Sabtu, 14 Mar 2026
light_mode

Ari Rayo 1980

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
  • print Cetak

Catatan kecil: Askolani Nasution

Rabu, 13 Agustus 1980

Subuh terdengar nyaring takbir di mesjid. Bertalu-talu dengan suara bedug. Anak-anak berebut memukulinya dengan dua stik rotan yang sudah disiapkan.

“Allohu Akbar Walillahilhamdi….”

Tanpa dibangunkan, aku langsung duduk. Tentu saja, sejak semalaman tak nyenyak tidur karena menunggu hari raya.

Tikar pandan sudah digelar. Karung-karung berisi beras juga sudah ditata rapi. Ada atau tidak yang datang, tikar tetap digelar. Tidak satu dua, bisa lebih. Seolah-olah kalau Lebaran, siapa saja boleh datang untuk mencicipi alame dan lemang.

Aku berdiri dan melihat lemari. Ah, baju lebaran masih ada. Segera berlari ke mesjid membawa kain basahan dan sabun dalam ember kecil.

Pancuran sudah riuh. Semua yang tak biasa mandi pun, pagi itu mendadak mandi. Aku juga mesti dan sigap. Karena kakak dan abang juga menunggu sabun kami satu-satunya. Namanya anak paling kecil, aku diberi prioritas untuk pengguna pertama. Dan karena lebaran, sekali setahun kami pakai sabun mandi wangi. Tidak seperti biasa, hanya sabun batang yang dipotong dua bagian.

Selesai mandi, langsung menyorong baju baru. Ah, kebesaran ternyata. Karena Emak sengaja membeli ukuran untuk dua kali lebaran. Tentu saja, belum tentu tahun depan Emak sanggup membeli baju baru lagi.

Aku langsung menyelami Emak yang sudah berkemas sejak subuh tadi. Ketika aku menyorongkan tangan, Emak langsung memelukku.

“Ma nagodangan ko, Amang,” cetus Mak, seakan-akan untuk memuji dirinya sendiri. Tentu saja, ketika Ayah meninggal, aku aku belum lancar berbicara. Tiba-tiba sekarang sudah bisa menyebut maaf

Tak berlama-lama dalam kesedihan, Emak langsung menarikku makan. Harus makan katanya sebelum sholat Id. Lalu Emak mengambil gulai ayam, pahanya yang paling besar.

Dari mesjid terdengar pesan untuk membawa tikar ‘amparan’. Tentu karena kami sholat Id di tanah lapang. Emak sigap menarik beberapa tikar.

“Ayo,” kata Emak. Aku membawa tikar pandan yang lebih kecil. Emak membawa dua yang lebih besar. Sesekali aku menurunkan tikar karena kain sarungku melorot.

Anak-anak lain bersisihan jalan. Mereka juga bersama Ayah Ibu mereka. Semua tentu berbaju baru dan pakai minyak wangi. Wangi minyak merembes sepanjang jalan yang kita lalui.

Beberapa orang seusia abang dan kakak kita tentu memuji baju baru yang aku pakai. Ada yang sambil mencubit pipiku. Emak tertawa saja. Cubitan juga tanda sayang di kampung kami.

Gadis-gadis bergaya dengan sandal merek Lily. Tentu juga para pemuda dengan model yang berbeda. Juga dengan pangkas barunya. Tak lupa juga minyak rambut merek Lavender yang dibeli secuil semalam.

Anak gadis bergaya. Selendang mereka hanya dililitkan di bahu. Bahkan ada yang pakai sal yang dirajut sendiri selama ramadhan. Rambut ikal mereka dibiarkan tergerai. Rambut ikal dianggap modis. Itu jauh sebelum ada shampoo Sansilk yang menyebut cantik itu rambut hitam lurus tergerai.

Bahkan beberapa pemuda sengaja mengkritingkan rambut mereka. Meniru Ahmad Albar dan Junaidi Salat, pemeran film “Ali Topan Anak Jalanan.” Tapi celana mereka malah meniru gaya Arafiq, penyanyi dangdut dengan mode celana yang khas.

