Rabu, 18 Mar 2026
light_mode

Poligami di Mata Kartini dan Feminisme

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 23 Mar 2021
  • print Cetak

Oleh : Novida Sari, S.Kom
Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal

Ide Feminisme merupakan ide yang senantiasa menjunjung tinggi kebebasan dan kesetaraan kedudukan, hak, hukum, perlakuan dan berbagai dimensi kehidupan bagi perempuan agar senantiasa sama dengan laki-laki. Sehingga Feminisme meniscayakan perempuan untuk menentukan pilihan atas dirinya sebagaimana laki-laki termasuk dalam pernikahan.

Jika seorang perempuan hanya boleh menikah dengan seorang laki-laki, maka feminisme juga menuntut kesetaraan yang sama. Sehingga poligami adalah hal yang dibenci bahkan sering disasar sebagai penyebab ketidaksamaan kedudukan dari segi kesetaraan gender. Bahkan menjadi penyebab ketidakcocokan meskipun hal ini dibolehkan dalam syariat Islam.

Undang-undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) seringkali menjadi sasaran para pegiat Feminisme untuk menggugat poligami, karena di dalam Undang-undang No.1 tahun 1974 Pasal 3 ayat (1) disebutkan secara implisit bahwa asas perkawinan adalah monogami, tetapi pada ayat (2) memberikan kelonggaran kepada suami untuk berpoligami hingga 4 orang isteri. Pegiat feminisme seperti Prof. Musdah Mulia berpendapat, munculnya ambivalensi hukum (standar ganda) yang merugikan perempuan. (Siti Musdah Mulia dan Anik Farida, Poligami : Budaya Bisu yang Merendahkan Martabat Perempuan, (Yogyakarta: Kibar Press, 2007), h 65-66)

Kartini Dalam Praktik Poligami dan Pergulatan Ide Feminisme

Raden Ajeng Kartini adalah tokoh yang dipuja oleh Feminisme. Kenyataannya, Kartini terlahir dari seorang ayah Ningrat bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang memiliki dua orang isteri yakni M.A. Ngasirah yakni ibunya Kartini dan Raden Ajeng Woerjan yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Kartini juga merupakan isteri keempat K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat seorang bupati Rembang.

Pada awalnya Kartini sama seperti kaum Feminisme, kecewa atas kehidupan masyarakat dan agama yang dianut oleh kaumnya. Hal ini nampak jelas pada surat Kartini pada sahabat penanya yang bernama Stella pada tanggal 6 November 1899, yang berisikan :

Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?

Juga surat yang dikirimnya pada Abendanon pada tanggal 15 Agustus 1902 yang berisikan : “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.

Ide emansipasipun menyilaukan mata Kartini, hal ini nampak jelas pada suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899 yang berisikan:

Saya berseri-seri dengan antusiasme terhadap era baru yang telah datang, dan benar-benar dapat mengatakan bahwa dalam pikiran dan simpati saya Saya bukan milik dunia Hindia, tetapi milik saudara saudara perempuan saya yang putih yang berjuang untuk maju jauh di Barat. Jika hukum negeri saya mengijinkan, tidak ada yang saya ingin lakukan selain memberikan diri sepenuhnya kepada usaha dan perjuangan dari wanita baru di Eropa, tetapi tradisi tua yang tidak dapat dirusak, menggenggam kami dengan lengannya yang kuat. Suatu saat nanti mereka akan melonggarkan lengan dan membiarkan kami pergi, tapi saat itu masih jauh dari kami, jauh, tak terhitung jauhnya. Saat itu akan datang, yang saya tahu; mungkin tiga atau empat generasi setelah kami. Oh, kamu tidak tahu bagaimana rasanya mencintai era baru yang masih muda ini dengan hati dan jiwa, namun tangan dan kaki terpasung, dirantai oleh semua hukum, adat, dan konvensi tanah air.”

Hal ini tidak heran karena Kartini memang memiliki pemikiran yang cerdas dan pergaulan yang luas. Di dalam buku Gerakan Theosofi di Indonesia, Ridwan Saidi menuliskan bahwa Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.

Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam.

Meskipun demikian, pergulatan pemikiran Kartini akhirnya menemukan Cahaya Islam apalagi setelah pertemuannya dengan  Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar atau lebih dikenal dengan Kyai Haji Sholeh Darat. Selama ini Kartini tidak memahami apa yang terkandung di dalam Alquran, sehingga Kyai Haji Sholeh Darat memberikan padanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari Surah Al-Fatihah sampai dengan Surah Ibrahim. Sehingga Kartinipun mempelajari Islam yang sesungguhnya.

