Sabtu, 14 Mar 2026
light_mode

Angkola-Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 8 Sep 2022
  • print Cetak

Catatan ringkas: Askolani Nasution
Budayawan

Dalam bahasa Mandailing-Angkola “batang” bermakna muara sungai. Misalnya, sungai Batang Natal, artinya sungai yang bermuara ke Natal. Seluruh geografis yang dilewati sungai itu sampai bermuara ke Natal dinamai “alak” Batang Natal.

Sungai Batang Angkola artinya sungai yang bermuara ke wilayah Angkola. Jadi, semua kawasan yang dilalui sungai itu disebut “alak” Angkola.

Semua kawasan yang dilalui sungai Barumun disebut “alak” Barumun. Semua yang dilewati Batang Gadis disebut “alak” Mandailing. Dan seterusnya.

(Lalu, apa Batang Gadis juga sungai yang bermuara ke Gadis? Ya, itu ke Singkuang, pelabuhan perdagangan. Gadis = jual, dagang. Singkuang justru nama yang diberikan pedagang Tionghoa.)

Itu pengelompokan wilayah geografis. Bukan pengelompokan budaya. Budayanya hanya satu: namanya budaya Mandailing-Angkola. Lalu dibuat lebih simpel oleh orang di kawasan itu. Orang yang tinggal di wilayah geografis Mandailing menyebut “adat Mandailing”. Orang yang bermukim di wilayah geografis Angkola menyebutnya “adat Angkola”. Tidak ada kebudayaan Padang Bolak. Tidak ada kebudayaan Sipirok, Batang Toru, dan lain-lain.

Mandailing dan Angkola hanya beda aksentuasi saja. Bukan dua adat dan budaya yang berbeda. Ketika di kawasan geografis Padang Bolak, beda sentuhan lagi. Tentu karena beda alamnya: dominan padang rumput, kerbau dan lembu, buah malaka, dan lain-lain. Karena itu masakannya juga sedikit berbeda. Juga ketika di Sipirok karena alamnya yang sejuk. Sampai ke aroma kopinya juga berbeda.

Terus, yang berbeda budaya apa (untuk kawasan Tabagsel)? Itu suku Ulu Muara Sipongi, suku Lubu di lembah Tor Sihite, dan suku Pesisir di Pantai Barat Mandailing. Hanya itu.

Mandailing dan Angkola tidak juga berbeda bahasa. Tidak juga berbeda aksara. Bedanya hanya di tingkat lafal saja. Misalnya kata [kampung] dalam logat Mandailing diucapkan menjadi [kappung] dalam logat Angkola. Penulisannya sama. Makanya Sidimpuan tidak ditulis Sidippuan.

Tidak percaya? Coba baca naskah-naskah lama yang ditulis oleh Soetan Martoea Radja Siregar (Doea Sadjoli), Sutan Pangurabaan Pane (Tolbok Haleon), dan buku berbahasa Mandailing-Angkola lain yang terbit sebelum merdeka. Penulisannya ya seperti bahasa di Mandailing sekarang. Karena memang tidak berbeda.

Sejarah juga tidak berbeda. Sama-sama mengalami dominasi kerajaan Sri Wiyaya, Majapahit, Aru, dan lain-lain.

Hanya pusat peradaban yang berpindah-pindah karena kolonialisme. Kerajaan Mandala Holing atau kerajaan Kalingga yang berpusat di delta sungai Barumun memang wilayah kekuasaannya sampai ke Mandailing. Kata Mandailing juga dipercaya berasal dari Mandala Holing, atau kerajaan orang Kalingga. Makanya aneh kalau orang di bekas wilayah kerajaan Kalingga tidak merasa orang Mandailing.

Istilah Angkola muncul karena serbuan pasukan Rajendra Chola I ke wilayah Barumun hingga Mandailing tahun 1030 masehi. Rajendra Chola itu dari India. Lalu mereka memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan apa yang disebut Angkola sekarang. Sebelum 1030 tidak ada istilah Angkola. Bahkan saat itu namanya baru Chola.

Penguatan istilah Angkola terjadi pada masa kolonialisme Belanda. Tahun 1840 muncul Asisten Residen Mandailing Ankola (ankola, tidak pakai huruf G).

Mengapa ada yang tidak mau disebut Mandailing atau Angkola. Itu karena egosentris raja-raja tradisional yang menguasai kawasan Tabagsel sebelum merdeka. Misalnya Mandailing Julu dikuasai marga Lubis, Mandailing Godang dikuasai raja Nasution, Dalimunthe menguasai Sigalangan, dan seterusya.

Padahal, jauh sebelum kerajaan-kerajaan yang muncul di abad ke 15 itu, semua satu kawasan sejarah yang sama.