Anak-anak tentu juga dengan pangkas baru. Kemarin sampai malam tukang pangkas masih melayani banyak orang. Karena semua ingin bersih sekali setahun saat lebaran. Dan tentu juga pakai minyak rambut. Setidaknya dari santan kelapa. Tangan mereka juga diolesi santan, biar kesannya glowing.

Selesai sholat Id, anak-anak berebut jajan makan pecal, soto, dan cendol. Riuh. Penjualnya sigap melayani. Satu porsi hanya 25 perak. Dan hari itu, semua anak ingin memakan apa saja yang dijual, karena hanya sekali setahun mereka dikasih uang jajan lebih.

Tak lupa berkunjung ke rumah guru-guru. Salaman dan memohon maaf, sambil makan lemang yang diseduh dengan cytroop. Enak betul, legit dan manis. Warna merahnya menggoda. Belinya masih per sloki.

Ada juga mainan pistol air. Harganya 75 perak. Semua mendadak punya pistol air. Di isi dengan air atau gincu. Tentu kalau gincu tak boleh kena baju. Karena kita sayang betul dengan baju baru kita. Padahal anak-anak suka main perang-perangan.

Muda-mudi tentu berbeda. Mereka ingin nonton bioskop ke Panyabungan. Ramai menunggu angkot bermerek “Mandailing”. Anak muda naik ke atap angkot, atau bergayutan di tangga belakang, atau naik truk terbuka. Jalanan hilir mudik kenderaan.

Ada juga tukang foto keliling. Anak-anak gadis bergaya. Cetaknya setelah seminggu habis lebaran. Tidak afdol kalau berfoto tidak latar bunga. Karena itu, yang punya bunga bogenville di kampung akan menjadi sasaran objek foto. Eh, begitu dicetak, ternyata negatif filmnya terbakar. Padahal, itu foto sudah diniatkan jadi oleh-oleh buat pacar yang pulang kampung. Akhirnya hanya dikasih saputangan dan selembar surat kertas wangi.

4 x 4 = 16

Sempat tidak sempat harus dibalas.

Begitu surat itu ditutup sambil belajar membuat tanda tangan. Bangsat!

Poster bioskop bertebaran. Anak-anak berebut poster yang ditebar dari truk terbuka. Truk itu, sambil memajang poster besar di dindingnya, juga membagikan poster di setiap keramaian kampung, juga tanpa henti mengumumkan dari mic toa mereka tentang film yang akan tayang sepanjang hari hingga malam.

“Saksikan malam ini, duel seru antara Amitabachchan dengan Amjad Khan. Film Naseeb. Bersama Hema Malini. Jangan ketinggalan,” kata reporternya seakan-akan reporter bola di tv.

Kami anak-anak hapal nama-nama aktor India, sekalipun tak pernah menonton. Tentu karena poster-poster itu. Bahkan kami selipkan di buku pelajaran. Ada Amitabachchan, Darmendra, Rishi Kapoor, Sashi Kapoor, Jetendra, Sunil Duut, Rajesh Roshan. Ada juga Hemamalini, Jeenat Aman, Sharmila Tagore, Dimple Kapadia, dll. Poster film mereka selalu menarik dan bergaya.

Beberapa anak berkelahi. Tapi sesaat saja. Segera berteman lagi. Tidak ada musuhan sampai berhari-hari. Orang gampang berkelahi dan gampang juga berdamai. Tidak ada dendam yang disimpan.

Beberapa anak naik sepeda ke kampung tetangga. Tentu keluarga yang punya sepeda saja. Kalau bukan sepeda ontel, ya sepeda merek Phoenix yang sangat terkenal waktu itu.

Seharian kita bebas bermain. Bahkan Emak tak risau kalau kita tak pulang makan siang. Bukankah banyak jajanan di hari lebaran?

Beberapa bahkan ke sawah, mandi di kolam. Berkejaran atau adu cepat berenang. Tentu dengan telanjang karena baju baru tak boleh kumal.

Mandi tak pakai sabun juga tak mengapa. Siapa peduli odol merek Delident? Bahkan anak gadis tak peduli ada shampoo Sunsilk berbentuk bubuk layaknya Rinso.

