Rabu, 11 Mar 2026
light_mode

Cipta Kerja Sah : Pengusaha Happy, Rakyat Tercekik, Negara Tergadai !

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 12 Okt 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Pengusaha menyambut baik pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) menjadi undang-undang (uu) melalui Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dilaksanakan pada hari Senin (5/10). Mereka juga memberikan apresiasi kepada pemerintah dan anggota dewan. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan UU Ciptaker diharapkan dapat mendorong perekonomian dan investasi, melalui penciptaan dan perluasan lapangan kerja. Pasalnya, UU Ciptaker mampu menjawab dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang menghambat peningkatan investasi dan membuka lapangan kerja.

Roeslani menyampaikan bahwa  penyederhanaan sistem birokrasi dan perizinan, kemudahan bagi pelaku usaha terutama UMKM, ekosistem investasi yang kondusif, hingga tercipta lapangan kerja yang semakin besar untuk menjawab kebutuhan angkatan kerja yang terus bertambah sangat dibutuhkan. Ia mengatakan jika banyak investasi yang masuk maka lapangan pekerjaan semakin terbuka dan meluas. Kondisi ini, lanjutnya, juga diharapkan bisa memulihkan dampak pandemi pada sektor perekonomian, termasuk penyediaan lapangan kerja. Seperti diketahui, saat ini banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan atau menjadi paruh waktu karena kondisi perusahaan tertekan pandemi covid-19.

Menurutnya, tanpa reformasi struktural, maka pertumbuhan ekonomi Tanah Air akan tetap melambat. Di sisi lain, setiap negara perlu merespons dengan cepat dinamika perubahan ekonomi global. Jika, UU Ciptaker diimplementasikan, ia menyatakan bisa meningkatkan daya saing Indonesia dan mendorong investasi masuk sehingga akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat. Ujungnya adalah mempercepat proses pemulihan perekonomian nasional.

Seperti diketahui, elemen buruh, aktivis HAM, dan lingkungan, serta gerakan pro demokrasi menolak pengesahan RUU Ciptaker karena dianggap merugikan pekerja dan merusak lingkungan. RUU Ciptaker juga dituding lebih memihak korporasi. Namun, DPR dan pemerintah terus melanjutkan pembahasan RUU Ciptaker. Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, mayoritas fraksi di DPR menyetujui pengesahan RUU Ciptaker ini. Fraksi-fraksi yang setuju adalah PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, NasDem, PKB, PPP, dan PAN. Hanya Fraksi Partai Demokrat dan PKS yang menolak pengesahan RUU Ciptaker (cnnindonesia. 06/10/2020)

RUU Ciptaker yang sebelumnya sudah banyak mendapatkan perlawanan dan penolakan baik dari kalangan buruh maupun masyarakat telah disahkan oleh para dewan yang terhormat. Seperti dilansir oleh beberapa media, bahwa pengesahan UU Ciptaker tersebut dilaksanakan tengah malam. Dan rapat paripurna pengesahan RUU Ciptaker diamini oleh mayoritas partai. Bahkan hanya dua partai yang menunjukkan sikap penolakan dan mencoba memberikan pertimbangan dampak negatif yang akan terjadi jika RUU Ciptaker ngotot disahkan.

Apalah daya, demokrasi menunjukkan tabiat aslinya menggunakan sihir suara mayoritas sebagai dalil untuk memuluskan keinginannya. Saat sidang berlangsung pun, jika ada yang protes dengan RUU Ciptaker, dilarang berbicara. Beberapa media sempat meliput bagaimana ketua DPR RI, Puan Maharani mematikan microphone saat terjadi argumen penolakan di ruang rapat sidang paripurna. Meskipun kejadian tersebut telah diklarifikasi, rakyat telah melihat dengan nyata.

Bukan hanya UU Ciptaker yang ditolak, kini rakyat menyasar DPR. Bahkan tagar kekecewaan terhadap DPR menjadi trending topik. Pengesahan RUU Ciptaker dianggap sebagai penghianatan kepada rakyat dan lembaga yang dinobatkan sebagai wadah aspirasi rakyat sudah tidak bisa dipercaya lagi.

