Senin, 16 Mar 2026
light_mode

Aksi Pengarakan Bendera Merah oleh PAM Unair

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 5 Jul 2011
  • print Cetak


Aksi Pengarakan Bendera Merah Sepanjang Putih 54 Meter dan Penutupan jalan Airlangga depan pintu masuk kampus B Unair selama 54 Menit 54 detik. Aksi yang di pimpin koordinator aksi Dani Samuel ini mengambil Angka 54 yang merupakan simbol nasionalisasi Unair tahun 1954.
*
Kawan-kawan sekalian, beberapa waktu ini telah dilangsungkan
proses verifikasi data maba Unair yang diterima lewat jalur SNMPTN. Bagi
sebagian mahasiswa yang tidak lolos SNMPTN banyak yang memilih seleksi jalur
mandiri agar bisa masuk Unair, tentunya dengan resiko biaya masuk yang lebih
“sensasional” daripada jalur SNMPTN. Walaupun sampai saat ini tidak ada
transparansi mengenai kebenaran defisit anggaran Unair, skema baru kenaikan
biaya dengan sistem proporsional yang tetap sangat memberatkan para
mahasiswa baru, masih tetap di jalankan.

Hal tersebut terbukti ketika para mahasiswa baru melakukan
verifikasi data (bukan pendaftaran ulang) yang menentukan besaran nominal
yang di harus di bayar mahasiswa baru dengan sistem proporsional tersebut.
Banyak orang tua mahasiswa baru yang mengeluh dengan sistem tersebut yang
tetap saja membebankan biaya SP3 (Uang Gedung) yang sangat mahal kepada
mahasiswa. Apalagi pembayaran SP3 ini harus tunai dan tidak boleh dicicil,
sehingga beberapa orang tua mahasiswa merasa keberatan untuk melunasinya.
Bilamana orang tua mahasiswa tidak mempunyai uang, pihak birokrasi Unair
hanya memberikan tawaran agar para orang tua meminjam uang dari bank untuk
melunasi biaya masuk tersebut. Inilah wajah kampus Unair yang katannya *Pro
Poor * (Pro keluarga miskin), sangat arogan memaksa calon mahasiswa untuk
membayar di luar kemampuannya.

Berdasarkan kondisi diatas, kami kemudian membuat aksi simbolis
Pengarakan Bendera Merah Putih 54 Meter. Bendera sepanjang 54 meter ini
adalah untuk melambangkan tahun diresmikannya Unair oleh Presiden pertama
Indonesia Bung Karno, yang sejarahnya berasal dari dua lembaga pendidikan
kolonial Belanda bernama NIAS dan STOVIT yang dinasionalisasi oleh para
pejuang kemerdekaan untuk kepentingan rakyat di sektor pendidikan.

Aksi simbolis ini bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa
nasionalisasi Unair tahun 1954 bukanlah ingin menjadikan kampus Unair ini
sebagai kampus yang mahal, namun menjadikannya kampus yang terjangkau oleh
semua kalangan rakyat. Namun sayangnya, amnesia sejarah ternyata masih tetap
terjadi. Terjadi permufakatan jahat antara Rezim Neoliberal SBY-Boediono,
Menteri Pendidikan Nasional dan Pejabat struktural Unair, untuk menggadaikan
kampus Unair kepada kaum pemodal dan tiga setan dunia (IMF, World Bank,
WTO). Rasa kebangsaan yang digembor-gemborkan dalam Kongres Pancasila di
Unair beberapa waktu lalu, ternyata tak lebih hanyalah pepesan kosong, tak
terwujud di lapangan.

Oleh karena itulah, dalam aksi damai ini kami dari Forum
Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga menyatakan sikap :

1. Menuntut kepada Pejabat Unair, Menteri Pendidikan Nasional dan
Pemerintahan SBY-Boediono untuk segera membatalkan kenaikan biaya pendidikan
di Unair karena kebijakan tersebut adalah simbol pelupaan dan pengkhianatan
sejarah perjuangan nasionalisasi Unair dari tangan Kolonial Belanda.

2. Kasus kenaikan Biaya SP3 di Unair semakin menunjukkan tentang
bahaya neoliberalisme Pendidikan yang pasti akan di ikuti dengan kenaikan
biaya kuliah, Pemadatan Kurikulum, pungutan liar dalam dunia pendidikan.

3. Hancurkan Neoliberalisme yang terbukti hanya akan membawa
keuntungan bagi segelintir orang dan sebaliknya akan menyengsarakan banyak
orang.

