Minggu, 15 Mar 2026
light_mode

Jangan-jangan Kita Ulat Bulu

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
  • print Cetak


Jakarta –
Sebelum saya berangkat kerja pagi ini, seperti biasa istri saya mengingatkan agar ekstra hati-hati di jalan, mengingat sebaran ulat bulu sudah sampai ke Jatiasih, beberapa kilometer saja dari rumah kami.

Rupanya ia mengikuti sedemikian rupa berita-berita di media massa soal ulat bulu itu.

Mulanya diberitakan ulat-ulat bulu itu berbiak dan menyerbu beberapa kawasan di Probolinggo dan Jombang Jawa Timur. Ulat-ulat itu merengsek pohon-pohon mangga dan menyebar sedemikian rupa ke mana-mana.

Bagi istri saya, berita ulat bulu itu lebih berbahaya ketimbang kebocoran reaktor nuklir di PLTN Fukushima Jepang. Istri saya tidak saja dibuat merinding oleh ulat bulu, tapi juga diserang fobia dan merasa terteror.

Membayangkannya saja sudah merinding, apalagi melihat dari televisi ribuan ulat bulu di tetanaman dan tembok-tembok warga di Probolinggo itu. Istri saya langsung menjerit dan sepertinya sebentar lagi terjangkiti gatal-gatal di seluruh badan.

Saya sendiri merinding kalau ketemu ulat. Sewaktu kecil, di suratkabar langganan bapak saya, Suara Merdeka terbitan Semarang, ada komik strip Tarzan karya Edgar Rice Burroughs yang saya sangat suka. Saking sukanya, saya mau jadi Tarzan.

Hanya mengenakan celana kolor dan pisau mainan, bersama temen-teman sebaya, kami main tarzan-tarzanan di sawah, kebun, kuburan, lereng bukit, sungai, bahkan kolam ikan yang airnya berlumpur. Maklum kami hidup di desa.

Tapi persoalannya saya segera gagal menjadi Tarzan sejati karena takut sama ulat. Bagaimana mau jadi Tarzan beneran (kalau pelawak Srimulat kami panggil Taresan), jika sama ulat saja ngibrit?

Lama-lama Tarzan agak saya lupakan. Kemudian tertarik kepada Batman, pemberantas kejahatan yang gambarnya saya lihat di poster film yang dibentangkan di mobil keliling pewarta pemutaran film itu ke desa-desa.

Lalu, saya ingin jadi Batman atau Superman, seperti dibayangkan penyanyi cilik Adi Bing Slamet dalam satu lagunya. Anda ingat bait lagunya? Saya sih ingat, begini, “Aku ingin menjadi Batman Superman, Batman Superman, ooo, gagah perkasa!

Dengan sarung yang diikatkan ke leher dan kain mendominasi punggung, jadilah saya Batman. Tapi, lama-lama saya juga merasa gagal menjadi Batman. Soalnya saya tak bisa terbang.

Namanya juga anak-anak, proses identifikasi diri terus terjadi.

Ternyata tak hanya Tarzan dan Batman yang jagoan, masih banyak yang lain; Flash Gordon, Johny Quest, Deni Manusia Ikan, Sinbad Si Pelaut, Jaka Sembung, Si Buta dari Gua Hantu, Mario Halley, dan sebagainya. Belum lagi para ksatria yang dijelenterehkan dalam komik-komik wayang.

Lama-lama saya tak lagi mempersoalkan saya harus mengidentifikasikan diri sebagai apa, kecuali sebagai saya apa adanya.

Pada masa remaja, ketertarikan pada lawan jenis pun muncul. Mulailah saya mempersoalkan potongan rambut, jerawat dan sebagainya.

Paradigma “saya adalah saya” sudah melekat sejak saya menonton film-film remaja di zaman itu, seperti Gejolak Kawula Muda atau Catatan si Boy.

Saya merasa semakin jauh dari karakter sang tokoh; remaja penari breakdance atau Si Boy yang kontroversial. Saya merasa apa yang saya tonton adalah dunia lain, dunia yang tidak mungkin saya menjangkaunya.

Walaupun begitu, budaya pop tetap saya ikuti, sampai saya baca berita Menteri Penerangan Harmoko mengkritik Betharia Sonata karena menyanyikan lagu-lagu cengeng.

Dalam sebuah diskusi belum lama ini, berposisi sebagai moderator, saya mengomentari ringan uraian wartawan senior Budiarto Shambazy yang menjadi salah satu pembicara di diskusi itu.

