudanya. Bahkan kulitnya mulus seputih pualam, serta suaranya juga lembut seperti wanita.”

Lubis terkesan menyembunyikan kejantanannya. Kesan-kesan yang ditulis Ken Conboy itu mengindikasikan jika Zulkifli Lubis jauh dari kesan sebagai "intel melayu": sebuah sindiran di dunia intelijen yang meremehkan orang-orang berbadan tegap, membawa pistol dan handy talky, memakai jaket berwarna gelap dan kerap mengaku intel dan banyak bertanya layaknya reserse kepolisian. Intel-intel macam ini biasanya adalah anggota militer (TNI) atau polisi yang ditempatkan dalam seksi intelijen di kesatuan mereka. Ketika menyamar pun publik akan mudah mengenali jika mereka adalah aparat.

Soal intel melayu, Kepala BIN yang saat itu dijabat Sutiyoso pernah memecat seseorang yang mengunggah surat tugasnya sebagai anggota BIN. Dalam dunia intelijen, sebetulnya sangatlah tidak pantas seorang intel mengaku diri ke publik jika dirinya adalah intel. Bahkan, satuan tugas di bawah komando Kopassus di Papua yang sering berkeliaran di sekitar Papua dengan pakaian preman pun tak mau mengaku intel meski keberadaan satgas intel di Papua itu adalah bagian dari operasi intelijen terbuka. Soal keintelen mereka, mereka lebih memilih cukup hanya dirinya, komandannya dan Tuhan saja yang tahu dirinya adalah intel. (dikopy dari tirto.id/ Petrik Matanasi)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karang Taruna Miliki Peran Penting Wujudkan Cita-Cita Pembangunan

    Karang Taruna Miliki Peran Penting Wujudkan Cita-Cita Pembangunan

    • calendar_month Kamis, 21 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Keberadaan organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna memiliki peran penting dalam mewujudkan cita-cita pembangun daerah. Apalagi Karang Taruna merupakan wadah pembangunan SDM generasi muda. Untuk mewujudkan pembangunan SDM generasi muda, Karang Taruna Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menggelar kegiatan Temu Karya Karang Taruna Periode 2021-2026 di aula D’San Hotel, Dalan Lidang pada Kamis […]

  • Keluarga Besar Pesantren Darul Aziz Ziarahi Makam Syekh Mahmud

    Keluarga Besar Pesantren Darul Aziz Ziarahi Makam Syekh Mahmud

    • calendar_month Jumat, 14 Okt 2022
    • account_circle Ahmad Effendi
    • 0Komentar

    Keluarga Besar Darul Aziz Ziarahi Makam Syehk Mahmud Kotanopan, Mandailingonline Keluarga Besar Pesantren Darul Aziz Air Jambu Kotanopan melakukan Ziarah ke Makam Syekh Mahmud. Ziarah ini, berlangsung khitmad usai sholat Jumat (14/10) di jalan lingkar Kotanopan, desa Tombang Bustak, Kec. Kotanopan, Mandailing Natal. Turut Hadir dalam acara ini, Ketua Yayasan Darul Aziz Air Jambu, H. […]

  • Indonesia Gelap, Kabur Aja Dulu

    Indonesia Gelap, Kabur Aja Dulu

    • calendar_month Kamis, 27 Feb 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Cerpen: Rina Youlida Nurdina “Yah, di sekolah, kami akan diberikan makan gratis untuk siswa setiap hari. Katanya makanannya yang bergizi lengkap, Yah. Mantap kan, Yah. Enak.. enak..” “ Yang betul la kau, Cok. Banyak kali rupanya sudah uang guru-guru di sekolahmu? Di rumah ini saja masih sering kita bolong makan karena gak cukup uang yang […]

  • RAKYAT HANYA MENCARI SESUAP NASI

    RAKYAT HANYA MENCARI SESUAP NASI

    • calendar_month Jumat, 22 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

     PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rakyat hanya hanya mencari sesuap nasi untuk anak dan istri. Mereka bukan penjahat, bukan pencuri. Kenapa ditangkap hanya karena menambang emas,” kata tokoh masyarakat Naga Juang, Mangaraja Muda Lubis kepada wartawan. Itu diungkapkannya kepada wartawan ditengah kerumunan ribuan massa yang memblokir jalan negara Lintas Sumatera di titik Desa Jambur Padang Matinggi, […]

  • HIPMI Madina dan Rendahnya Jumlah Usahawan

    HIPMI Madina dan Rendahnya Jumlah Usahawan

    • calendar_month Rabu, 9 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Dahlan Batubara   Saya teringat seorang teman etnis Tionghoa di Medan tahun 1993. Dia masih berusia 23 tahun. Bersama pamannya mendirikan pabrik bolu di belakang rumah sang paman, rumah kecil berdinding tepas. Mereka berdua yang mendirikan pabrik itu dan hanya mereka dua saja pekerjanya merangkap pimpinan pabrik. Maklum, pabrik itu masih kecil, hanya […]

  • Guru Sertifikasi Harus Mengajar di Desa Tertinggal

    Guru Sertifikasi Harus Mengajar di Desa Tertinggal

    • calendar_month Kamis, 26 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Guru yang bersertifikasi harus ditempatkan di desa terpencil. Itu sebagai salah satu upaya mengatasi kekurangan guru. “Kita minta Dinas Pendidikan Madina mengevaluasi penempatan guru-guru sertifikasi yang selama ini lebih banyak ditempatkan di perkotaan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pemuda Mandailing (HIPMA) Suhairy Lubis, Kamis (26/11) di Panyabungan. Dikatakannya, selain mengatasi […]

expand_less