Senin, 16 Mar 2026
light_mode

Apa yang Diharapkan dari Kedatangan Presiden Jokowi ke Madina? (bagian 2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 20 Mar 2017
  • print Cetak

Jalan tol di Tabagsel ilustrasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk itu kita berharap kepada Gubernur Sumatera Utara agar berani melakukan langkah radikal dalam mewujudkan jalur-jalur jalan tol di dua kawasan itu. Kebijakan yang selama ini dilakukan oleh para gubernur maupun bupati/walikota di kawasan ini masih di berkelas kebijakan klasik bernilai keberanian rendah dan kekuatan daya bangun rendah, tak memiliki nilai radikal. Kita butuh pimpinan radikal visioner.

——————————————————————————-

Dulu ada istilah “Jakarta puk” – “Medan M majolo”. Satu istilah di Mandailing yang memandang Jakarta dan Medan sebagai tujuan merantau. Apapun itu, tetap saja bisa disudutpandangi sebagai urbanisasi : merantau ke kota dan bekerja di setor industri atau jasa atau perdagangan, meninggalkan sektor pertanian (marsaba).

Kenapa Jakarta atau Medan? Menagapa tak Sidimpuan atau Panyabungan atau Kotanopan atau Sibuhuan atau Gunungtua? : karena industri/jasa/perdagangan tumbuh lambat seperti jalan keong atau malah stagnan di Tapanuli Bagian Selatan. Faktornya menurut para pelaku usaha : infrastruktur (jalan/jembatan/energi,air bersih) dan regulasi yang parah menyebabkan investasi rendah sehingga industri/jasa/perdagangan tak tumbuh.

Gubernur atau bupati jangan bicara petani sejahtera jika lahan masih 1 bunbun/KK. Minimal 2 hektar (12 bunbun) baru diizinkan bicara sejahetera. Lalu bagaimana agar 2 hektar per KK? Menurut pakar : jumlah petani harus dikurangi, sehingga sisa petani yang ada akan memiliki lahan antara 1 hingga 2 hektar per KK. Bagaimana mengurangi petani? : Tumbuhkan industri/jasa/perdagangan/perkebunan agar petani sawah keluar dari sawah. Tentu jalan tol merupakan awal mulanya.

Jika jalan tol ada, bukan saja industri, perdagangan dan jasa yang berkembang menggeliat hiruk pikuk, tetapi industry yang bersifat agro (perkebunan, peternakan, perladangan, perikanan dll) akan menggeliat luar biasa karena seluruh jaringan distribusi sudah lancar.

Di Malaysia, belasan tahun Mahathir Muhammad focus di 2 sektor : infrastruktur dan pendidikan. Hasilnya : industry/jasa/perdagangan tumbuh, SDM tumbuh. Akhirnya, jumlah petani sawah berkurang. petani sawah meninggalkan sawah (hanya di Kedah yang ada parsaba), mereka beralih ke sektor industry/jasa/perdagangan. Sawah itu disewakan kepada perusahaan yang bergerak di pertanian.

Pemerintah Amerika Serikat berhasil mengurangi jumlah petani melalui penumbuhan industri/jasa/perdagangan. Jumlah petani menurun dari 25% pada tahun 1930an menjadi kurang dari 2% pada era 2010, saat ini hanya 0,1% penduduk AS yang bekerja secara penuh sebagai petani.

Apakah bandara Aek Godang di Padang Lawas, Bandara Bukit Malintang di Madina mampu menggenjot pertumbuhan industri/jasa/perdagangan? Tidak!!. Pesawat terbang tak mampu membawa CPO sawit dari Natal ke Medan; pesawat terbang tak mampu memperlancar arus barang indutri, arus barang perkebunan, arus barang peternakan, karena pesawat terbang hanya mampu membawa orang dari Kuala Namu ke Bukit Malintang atau ke Aek Godang.

Industri/jasa/perdagangan hanya akan tumbuh jika jalan lebar (tiap jalur memiliki 4 lajur) dari Palas ke pelabuhan/dari Madina ke pelabuhan/dari Tapsel ke pelabuhan/dari Paluta ke pelabuhan/dari Sidimpuan ke pelabuhan sebagi jalur utama. Lalu jalur Kotanopan/Morsip ke Panyabungan terhubung ke Natal/Batahan/ Singkuang. Jalur Sorkam ke Sibuhuan terkoneksi ke Gunung Tua-Sidimpuan-Angkola-Sipirok dan jalur-jalur interkoneksi lainnya yang lebar-lebar.