Ide Feminisme yang semula mengakar kuat pada diri Kartini pun runtuh bahkan berbalik setelah menemukan Islam yang sesungguhnya. Keinsyafan dan pengagungan yang semula pada ide emansipasi dan peradaban baratpun berbalik menjadi pengagungan kepada Islam. Hal ini dapat dilihat dari suratnya kepada Ny Abendanon pada tanggal 5 Maret 1902 yang berisikan: “Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang

Juga surat kepada Ny Van Kol pada tanggal 21 juli 1902 yang berisikan : ”Tiada Tuhan kecuali Allah! Kata kami umat Islam, dan bersama-sama kami semua yang beriman, kaum monotheis; Allah itu Tuhan, Pencipta Alam Semesta.”

Begitu juga kepada Ny. Abendanon pada tanggal 1 Agustus 1903 yang berisikan : “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah, Abdullah.”

Sebagai seorang hamba yang menghamba pada Dzat yang Mahamulia, tentu ketundukan akan ajaran syariat adalah suatu keniscayaan. Bisa jadi di awal pergulatan pemikirannya, Kartini tidak menyukai poligami sebagaimana Feminisme membenci hal itu. Namun sebagai hamba yang mencintai Rabb-Nya dengan sepenuh jiwa tentu tidak menjadikannya jatuh pada hal yang dimurkai dzat yang dicintainya. Apalagi sampai menentang dengan suara lantang yang dapat membuat murka dari Dzat pemilik jiwa yakni Allah SWT. Wallahu a’lam bishshawab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perambah Hutan Madina Masih Merajalela

    Perambah Hutan Madina Masih Merajalela

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pengusaha kilang sawmill berkedol IPK dari Dinas Kehutanan Madina masih merajalela melakukan aktivitasnya dihutan Aek Nabara-Mandailing Natal,escapator dan Truck logging beraksi dimusim hujan hingga jalan menuju desa tersebut,hancur berlobang dan berlumpur. Toguan Lubis warga Aek nabara Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal,kepada wartawan Selasa (23/11) mengatakan, saat musim penghujan ini aktipitas kegiatan pengusaha kilang saw […]

  • RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian satu)

    RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian satu)

    • calendar_month Minggu, 10 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)   Ramadhan bulan penuh rahmat,  bulan penuh berkah, serta bulan penuh ampunan. Dan banyak lagi sebutan untuknya. Dahulu, waktu kami masih kanak kanak, saat saat seperti ini adalah hari hari yang sangat menyenangkan, bagaimana tidak sebentar lagi kami akan […]

  • Tujuh Pejabat Pemkab Madina Dilantik

    Tujuh Pejabat Pemkab Madina Dilantik

    • calendar_month Rabu, 3 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 7 pejabat eselon III Pemkab Mandailing Natal (Madina) dilantik, Rabu (3/11/2021). Pelantikan dilakukan Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution di aula setdakab Madina. Tujuh pejabat itu, Parmonangan Hutasuhut, ST,MM dilantik untuk jabatan Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Arbiuddin Syhaputra Hakim Harahap SSTP,MM (Sekretaris Dinas Pendidikan);  Rahmad Daulay, ST […]

  • Guru Harus Ciptakan Suasana Senang, Bukan Tegang

    Guru Harus Ciptakan Suasana Senang, Bukan Tegang

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa. Sebagai tempat terjadinya proses belajar mengajar, sekolah jangan menjadi lokasi yang membuat siswa tertekan. "Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara telah membuat konsep yang menjadikan sekolah sebagai taman. Taman ini adalah tempat yang menyenangkan," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, Senin (18/5). Konsep […]

  • Parsadaan Marga Batubara Terbentuk

    Parsadaan Marga Batubara Terbentuk

    • calendar_month Sabtu, 31 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Parsadaan Marga Batubara terbentuk, Sabtu (21/8/2024) di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut. Pembentukan berlangsung di aula hotel Mariring, Panyabungan, sekaligus pemilihan dewan pembina, dewan penasihat, ketua dan jajaran eksekutif. Ketua Panitia Pembentukan, Safaruddin Batubara menyatakan bahwa embrio Parsadaan Marga Batubara ini telah lama berproses sejak beberapa bulan lalu melalui beberapa putaran musyawarah […]

  • Tragedi Pemerkosaan di Madina, Sejumlah Wartawan dan Pengacara Siap Dampingi Korban

    Tragedi Pemerkosaan di Madina, Sejumlah Wartawan dan Pengacara Siap Dampingi Korban

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejumlah wartawan dan pengacara di Kabupaten Mandailing Natal menyatakan siap mendampingi korban pemerkosaan SN (20) Wanita asal Panyabungan yang terjadi beberapa waktu lalu oleh sejumlah pemuda di salah satu gedung kosong di Taman Raja Batu Panyabungan pada Rabu (06/11) sekitar pukul 15.00 Wib. Kejadian ini sontak membuat sejumlah wartawan dan pengacara […]

expand_less