Dalam seminar bertajuk penataan sistem politik itu, Mas Budiarto mengajak kita meneropong politik Indonesia dari atas. Dia mengistilahkannya dengan “helikopter politik.”

Lantas ia sampai pada fenomena Wikileaks dan pemberitaan yang menghebohkan oleh dua suratkabar besar di Australia menyangkut Presiden SBY dan beberapa elite politik kita belum lama ini.

Mas Budiarto mengartikan. itu adalah peringatan Barat atas praktik demokrasi Indonesia dan rezim politik negeri ini.

Mereka seperti menjawil kita : eh hati-hati ya, kalau kamu begini terus!

Tentu saja, ada di antara Anda yang menolak penafsiran itu. Anda mungkin memandang kehebohan Wikileaks itu kebetulan saja, dan tak ada kaitannya dengan Barat. Lagi pula apa urusannya kita dengan Barat.

Itu bisa diperdebatkan lebih lanjut, yang jelas fenomenanya memang menghebohkan. Mas Budiarto menafsirkannya peringatan, tapi saya katakan padanya ada peringatan lain yang tak kalah menghebohkan. Serbuan ulat bulu itu!

Dengan gaya sok metafisik, saya kemukakan pertanyaan, mengapa ulat bulu itu didatangkan ke Indonesia? Jawabnya, fenomena alam alias anomali cuaca. Mengapa sampai anomali cuaca? Karena ini dan itu. Mengapa hanya tempat-tempat tertentu saja ulat bulu itu merambah? Mengapa bukan Jakarta?

Singkat kata, kehadiran ulat bulu itu, peringatan langsung Tuhan kepada kita. Semacam karikatur yang digambar langsung oleh Tuhan. Bagaimana mungkin bangsa ini maju, manakala perwatakan manusianya banyak yang berhenti sekedar di fase ulat dan tidak kunjung menjadi kepompong, apalagi kupu-kupu?

Dalam ikonografi fabel-fabel tertentu, ulat menggambarkan watak yang rakus, menjijikkan, dan membuat sengsara yang lain dengan bulu-bulunya.

Ia melahap yang mengenyangkan perutnya. Tetapi serakus-rakus ulat tetap masih lebih rakus manusia. Manusia tak hanya menyantap makanan yang masuk ke perutnya, tapi juga aspal, semen, pasir, apapun.

Ulat tak bisa membenarkan tindakan-tindakannya. Manusia tidak. Manusia sibuk mencari-cari pembenaran atas kerakusannya, terutama kerakusan kekuasaan.

Saya ungkapkan yang begitu itu, supaya diskusi jadi marak dan gayeng, bukannya demi sekadar mengkritik pemerintah atau para politisi, sebab jangan-jangan kita-kita malah ulat-ulat bulunya.

Mungkin kita suka rakus demikian rupa, melampaui batas, dan berencana suatu saat akabn bertobat, tapi tak tobat-tobat juga. Kalaupun bertobat, hanya formalitas dan artifisial, dalam arti akan segera mengulanginya lagi suatu saat nanti.

Betapa banyak perlambang yang hadir di dunia ini. Manusia sendiri, sejak zaman purba, butuh perlambang dan mitos-mitos. Tapi, kemudian datang ilmu pengetahuan yang lebih bertumpu pada tradisi ilmiah dan rasionalitas.

Supaya tulisan ini tidak menyesatkan, baiklah saya kutipkan penjelasan ilmiah seorang pakar dari UGM, “Perubahan iklim terutama temperatur lingkungan ikut mempengaruhi populasi ulat bulu, karena temperatur yang meningkat dapat mempercepat siklus hidup ulat itu. Meningkatnya populasi ulat bulu juga disebabkan semakin berkurangnya musuh alami, seperti burung, parasitoid, dan predator lain.

Terdapat dua spesies ulat bulu yang menyerang daun mangga di Probolinggo, yakni Arctornis sp dan Lymantria Atemeles Collenette. Ulat bulu itu bersifat nokturnal, aktif pada malam hari. Tidak mengherankan jika pada malam sering terdengar seperti suara hujan, padahal saat itu sesungguhnya ulat bulu sedang memakan daun mangga.

Oleh karena itu, harus ada langkah untuk segera mengendalikan membludaknya populasi ulat. Terlebih kemampuan produksi telur ulat betina mencapai 70-300 butir per ulat.