Pihak pemerintah dan pembantunya tentu saja akan membela hasil rapat RUU Cipta kerja. Baik kalangan menteri dan juga anggota dewan. Bahkan UU Cipta kerja dianggap sangat bermanfaat bagi rakyat. Tetapi rakyat mana yang dimaksud? Selain itu juga dianggap akan membawa peningkatan ekonomi di masa depan. Benarkah demikian? Pernyataan yang disampaikan dari pihak pemerintah tidak sepenuhnya boleh dijudge tanpa dianalisa. Dengan demikian, kebijakan yang diambil oleh pemerintah ternyata salah, maka wajib dikoreksi. Oleh karena itu, terkait dengan pengesahan RUU Cipta kerja yang telah disahkan oleh legislatif, sperlu untuk dipahami dari beberapa poin analisa  berikut

Pertama, pengusaha langsung memberikan reaksi happy menerima pengesahan RUU Cipta kerja. Sebagaimana pernyataan Ketum Kadin Indonesia Roeslani yang berharap agar pengesahan RUU tersebut mampu menyelesaikan permasalahan yang menghambat investasi dan tenaga kerja. Roeslani benar, bahwa administrasi negara ini diakui oleh negara luar sangat ribet dan berbelit-belit. Padahal, begitu banyak negara-negara maju bernafsu untuk menjadi investor di Indonesia.

Persoalan urusan ketenagakerjaan secara administratif dalam negeri saja juga sangat bertele-tele. Sehingga banyak tenaga kerja yang hanya karena kekurangan satu berkas sekunder sudah tidak lolos seleksi. Belum lagi untuk tenaga kerja asing. Mereka menginginkan birokrasi yang lebih sederhana untuk memudahkan jalan masuk ke Indonesia. Kini, Pengusaha Kapitalis seperti bernafas lega setelah RUU cipta kerja disahkan. Tentu saja mereka happy dan mengapresiasi kinerja pemerintah.

Kedua, impian membuka lapangan kerja dengan RUU Cipta kerja kelihatannya jadi mimpi manis yang dijanjikan pemerintah kepada rakyat. Tetapi jika dilihat dari makna UU tenaga kerja tersebut, hanyalah menguntungkan pihak pengusaha/perusahaan saja. Segala urusan tenaga kerja dan hak-haknya akan dikebiri dan perusahaan kelak dengan kata lain dilindungi untuk bertindak sewenang-wenang kepada tenaga kerja. Bukankah ini namanya kedzaliman?

Ketiga, perubahan administrasi melalui RUU Cipta kerja bukanlah solusi yang tepat bagi permasalahan ekonomi negeri. Secara administratif betul, ada kemudahan. Namun, kemudahan yang berpihak pada penguasa dan pengusaha bukan untuk rakyat.

Sudah jelas hasil kerja nyata anggota lembaga dewan perwakilan rakyat yang terhormat. Lembaga yang digaungkan sebagai jelmaan ratusan juta rakyat Indonesia berubah menjadi jelmaan segelintir elit kapitalis global. Tugas yang dipercaya melegislasi UU yang seharusnya mengurus urusan rakyat agar terpenuhi hak-haknya, justru jadi lembaga yang mengebiri hak-hak rakyat  dan menjamin hak-hak penguasa dan pengusaha.

Inilah keaslian wajah sistem demokrasi kapitalis. Para eksekutif, dan legislatif yang terpilih adalah hasil kerjasama elit kapitalis global. Pun, pemegang yudikatif dibwah kendali eksekutif. Rakyat harus membayar mahal utang pesta demokrasi tiap tahun yang digelar kepada para Tuan kapitalis. Padahal yang menikmati modal dan keuntungan mereka adalah pejabat yang memegang kekuasaan, tetapi rakyatlah yang jadi tumbalnya.

Rakyat akan semakin tercekik dengan pengesahan RUU Cipta kerja ini. Jika lembaga dewan yang terhormat sudah berselingkuh dengan pengusaha dan dikendalikan oleh eksekutif, maka kemana lagi rakyat akan menitipkan aspirasi dalam negara yang katanya berdemokrasi ini?

Sementara untuk Indonesia, apa yang didapat dari UU Cipta kerja ini? Kran investasi dibuka seluas-luasnya dan semudah-mudahnya bagi swasta dan asing. Dan hal tersebut akan jadi jalan datangnya penjajahan kapitalisme yang semakin massif dan sistemik. Khususnya untuk kekayaan alam negeri yang sangat melimpah. Sumber daya alam tidak menutupi kemungkinan akan dikuasai besar besaran oleh swasta dan asing. Walhasil, sejengkal demi sejengkal tanah, laut, dan isi perut bumi pertiwi ini akan di bawah tekanan investor kapitalis global.  Apalagi yang tersisa milik sendiri? Semua kini tergadai! Indonesia kaya raya, seharusnya tidak layak ada yang kelaparan dan pengangguran, justru tergadai!

