Senin, 16 Mar 2026
light_mode

Antara Pemenuhan Gizi, Kemiskinan dan Solusinya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 25 Okt 2022
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan, S.Pt
Penulis, tinggal di Padangsidempuan

Seruan pengampu kebijakan agar masyarakat memenuhi kebutuhan gizi keluarga terus disuarakan. Melalui kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan pentingnya pemenuhan gizi keluarga guna mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto mengatakan, perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditunjang dengan pemenuhan gizi seimbang dengan nutrisi yang optimal.

Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu maka dikhawatirkan anak-anak mudah terserang penyakit sehingga daya tahan tubuhnya harus dijaga melalui asupan gizi seimbang,” katanya di Jakarta, Ahad (16/10/2022).

Dia menyebutkan, pemenuhan gizi keluarga perlu memperhatikan kandungan makronutrien, seperti karbohidrat, protein dan lemak, juga mikronutrien, seperti vitamin dan mineral serta air. (Republika.co.id, 16/10/22)

Sayangnya masih banyak penduduk di negeri ini tercatat dalam garis kemiskinan yang ekstrim. Misalnya yang terjadi pada kota Surabaya. Dilansir dari Liputan 6.com (16/10/22) Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya mencatat, sedikitnya 23.532 warga di wilayah setempat masuk dalam data kemiskinan ekstrem, yang diketahui dari hasil pencocokan data melalui administrasi kependudukan, yakni kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) dengan kondisi di lapangan.

Problem kekurangan gizi sangat erat kaitannya dengan kemiskinan masyarakat negeri ini. Alih-alih untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, untuk bertahan hidup pun tak ada jaminan yang menjanjikan. Semua masyarakat sepakat, jika punya keuangan yang cukup, pastilah kepala keluarga akan sangat-sangat memperhatikan kebutuhan gizi keluarga terutama anak-anaknya.

Seruan pemenuhan gizi oleh pengampu kebijakan, membuat masyarakat miskin sakit hati. Bagaimana tidak, bukannya tidak ingin memenuhi gizi generasi, namun tak ada daya upaya untuk memenuhinya. Kemiskinan masih menjadi teman karib yang sulit ditinggalkan.

Belum lagi dengan kenaikan harga bahan pokok yang terus melambung tinggi. Ditambah lagi tarif listrik dan BBM pun ikut merangkak naik. PHK di beberapa perusahaan pun sudah terjadi. Kalau sudah begini, masyarakat miskin akan terus tertatih-tatih untuk sekedar bertahan hidup.

Ditambah lagi problem ekonomi masyarakat pasca pandemi yang belum pulih. Membuat kepala keluarga kesulitan untuk memperoleh lapangan pekerjaan dengan upah yang layak. Beberapa kepala keluarga telah memiliki pekerjaan yang tetap, namun sayang itupun belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

Tak salah, jika seruan pemenuhan gizi di tengah kondisi masyarakat yang mencekik ini dapat disebut sebagai narasi tanpa empati. Sebab masyarakat tak mungkin mampu memenuhi pemenuhan kebutuhan gizi di tengah problem kemiskinan yang dihadapi.

Hal ini juga membuktikan ketidakpahaman pemerintah terhadap realita yang sedang dihadapi rakyat. Apalagi angka stunting masih sangat tinggi. Seyogianya pengampu kebijakan seharusnya peduli dan memberikan solusi untuk masyarakat.

Tidak terpenuhinya kebutuhan gizi keluarga dan anak dipicu oleh faktor kemiskinan. Hal ini karena dampak ekonomi kapitalisme yang bercokol di negeri ini. Sistem ini telah gagal menjamin kesejahteraan bagi masyarakat. Sistem ini memberikan amanat pengurusan urusan umat kepada swasta atau korporasi, yang seharusnya dalam hal ini dilakukan oleh negara atau pemerintah. Sehingga pelayanan pun diberikan sesuai harga yang dibayarkan.

Sistem ekonomi kapitalisme juga salah kaprah dalam memandang distribusi kebutuhan pokok rakyat. Sistem ini memandang bahwa distribusi merupakan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok rakyat sesuai dengan jumlah masyarakat. Tanpa mempertimbangkan apakah kebutuhan tersebut mampu dibeli dan dijangkau oleh masyarakat atau tidak. Padahal satu saja individu masyarakat yang tidak mampu membeli atau memenuhi kebutuhan pokoknya berarti negara telah gagal dalam melakukan distribusi dan menjamin kebutuhan pokok masyarakat, individu per individu.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan Islam. Indikator keadilan dan kesejahteraan sistem Islam adalah terjaminnya kebutuhan pokok individu per individu. Untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dalam sistem Islam akan menempuh dua cara yaitu dengan mekanisme langsung dan tidak langsung.

Mekanisme langsung yaitu memenuhi kebutuhan pokok berupa jasa. Sedangkan mekanisme tidak langsung dipenuhi melalui kebutuhan pokok berupa barang.

Mekanisme langsung ditempuh dengan mewajibkan negara memberikan pelayanan langsung berupa jasa secara gratis kepada seluruh rakyat negara Islam tanpa terkecuali. Seperti pelayanan kesehatan pendidikan dan keamanan. Karena ketiganya merupakan kebutuhan dasar rakyat. Negara juga wajib menyediakan fasilitas dengan berkualitas untuk menunjang pelayanan ini. Seperti pengadaan rumah sakit dan sekolah dengan segala infrastruktur yang berkualitas. Serta sarana perlindungan keamanan dengan segala perangkat hukumnya.