Jadi, urusan kita bertambah lagi hari-hari ini; menghadapi ulat-ulat bulu itu. O, kalau saja novelis John Steinbeck mencerap fenomena perulat-buluan ini, mungkin ia tidak akan menulis Of Mice and Men (1937), tetapi Of Ulat Bulu and Man.

M Alfan Alfian, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Nasional, Jakarta.
Sumber : Antaranews

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wawancara dengan Askolani CEO Tympanum Novem (Bagian II)

    Wawancara dengan Askolani CEO Tympanum Novem (Bagian II)

    • calendar_month Rabu, 14 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Banyak kemajuan yang sudah dicapai Tympanum Novem sejak muncul tahun lalu melalui film perdana Mandailing “Biola Na Mabugang”. Banyak pihak yang menyebutkan bahwa film ini mengawali gerbong dinamika genre baru dalam segmen hiburan di kawasan Mandailing dan bekas daerah Tapanuli Selatan secara umum. Dalam sebuah kesempatan di tengah-tengah penggarapan film “Lilu”, kami menyempatkan wawancara dengan […]

  • Demo Anggota Rimbo Tuo Dinilai Anarkis. PT TBS: Kami Rugi Besar

    Demo Anggota Rimbo Tuo Dinilai Anarkis. PT TBS: Kami Rugi Besar

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LINGGA BAYU (Mandailing Online) – Dilatari permasalahan lahan antara  Koperasi Rimbo Tuo Kelurahan Tapus, Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dengan PT Tri Bahtera Srikandi (TBS), anggota koperasi dan warga Tapus mengadakan aksi  ke PT TBS, Selasa (30/7/2024) yang berujung anarkis. Dalam surat pemberitahuan yang dilayangkan Koperasi Rimbo Tuo bernomor 028/KRT-KLTP/VII/2024 ke Polres Madina, […]

  • Film “Si Bisuk Naoto” Diangkat Dari Legenda Klasik

    Film “Si Bisuk Naoto” Diangkat Dari Legenda Klasik

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Film “Si Bisuk Naoto” mengangkat cerita legenda klasik di daerah Tapanuli Bagian Selatan. Dulu, jauh sebelum buku bacaan ada, masyarakat di daerah ini sudah terbiasa mendengar cerita tentang tokoh Si Bisuk Na Oto yang penuh kelucuan. Film berbahasa Mandailing yang diproduksi Tympanum Novem Multimedia bekerjasama dengan Nila Sari Pro itu […]

  • Unjukrasa Desak DPRD Madina Bentuk Pansus SMGP

    Unjukrasa Desak DPRD Madina Bentuk Pansus SMGP

    • calendar_month Rabu, 17 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online) –  Puluhan pengunjukrasa mendesak DPRD Mandailing Natal membentuk Panitia Khusus (Pansus) atas tragedi keracunan warga Sibangggor Julu di wilayah kerja PT SMGP. Pengunjukrasa dari Aliansi Perhimpunan Pemuda Madina Bersatu itu melakukan aksi unjukrasa ke gedung DPRD Mandailing Natal, Rabu (17/2/2021). DPRD Mandailing Natal selaku wakil rakyat dinilai tidak memiliki sikap yang jelas atas […]

  • Sogokan Hasanah, Adakah?

    Sogokan Hasanah, Adakah?

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Alfi Ummuarifah Pegiat Literasi Islam Kota Medan Sepintas lalu ini cuma kelakar. Kelakar seorang tokoh ummat dari sebuah oganisasi. Pelintiran kata yang seakan menjadi benar. Merayu akal agar menyetujuinya. Diksi yang diputarbalikkan dan sangat manipulatif. Ya, Sogokan hasanah. Berarti yang lain sogokan dholalah? Adakah? Ya jelas tak ada. Sogokan atau risywah itu ada dalam […]

  • Ribuan Masyarakat Madina Antusias Saksikan Karnaval.

    Ribuan Masyarakat Madina Antusias Saksikan Karnaval.

    • calendar_month Kamis, 10 Mar 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Dalam rangka HUT ke 17 Kab Madina PANYABUNGAN – (Mandailing Online) – Ribuan masyarakat Mandailing Natal dari berbagai penjuru kecamatan antusias memadati   jalan Willem Iskandar Panyabungan menyaksikan pawai Karnaval memeriahkan HUT Mandailing Natal ke 17. Salma Nasution warga masyarakat Siabu kepada Mandiling Online,  Selasa, (8/3) mengatakan merasa sangat gembira dan terhibur dengan adanya acara  acara […]

expand_less