Selasa, 17 Mar 2026
light_mode

Sulit Atasi Hama Tikus pada Padi, Dosen IPB Bagikan Solusinya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2022
  • print Cetak

hama tikus pada padi

 

Hama tikus saat ini masih menjadi ancaman bagi pertanian, khusunya padi. Untuk mengatasinya, telah dilakukan berbagai upaya pengendalian terpadu yang dianggap cocok agar bisa menekan kerugian.

Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Swastiko Priyambodo mengatakan, relief Candi Borobudur menunjukkan bahwa tikus sejak dulu telah menjadi hama padi sejak dulu. Sampai dengan saat ini, hama tikus mampu bertahan dan melawan setiap upaya tindakan pengendalian.

Swastiko menuturkan, terdapat tiga kata kunci dalam manajemen pengendalian hama tikus. Pertama, yaitu keterpaduan berbagai metode pengendalian mulai dari sanitasi, kultur teknis, fisik, mekanis, biologi dan kimia yang dipadukan dan bersifat kompatibel.

Kedua, lanjut dia, yaitu kebersamaan dalam pengendalian populasi hama tikus sawah. Terakhir, yaitu keberlanjutan upaya pengendalian pada setiap musim tanam perlu dilakukan secara terus menerus.

Pakar tikus dari IPB University tersebut menjelaskan, manajemen populasi tikus secara non-kimia namun dapat bersifat toksik biasanya dengan menggunakan protozoa. Namun, cara ini terbilang sulit untuk diterapkan di lapangan dan terbilang mahal.

Selain itu, dia mengatakan, metode ini juga masih kalah saing dengan rodentisida kimia yang harganya lebih murah dan dijual bebas di pasaran. Sebaliknya, manajemen kimia namun bersifat non-toksik dengan menggunakan rodentisida seperti Rodol dinilai tidak terlalu efektif.

Dia menyebut, keefektifannya sudah diuji di IPB dan hasilnya menunjukkan, tikus tidak terlalu suka dengan umpan tersebut.

“Alternatifnya, manajemen tikus dilakukan dengan kultur teknis yakni dengan metode budidaya tertentu. Misalnya, seperti trap crop dan push-pull system repellent,” ungkap Swastiko dalam Webinar Propaktani “Ayo Kendalikan Tikus“ yang digelar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Rabu (6/7/2022).

Sayangnya, tambah Swastiko, kedua metode tersebut tidak bisa dikombinasikan pada hamparan pertanaman padi.

Untuk metode budidaya lainnya yakni, tumpangsari padi gogo dan palawija atau pohon buah, sistem jajar legowo atau tanam padi serempak pada area sawah. Tanam padi serempak ini dapat dikembangkan menjadi agroekowisata pada hamparan sawah.

Saat ini, IPB dan mahasiswanya telah mencoba mengembangkan hamparan sawah menjadi agroekowisata yang dilakukan bersama pemerintah Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar).

Lebih lanjut, Swastiko menjelaskan, upaya manajemen lainnya yakni dengan cara sanitasi atau bersih lingkungan. Hal ini penting dilakukan karena lingkungan yang buruk akan menjadi tempat yang disukai bagi tikus.

Sementara itu, untuk manajemen tikus secara fisik atau mekanis dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi terkini seperti Internet of Things (IoT). Menurutnya, dengan aplikasi handphone, petani lebih mudah untuk mendeteksi perangkap yang berhasil menangkap tikus.

Namun, tutur Swastiko, biaya operasional cenderung mahal, berbeda dengan cara pengedalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami, seperti Tyto alba, musang atau garangan, dan ular tikus.

Selain itu, umumnya petani juga menggunakan rodentisida sebagai umpan beracun. Petani juga kerap mencoba mengkreasikan rodentisida dengan menggunakan tumbuhan yang dapat meracuni tikus.

Berkenaan dengan hal itu, Swastiko sendiri mendukung upaya kreasi dan inovasi yang datang dari petani.