Itu diperburuk lagi oleh pemerintah yang seakan-akan membedakan Mandailing dan Angkola. Lalu dibuatlah kamus Bahasa Angkola oleh Balai Bahasa Sumatera Utara. Dibuat juga kamus Bahasa Mandailing oleh yang lain. Seolah-olah dua sistem bahasa yang berbeda. Padahal kamus itu, semua orang Tabagsel (Tapanuli Bagian Selatan) bisa memahaminya, baik Angkola maupun Mandailing. Mengapa dua bahasa yang makna bahasanya sama, dikelompokkan atas dua bahasa yang berbeda?

Maksud saya hanya ingin mengatakan bahwa Mandailing dan Angkola itu sama. Jangan merasa berbeda dan membuat perpecahan hanya karena ego personal atau karena tidak tahu sejarah. Sebutan Mandailing saja atau Angkola saja, hanya untuk memperpendek kata, sebatas penunjuk kawasan geografis; jangan diartikan dua budaya yang berbeda. Hanya kawasan yang berbeda karena pemukiman di dua bantaran sungai yang berbeda. Bantaran itu berbeda karena beda gunung sebagai sumber sungai: Dolok Malea, Dolok Lubuk Raya, Sibual Buali, Sanggarudang, dan lain-lain.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN Panyabungan Akui Kesalahan Pencatatan Rekening

    PLN Panyabungan Akui Kesalahan Pencatatan Rekening

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Pihak PLN Ranting Panyabungan mengakui ada kesalahan dalam pencatatan rekening listrik milik pelanggan oleh sejumlah petugas. Hal itu dikatakan Rahman, Supervisor Cater pada PLN Ranting Panyabungan kepada MedanBisnis, Senin (18/4), di ruang kerjanya, Panyabungan. Dia mengatakan, dari banyaknya pelanggan yang mereka tangani, pasti ada kesalahan dalam pencatatan rekening listrik. ”Sebagai manusia biasa kita tidak […]

  • Jalan Menuju 3 Desa di Tambangan Hancur, Warga Hanya Dapat Janji Manis

    Jalan Menuju 3 Desa di Tambangan Hancur, Warga Hanya Dapat Janji Manis

    • calendar_month Selasa, 17 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Laporan : Panusunan Nasution – dari Tambangan Tiga Desa di Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal (Madina) bisa dikatakan desa yang minim perhatian pemerintah daerah. Ketiga desa itu berada di bagian ujung kawasan seberang Tambangan, yakni  Desa Rao-Rao Dolok, Rao-Rao Lombang dan Desa Panjaringan. Pantauan Mandailing Online, Selasa (17/11/2020) akses jalan dari perbatasan Desa Tambangan Pasoman menuju […]

  • Brigadir Satu Norman mundur? Terserah saja

    Brigadir Satu Norman mundur? Terserah saja

    • calendar_month Senin, 26 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Surabaya (ANTARA News) – Niat Brigadir Satu “Chaiyya chaiyya” Norman Kamaru menanggalkan seragam alias pensiun dari keanggotaan polisi sepenuhnya terserah dia. Korps Brimob Mabes Polri tak akan menghalang. “Terserah dia. Itu khan urusannya sendiri, kami tidak keberatan,” ujar Kepala Korps Brimob Mabes Polri, Irjen Pol Syafie Aksa,l ketika ditemui di sela kunjungannya di Surabaya, Senin. […]

  • Pergantian Kepsek MAN Kase Raorao Salah Fatal

    Pergantian Kepsek MAN Kase Raorao Salah Fatal

    • calendar_month Kamis, 30 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Pemerhati Pendidikan Batang Natal, Marahalim Nasution menilai keputusan Kanwil Kemenag Sumut mengganti kepala sekolah MAN Kase Raorao merupakan kesalahan fatal. Itu dikatakan Marahalim, Kamis (30/6/2016) terkait penempatan kepala sekolah yang baru di MAN Kase Raorao, Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal menggantikan H. Irfansyah, SPd, MA. “Saya katakan bahwa keputusan Kanwil […]

  • Palestina Hanya Merdeka dengan Islam, Bukan Persetujuan Hukum Internasional

    Palestina Hanya Merdeka dengan Islam, Bukan Persetujuan Hukum Internasional

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I Dosen Pendidikan Islam Menyedihkan! Shame on You, wahai para penguasa Muslim! Kondisi yang semakin buruk terjadi di Gaza, Palestina. Justru para penguasa Muslim khususnya negara-negara Arab melakukan penghianatan nyata dan sikap yang di luar nalar sehat. Dilansir dari CNBC Indonesia, bahwa  negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, […]

  • SBY Mengeluh Lagi

    SBY Mengeluh Lagi

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Merasa Jadi Sasaran Fitnah JAKARTA- Dugaan kasus yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) Muhammad Nazaruddin kian melebar. Setelah dugaan keterlibatannya dalam kasus suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games 2011 dan pemberian uang kepada Sekjen Mahkamah Konstitusi (MK) Janedjri M. Gaffar, muncul pesan singkat (SMS) gelap yang mengatasnamakan Nazaruddin. SMS gelap bernomor Singapura yang […]

expand_less