Semua permasalahan negeri ini sebenarnya berakar dari penerapan ideologi kapitalis yang diadopsi penguasa. Maka tidak ada cara lain menyelamatkan semua aset negeri kecuali mencampakkan kapitalisme dan menggantikannya dengan ideologi Islam. Perubahan hakiki yang dinanti dan mampu membawa kesejahteraan hanyalah jika Indonesia berada di bawah naungan Islam secara totalitas.

Tidak ada kerugian padanya, bahkan telah terbukti secara nyata selama berabad-abad lamanya, Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam tatkala dijadikan sebagai pandangan hidup bernegara.

Saatnya rakyat Indonesia mengambil langkah yang benar dan penuh kesadaran untuk menyerukan penerapan Islam, membuang kapitalisme, demi menyelamatkan negeri dari penjajahan elit kapitalis global dan kaki tangannya. Wallahu a’lam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubsu Didesak Tuntaskan Batas Madina-Tapsel

    Gubsu Didesak Tuntaskan Batas Madina-Tapsel

    • calendar_month Rabu, 11 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 10Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Belasan tahun sudah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berdiri hasil pemekaran dari kabupaten induk Tapanuli Selatan (Tapsel) tepatnya tahun 1998 lalu, toh hingga kini tapal batas antar dua kabupaten ini belum selesai. Dan konflik antar penduduk desa dari masing-masing kabupaten ini pun sudah nyaris berdarah-darah akibat saling klaim soal lahan pertanian. Pun […]

  • Warga Bintuas Temukan Buaya

    Warga Bintuas Temukan Buaya

    • calendar_month Senin, 16 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu ekor buaya ditemukan warga di Desa Bintuas, Kecamatan Natal, Mandailing Natal, Senin (16/11). Temuan ini memberikan gambaran bahwa sungai di kawasan Bintuas memiliki buaya, hanya saja jarang ditemukan warga. Sejauh ini, belum diketahui laporan jumlah spesies buaya yang hidup di Sungai Bintuas. Belum diperoleh konfirmasi jenis kelamin, usia dan panjang badan buaya yang ditemukan […]

  • Islamisasi Nusantara (Indonesia) atau Nusantaraisasi (Meng-Indonesiakan) Islam?

    Islamisasi Nusantara (Indonesia) atau Nusantaraisasi (Meng-Indonesiakan) Islam?

    • calendar_month Kamis, 12 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Janggal! Ahistoris! Tanpa bukti dalil! Itulah sederetan kata yang tepat disematkan untuk pernyataan salah satu menteri yang menjabat saat ini. Karena mengeluarkan pernyataan yang mengundang bingung publik dan juga sempat viral belum lama ini. Sebagai seorang pejabat bahkan dianggap punya kapasitas intelektual secara keilmuan tentu setiap ucapannya […]

  • Kebakaran di Padang, 18 Bangunan Hangus

    Kebakaran di Padang, 18 Bangunan Hangus

    • calendar_month Minggu, 17 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Padang. Kebakaran hebat melanda kebakaran_di_padang_18_bangunan_hangus Sumatera Barat, Sabtu (16/7) malam. Sedikitnya 18 bangunan hangus dilalap api. Jilatan api juga mengakibatkan seorang warga menderita luka bakar. Berdasarkan keterangan saksi mata, Rudi (40), kobaran api berasal dari toko foto copy. Api dengan cepat menjalar ke bangunan lain karena pada saat yang sama angin bertiup cukup kencang. Kasi […]

  • Mendagri : Surat Pengunduran Bupati Madina Salah Prosedur

    Mendagri : Surat Pengunduran Bupati Madina Salah Prosedur

    • calendar_month Minggu, 21 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan surat pengajuan pengunduran diri Bupati Mandailing Natal, Dahlah Hasan Nasution, salah prosedur. Itu diungkap Tjahyo Kumolo lewat keterangan pers, Minggu (21/4/2019). Dahlan Hasan Nasution mengajukan pengunduran diri kepada Presiden RI usai kekalahan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpers 2019 di Mandailing Natal. Mendagri menyatakan telah menerima surat […]

  • RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 6)

    RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 6)

    • calendar_month Minggu, 17 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)   Tak adil rasanya kalau kita tidak melongok kegiatan kaum hawa menjelang Ramadhan tiba. Di awal Ramadhan biasanya mereka mulai sibuk mepersiapkan bahan-bahan marpangir, sepertinya mereka ingin di bulan suci dan penuh rahmat ini,  tampil beda dengan hari hari […]

expand_less