Senin, 16 Mar 2026
light_mode

Kopi Sipirok tembus pasar luar negeri

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
  • print Cetak


SIPIROK – Satu persatu budidaya dan home industri hasil karya putra-putri Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan mulai menemukan pangsa pasar di luar negeri.

Setelah kain songket, kini giliran kopi “ateng” asal Kecamatan Sipirok diminati Malaysia dan Singapura.

Salah seorang petani kopi asal Desa Sigiring-giring Dolok, Kecamatan Sipirok, Chaidir Hasibuan, mengatakan kopi itu sangat disukai, karena aromanya yang harum dan cita rasanya yang enak.

Menurut Chaidir, selain sangat mudah ditanam dan juga cepat panen, kopi ateng ini harganya juga sangat mahal.

Oleh karena itu, kata Chaidir, petani kopi di Kecamatan Sipirok saat ini berlomba-lomba dan lebih banyak menanam kopi ateng. Sebelumnya, warga di daerah itu, paling banyak menanam kopi jenis arabika. “Kopi ateng itu juga sangat mudah laku dan sangat dicari konsumen yang ada di Sumatera Utara,” kata Chaidir, tadi malam.

Chaidir menjelaskan, kopi ateng ini di daerah Sipirok juga disebut sebagai kopi unggulan oleh masyarakat. Warga menamakan kopi ateng, karena tinggi tanaman ini sangat pendek, namun memiliki kelebihan atau unggul dari tanaman jenis kopi lainnya seperti kopi arabika.

“Kopi ateng saat ini merupakan tanaman primadona bagi petani kopi di daerah Sipirok,” kata Chaidir.

Chaidir mengatakan, kopi ateng ini merupakan saingan berat bagi kopi luak (biji kopi yang dimakan musang. Bahkan, kopi ateng yang baru saja selesai dipanen oleh petani langsung dibeli konsumen di kebun dengan harga Rp15.000-Rp20.000 per kilogram.

“Tanaman kopi ateng ini kini sudah merupakan andalan bagi petani di Kecamatan Sipirok menggantikan tananaman warga di daerah itu yang dulunya cengkih. Tananaman cengkih di Kecamatan Sipirok tidak lagi ditanam warga karena banyak yang mati dan merugikan,” katanya.

Chaidir juga menyebutkan, setelah kopi ateng itu dibeli pengusaha atau eksportir kopi, kemudian mereka olah lagi dan dijual ke Malaysia, Jepang, dan Singapura.

Bahkan, kopi ateng ini menurut beberapa pengusaha memilik kelebihan dibandingkan kopi jenis arabika, sehingga sangat banyak diminati dan laku keras di pasaran Asia.

“Kopi ateng ini bijinya sangat padat dan saat ini paling dicari bagi pecandu minumun kopi di Pulau Jawa dan Sumatera. Tanaman ini juga mudah hidup di Kabupaten Tapanuli Selatan, Dairi, dan Humbang Hasundutan di wilayah Sumatera Utara,” katanya.
Sumber : Waspada

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sumteng Berpotensi Segera Direalisasikan

    Sumteng Berpotensi Segera Direalisasikan

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Ketua PB GP Ansor yang juga Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nusron Wahid, menyebutkan pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara berpotensi segera direalisasikan. Sebab, isu tersebut akan dibahas di rapat parlemen secepatnya. Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Koordinator Daerah GP Ansor se-Tabagsel, Ir Pandapotan Siregar dan Ketua GP Ansor Madina, Samsul Bahri Lubis SAg, […]

  • DCS dapil 3 Nasdem Madina

    DCS dapil 3 Nasdem Madina

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 3 Nasdem Madina

  • Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Didukung

    Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Didukung

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Salah satu tokoh Mandailing Natal yang berdomisili di Jakarta, Asman Akhir Nasution mengatakan, Senin (23/3/2015) bahwa acara Forum Grup Diskusi tentang Geothermal (Panas Bumi) yang diselengarakan di Panyabungan pada 17 Maret lalu, merupakan sebuah langkah yang positif. Apalagi, menurutnya, acara yang diprakarsai oleh Bupati Mandailing Natal, H. Dahlan Nasution itu […]

  • Paya Bulan Terkenal Karena Biola Namabugang

    Paya Bulan Terkenal Karena Biola Namabugang

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Demam Film Biola Namabungan sudah lama reda. Tapi siapa sangka film lokal ini ternyata menelurkan demam baru bagi masyarakat Mandailing Natal. Paya Bulan begitulah orang menyebutnya. Tempat ini tiba-tiba naik daun berkat keindahannya lewat sorotan kamera saat pengambilan gambar film Biola Namabugang I. Dari rasa penasaran, Paya Bulan kemudian ramai di bicarakan, dikunjungi hingga […]

  • KTNA Madina Juara I Stan Pameran Peda KTNA Sumut

    KTNA Madina Juara I Stan Pameran Peda KTNA Sumut

    • calendar_month Sabtu, 13 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATUBARA (Mandailing Online) – KTNA Mandailing Natal (Madina) meraih juara I Lomba Stan Pameran di Pekan Daerah (Peda) KTNA tingkat Provinsi Sumatera Utara. Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan itu di buka oleh Gubernur Sumatera Utara Tengku Ery Nuradi  tanggal 9 Agustus dan ditutup Jum’at (12/8/2016) di Desa Pulau Sejuk, Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. […]

  • Ketika Hamka Menggugat Sejarah Indonesia

    Ketika Hamka Menggugat Sejarah Indonesia

    • calendar_month Minggu, 31 Jul 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Hamka telah dikenal luas sebagai cendekiawan Islam dan pengarang roman ternama seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk. Namun sebetulnya Hamka juga seorang penulis sejarah. Cukup banyak karya tulisnya yang membahas sejarah Islam dan sejarah Indonesia. Menariknya, beberapa karangannya tentang sejarah bersifat gugatan, terutama gugatan atas penulisan sejarah Indonesia. Apa yang digugat Hamka ialah penulisan sejarah […]

expand_less