Kawan di Tanah Unair ini tertulis sebuah cerita tentang perjuangan
gigih anak bangsa untuk menasionalisasi aset Kolonial Belanda menjadi milik
rakyat Indonesia. Di tanah Surabaya ini ! tertulis cerita, dulu tahun 1945
arek-arek Surabaya dan Rakyat Jawa Timur tidak pernah takut serta mundur
menghadapi gempuran kaum kolonial Sekutu. Di tanah air Indonesia ini ! tentu
masih sangat terasa bagi kita semua bau anyir ceceran darah dari para
pejuang kemerdekaan. Jadi sekali lagi kami serukan kepada kawan-kawan
sekalian, *“Jangan pernah takut dan mundur dalam melawan penjajahan gaya
baru di Universitas Airlangga maupun di Indonesia umumnya”*.
*Juru Bicara FAM Unair*

* *

*Angela Sima Nariswari Mahasiswa Kedokteran Unair
08385566400*

*Albertus Beny Mahasiswa Farmasi Unair
085732584042 ***

* *

*NB : FAM UNAIR juga membuka “Posko Gerakan Merah Putih 1954” bagi
kawan-kawan yang ingin bersolidaritas mengumpulkan bendera dan pengaduan
kasus bagi kawan-kawan mahasiswa baru terkait kenailkan SP3. Bertempat di
depan perpustakaan kampus B Unair dan Depan Auditorium Kampus C Unair. *

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nazaruddin Akhirnya Tiba di Indonesia

    Nazaruddin Akhirnya Tiba di Indonesia

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, Sosok M Nazaruddin tidak henti-hentinya memancing kontroversi setelah namanya terseret dalam kasus dugaan suap untuk proyek pembangunan Wisma Atlet Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan. Tak sampai 24 jam setelah ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nazaruddin berhasil melarikan diri ke Singapura dan sempat bersembunyi untuk beberapa lama di negara tetangga itu dengan dalih […]

  • Pencipta Lagu Ahmad Nasyari Nasution Ditelikung Produser

    Pencipta Lagu Ahmad Nasyari Nasution Ditelikung Produser

    • calendar_month Selasa, 14 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Masih ingatkah Anda terhadap lagu Mandailing “Ikom-Ikom”, “Inang Sarge”, “Bulan dohot Angin”, dan lagu “BoruTulang”? Pencipta lagu itu bernama Ahmad Nasyari Nasution, seniman sepuh pencipta lagu-lagu Mandailing. Yang juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu yang dinyayikan penyanyi Mandailing legendaris, Mariati. Saat ini Ahmad Nasyari Nasution tengah berjuang mempertahankan hak atas terjadinya  dugaan […]

  • Biografi A. H. Nasution

    Biografi A. H. Nasution

    • calendar_month Kamis, 26 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Nama Lengkap : A. H. Nasution Alias : Abdul Haris Nasution | Pak Nas | AH Nasution Profesi : – Agama : Islam Tempat Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara Tanggal Lahir: Selasa, 3 Desember 1918 Zodiac : Sagittarius Hobby : Membaca | Bermain tenis Warga Negara : Indonesia Anak : Hendrianti Saharah, Ade […]

  • H. Ayyub Sulaiman Lubis, Perintis Kemerdekaan Asal Kotanopan

    H. Ayyub Sulaiman Lubis, Perintis Kemerdekaan Asal Kotanopan

    • calendar_month Senin, 21 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Askolani Nasution Tahun 1990, saya mewakili orang tua dalam Ramah Tamah dengan para keluarga Perintis Kemerdekaan asal Sumatera Utara di Medan, bertemu dengan H. Ayyub Sulaiman Lubis. Lelaki berperawakan kecil yang menjadi Ketua Persatuan Persatuan Perintis Kemerdekaan Sumatera Utara setelah H. Mahals meninggal. Tak banyak bicara. Bersama saya waktu itu ada Muhammad TWH, […]

  • Polisi Didukung Warga Berantas Peredaran Judi di Madina

    Polisi Didukung Warga Berantas Peredaran Judi di Madina

    • calendar_month Jumat, 19 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Maraknya penyakit masyarakat seperti judi jenis togel dan kim mendapat respon positif dari seluruh elemen masyarakat. Dan secara tak langsung mendukung Kepolisian Resort Kabupaten Mandailing Natal (Madina) untuk memberantas peredaran judi tersebut. Dukungan itu disampaikan Tokoh Agama Madina, H Sabirin Rangkuti Lc, yang juga salah seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Madina dari […]

  • Rugikan Negara Rp10 M Mantan Kadinkes Labusel Ditahan

    Rugikan Negara Rp10 M Mantan Kadinkes Labusel Ditahan

    • calendar_month Senin, 22 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN, – Penyidik Subdit III/Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Poldasu, Jumat (19/7), akhirnya melakukan penahanan terhadap lima tersangka dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan (alkes) di Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel). “Sekarang tersangkanya masih dalam perjalanan, dijemput anggota kita dari sana (Labusel, red). Kelimanya akan langsung kita tahan,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Sumut, Kombes Pol […]

expand_less