Si pengusaha pasti menghitung distribusi barang sebelum memutuskan berinvestasi di satu kawasan. Soal angkutan manusia toh sudah ada bandara di Piangsori yang mampu didarati Garuda jenis Boening, dan si pengusaha akan lebih cepat menempuh Pinangsori-Muara Sipongi, Pianangsori-Sibuhuan, Piangsori-Angkola, Pinangsori-Tabuyung via Batangtoru dengan jalan 4 lajur sambil melihat dari jendela mobil ke arah truk teronton membawa bahan baku industri yang melintas dengan kecepatan maksimal di jalan 4 lajur yang lebar. Hilir mudik turuk-truk besar yang ramai pertanda pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Untuk itu kita berharap kepada Gubernur Sumatera Utara agar berani melakukan langkah radikal dalam mewujudkan jalur-jalur jalan tol di dua kawasan itu. Kebijakan yang selama ini dilakukan oleh para gubernur maupun bupati/walikota di kawasan ini masih di berkelas kebijakan klasik bernilai keberanian rendah dan kekuatan daya bangun rendah, tak memiliki nilai radikal. Kita butuh pimpinan radikal visioner.

Dahlan Batubara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN Juga Belum Ada di Desa Batahan, Kotanopan

    PLN Juga Belum Ada di Desa Batahan, Kotanopan

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Selain kondisi jalan teramat parah, jaringan PLN juga belum ada di Desa Batahan Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina). Sektor pendidikan dan kesehatan juga sangat memprihatinkan di desa terisolir tersebut. “Sebetulnya keluhan ini sudah sering kita sampaikan baik itu melalui media, melalui DPRD Madina, akan tetapi nampaknya pembangunan belum terlaksana,” kata tokoh […]

  • Asap Datang Lagi

    Asap Datang Lagi

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setelah sekitar sepekan hilang, kini asap kembali menyelimuti Panyabungan dan kawasan lain di Mandailing Natal. Pantauan di Panyabungan, Rabu (30/9), asap mulai menyelimuti langit sejak pagi, dan terus menebal hingga sore. “Padahal, dalam sepekan terakhir, asap ini telah hilang digerus oleh hujan yang turun,” kata Hollad Lubis kepada Mandailing Online di […]

  • Naposo Bulung di Aceh Galang Dana Untuk Banjir Sidimpuan dan Madina

    Naposo Bulung di Aceh Galang Dana Untuk Banjir Sidimpuan dan Madina

    • calendar_month Jumat, 31 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ACEH (Mandailing Online) – Naposo Nauli Bulung Tapanuli Bagian Selatan yang berada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam melakukan penggalangan dana untuk korban banjir bandang Kota Padang Sidimpuan dan Mandailing Natal. Penggalangan dana ini dilaksanakan di beberapa titik di Kota Banda Aceh sejak 29 Maret hingga 1 April 2017 dan akan disalurkan di beberapa titik banjir […]

  • Penetapan DPT Diundur 30 Hari

    Penetapan DPT Diundur 30 Hari

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    RAPAT dengar pendapat antara Komisi II DPR dan penyelenggara pemilu dan Kemendagri akhirnya menyepakati untuk memundurkan jadwal penetapan daftar pemilih tetap (DPT) di tingkat kabupaten/kota. Menurut jadwal semula, penetapan DPT di tingkat kabupaten/kota dilakukan besok (13 September). “Penetapan DPT harus diundur selambat-lambatnya 30 hari dari jadwal penetapan semula karena hingga saat ini proses pemutakhiran data […]

  • Ekonom Faisal Basri: Percepatan Pembangunan Madina Harus Melalui FGD

    Ekonom Faisal Basri: Percepatan Pembangunan Madina Harus Melalui FGD

    • calendar_month Selasa, 28 Feb 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) –  Ekonom Faisal Basri menyebut sejumlah gagasan para tokoh Madina secara grafik sudah lengkap dalam skema percepatan pembangunan Mandailing Natal (Madina), Sumut. Poin-poin gagasan antara lain persoalan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, perkebunan, pertanian, transportasi dan perkotaan. Hanya saja, seluruh proposal itu harus ditindaklanjuti dengan membentuk Forum Group Discussion (FGD). “Ini tidak mungkin bisa […]

  • SATI NASUTION WILLEM ISKANDER, 1840-1876 (1)

    SATI NASUTION WILLEM ISKANDER, 1840-1876 (1)

    • calendar_month Senin, 27 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh Basyral Hamidy Harahap (Diposting oleh: Erond L. Damanik, M.Si – Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan) Baginda Mangaraja Enda, generasi III Dinasti Nasution, mempunyai tiga orang isteri yang melahirkan raja-raja Mandailing. Isteri pertama boru Lubis dari Roburan yang melahirkan putera mahkota Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar. Baginda Mangaraja Enda […]

expand_less