“Namun, perlu diingat tikus sifatnya melawan, belum tentu tikus yang tersisa mau memakan umpan tersebut. Di lapangan banyak tersedia makanan yang lain. Namun, upaya ini harus tetap didukung agar tidak lagi ketergantungan pada industri pestisida,” terang Swastiko.

Swastiko juga mengimbau kepada para petani agar waspada pada rodentisida illegal karena akan sangat bersifat toksik dan berbahaya bagi konsumen dan petani sendiri.

Dia juga menjelasakan, terdapat tiga faktor dalam manajemen tikus yaitu, faktor ekologi, faktor ekonomi, dan faktor sosiokultural. Selain memperhatikan faktor lingkungan dan biaya, pengendalian hama tikus juga harus memberikan dampak sosial yang positif terhadap masyarakat.

Sumber: Media Tani

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buku: Tuanku Rao, Terror Mazhab Hambali di Tanah Batak (4)

    Buku: Tuanku Rao, Terror Mazhab Hambali di Tanah Batak (4)

    • calendar_month Minggu, 21 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    DARI ANGKOLA KE MINANGKABAU Disunting: Dame Ambarita Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir. Tetapi dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngolan. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga […]

  • Paket Proyek PU Didominasi Jalan dan Jembatan

    Paket Proyek PU Didominasi Jalan dan Jembatan

    • calendar_month Rabu, 28 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sedotan dana untuk proyek fisik yang sedang ditenderkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Mandailing Natal (Madina) tahun ini didominasi sektor jalan dan jembatan. Rincian anggaran DAK dan DAU sebanyak 41 paket, meliputi program peningkatan jalan dan jembatan Rp.19,2 milyar, program pembangunan jalan jembatan Rp.3,2 milyar, pengembangan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan […]

  • Bangunan Sekolah SD di Aek Baru Julu Dihantam Banjir Bandang

    Bangunan Sekolah SD di Aek Baru Julu Dihantam Banjir Bandang

    • calendar_month Senin, 13 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    BATANG NATAL ( Mandailing Online )- Tidak hanya jembatan penghubung yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang di Desa Aek Baru Julu, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal, ( Madina ) Senin 13/11/2023. Sebuah gedung Sekolah juga menjadi sasaran derasnya arus sungai aek baru. Video yang diperoleh Mandailing Online, kondisi bangunan sekolah nyaris terbawa arus sungai, hanya […]

  • KPPG Madina Foto Bersama Wakil Gubernur Sumatera Utara

    Pelecehan Seksual Marak, Ketua KPPG Apresiasi MPC PP Madina

    • calendar_month Minggu, 3 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak sedang marak di Madina (Mandailing Natal). Setidaknya dalam 2 bulan terakhir ada 5 kasus yang mencuat ke publik. Terbaru, pelecehan oleh salah satu sopir Aek Mais terhadap penumpang inisial YN pada Sabtu (25/9) lalu. Maraknya pelecehan seksual di Madina belakangan ini, terutama pelecehan terhadap anak, […]

  • PKS Kritisi Pemkab Madina Soal Dana Covid

    PKS Kritisi Pemkab Madina Soal Dana Covid

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggota DPRD Madina dari Fraksi PKS, Awaluddin Nasution menyatakan kecewa terhadap kekurangsigapan Pemkab Madina menangani Covid-19. Persoalan makan, puding dan honor petugas Posko Covid di perbatasan saja masih tak jelas, padahal dana sudah ada 12 milyar untuk penanganan Covid. “Padahal para petugas medis yang ada di posko perbatasan merupakan ujung tombak […]

  • Atika Buka Expo Ekonomi Kreatif

    Atika Buka Expo Ekonomi Kreatif

    • calendar_month Senin, 14 Agt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Madailing Online) – Pergerakan di kalangan pelaku usaha menjadi salah satu variabel pergerakan ekonomi daerah. Termasuk ekonomi kreatif di Mandailing Natal (Madina), Sumut. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki peran untuk meluaskan ruang dan peluang bagi pelaku usaha. Expo Ekonomi Kreatif mulai berlangsung hari ini hingga 17 Agustus 2023 di lapangan Masjid Nur Ala […]

expand_less