Mekanisme tidak langsung untuk menjamin kebutuhan pokok rakyat yaitu ditempuh dengan cara menciptakan kondisi dan sarana yang menjamin kebutuhan pokok rakyat. Diantaranya yang pertama yaitu negara memberikan dan membuka lapangan pekerjaan dengan seluas-luasnya. Negara juga akan mempermudah akses lapangan pekerjaan guna memberikan kepastian bagi setiap kaum laki-laki untuk bekerja. Sehingga mereka dapat memenuhi dan menjamin gizi yang berkualitas bagi keluarganya.

Kedua, jika individu tersebut tidak sanggup atau tidak mampu untuk bekerja, misalnya karena faktor usia, sakit ataupun cacat. Maka ahli waris diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Jika tidak ada ahli waris yang mampu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya maka negara wajib memenuhinya dengan menggunakan kas Baitul Mal.

Beginilah cara sistem Islam dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Tidak hanya sekedar seruan tanpa memberikan solusi. Tidak hanya sekedar narasi tanpa empati.

Jika kebutuhan primer terpenuhi maka gizi keluarga dan anak tentu akan bisa tercukupi. Jika akses ekonomi dan pendidikan mudah maka kualitas sumber daya manusia akan meningkat. Maka dari itu, setiap orang tua akan memahami tentang pengetahuan mengenai tata cara dalam memenuhi gizi dan nutrisi anak.

Demikianlah hanya sistem Islam dalam naungan negara Islam yang mampu menjamin gizi yang berkualitas bagi masyarakatnya, bagi setiap individu per individu.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Berkategori

    PEMKAB MADINA SEPI

    • calendar_month Selasa, 21 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komplek perkantoran Pemkab Madina sepi, Selasa (21/5/2013). Aktifitas perkantoran juga terlihat lesu. Hari-hari sebelumnya juga terlihat sepi sejak bupati Madina Hidayat Batubara berada di Jakarta sebagai tahanan KPK. Sejumlah staf di perkantoran Pemkab Madina menyebutkan, banyak kepala SKPD yang berangkat ke Jakarta dengan alasan untuk urusan pemerintahan dengan bupati. Sementara itu, […]

  • Kasus Smart Village Bernilai 9,4 Miliar di Madina Tahap Penyidikan

    Kasus Smart Village Bernilai 9,4 Miliar di Madina Tahap Penyidikan

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA -Mandailing Online: Ternyata proses hukum perkara dugaan korupsi desa digital atau Smart Village yang ditangani Kejaksaan Negeri Mandailing Natal ( Madina ) sudah tahap penyidikan. Namun sejauh ini kejaksaan belum menetapkan tersangka. Kasi Intelijen Kejari Madina, Jufri Wandy Banjarnahor SH, MH, Selasa (23/09/25) dikutip dari DataPos.id menjelaskan bahwa  tim masih terus melakukan penyidikan dan […]

  • Guru Tuntut Uang Sertifikas

    Guru Tuntut Uang Sertifikas

    • calendar_month Sabtu, 30 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diduga Ditilap, Bendahara tak Masuk Kantor LANGKAT- Bendahara Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Langkat RZ, diduga menilap (menggelapkan) dana sertifikasi ratusan guru untuk termin II (April-Juni) senilai Rp1 miliar. Pasalnya, sampai saat ini, ratusan tenaga pendidik di Madrasah Diniyah (MDA), Taman Pembacaan Al-Quran (TPQ), Madrasah Aliyah (MA) dan Taman Kanak-Kanak RA (TK/RA) belum menerima dana sertifikasi […]

  • DPRD Madina Usul Pola Pendidikan Akhlakul Karimah

    DPRD Madina Usul Pola Pendidikan Akhlakul Karimah

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online ) – Komisi I DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengusulkan pola pendidikan yang menekankan kepada pengauatan akhlakul karimah. Sekretaris Komisi I, M. Rahim Nasution menyatakan usulan itu akan diajukan dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda), Selasa (20/10). Ranperda itu menyangkut  pengelolaan dan penyelanggaraan pendidikan dasar yang memiliki kandungan pengembangan kemampuan  dan mendidik sumber […]

  • Pusuk Ni Otang Juga Didatangkan Dari Pasaman

    Pusuk Ni Otang Juga Didatangkan Dari Pasaman

    • calendar_month Jumat, 26 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pusuk ni otang atau lebih populer sebutan pangkat yang memasuki paar-pasar di Mandailing Natal (Madina) pada Ramdhan ini selain didatangkan dari hutan-hutan lokal, juga dari Pasaman, Sumatera Barat. Amrijal (35) salah satu pedagang pangkat musiman, Jum’at (26/7/2013) mengungkapkan, bahan baku pangkat yang dijualanya berasal dari Panti, Kabupaten Pasaman, Sumbar dan sebagiannya […]

  • RAPBN 2016 Makin Liberal

    RAPBN 2016 Makin Liberal

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    (Target Pajak Digenjot, Beban Rakyat Ditambah) Presiden Jokowi telah menyampaikan Nota Keuangan dan RAPBN 2016 kepada DPR. RAPBN 2016 disusun berdasarkan asumsi makro: pertumbuhan 2016 5,5-6%; inflasi 4% plus-minus 1%; nilai tukar dolar AS Rp 13.000-13.400; suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 4-6%; angka pengangguran 5,2-5,5%; angka kemiskinan 9-10%; rasio gini 0,39 […]

expand_less