Anak muda bersiul lagu-lagu India sambil menghisap rokok Commodore, Kansas, atau Lovely. Kalau dapat Gudang Garam merah sudah kren rasanya.

Selama lebaran Emak makan sendiri di rumah. Sekarang, ketika Emak sudah tiada, kita yang makan sendiri sambil mengenang masa kecil yang indah bersama Emak.

Ada orang-orang yang pulang kampung. Kita hanya ingin pulang ke masa kecil bersama Emak. Tapi kenangan memang hanya bisa melongok masa lalu, ia tak pernah punya jalan untuk bisa benar-benar kembali.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hasil Pleno Kecamatan, On Ma Unggul 2.620 Suara di Batang Natal

    Hasil Pleno Kecamatan, On Ma Unggul 2.620 Suara di Batang Natal

    • calendar_month Sabtu, 30 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): ada 2.620 selisih suara antara Paslon 1 dan 2 dari hasil perhitungan suara ditingkat kecamatan ( PPK ) pada Pilkada Madina. Hasil perhitungan itu sendiri dimenangkan oleh Paslon 1 Harun-Ichwan dengan jumlah suara 7.387 suara dan Paslon 2 Saipullah-Atika mendapatkan suara 4.767 suara. Hasil ini sendiri diperoleh setelah selesai dilakukan […]

  • Korban Banjir Butuh Makanan & Pakaian

    Korban Banjir Butuh Makanan & Pakaian

    • calendar_month Selasa, 5 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    17 Rumah Masih Terendam Air Setinggi 1 Meter TAPSEL-METRO; Korban banjir di Dusun Gua Asom, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, membutuhkan bantuan berupa makanan, air bersih, dan pakaian yang layak. Sebab, dari Sabtu (2/10) malam hingga Senin (4/10) warga masih bertahan di loteng. Mereka tidak berani turun ke bawah untuk mencari makan dan minum. […]

  • Harga Daging Mahal, Bupati Madina Sampaikan Aspirasi Kaum Ibu

    Harga Daging Mahal, Bupati Madina Sampaikan Aspirasi Kaum Ibu

    • calendar_month Sabtu, 29 Mar 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina), Saipullah Nasution menyampaikan aspirasi kaum ibu kepeda pedagang terkait harga daging di Panyabungan lebih mahal dibandingkan di Sidimpuan. “Kami berkeliling ke beberapa tempat dan ada aspirasi masyarakat, aspirasi ibu-ibu yang katanya harga daging di Panyabungan lebih mahal dibandingkan di Sidimpuan misalnya,” kata bupati memulai diskusi dengan pedagang […]

  • Golkar Dukung Hak-hak Warga Batahan

    Golkar Dukung Hak-hak Warga Batahan

    • calendar_month Sabtu, 5 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Terkait Rekomendasi Pansus Palmaris PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Fraksi Golkar Plus DPRD Mandailing Natal (Madina) menyatakan bahwa sikap tidak memberikan suara pada opsi pencabutan izin PT.Palmaris Raya, bukan berarti fraksi ini tidak memihak kepada rakyat Batahan. “Kami justru sangat mendukung terhadap semua keputusan yang memihak pada kepentingan dan hak-hak warga Batahan,” kata Ketua Fraksi Golkar, […]

  • Kasus Taman Raja Batu, 3 Lagi Pejabat Madina Ditahan Kejatisu

    Kasus Taman Raja Batu, 3 Lagi Pejabat Madina Ditahan Kejatisu

    • calendar_month Selasa, 10 Sep 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) –  Tiga pejabat Dinas PU Mandailing Natal ditahan Kejatisu, Selasa (10/9/2019). Dengan demikian sudah 6 pejabat ditahan dalam kasus pembangunan Taman Raja Batu. Ketiga pejabat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Madina itu adalah Syahruddin (kepala Dinas), Nasarudin S (pejabat pembuat komitmen) dan Lianawat (pejabat pembuat komitmen). Ketiganya ditahan Kejaksaan Tinggis Sumatera Utara (Kejatisu) […]

  • Kasus Koperasi Sawit Murni, 2 Terdawka Dituntut 3,6 Tahun Penjara

    Kasus Koperasi Sawit Murni, 2 Terdawka Dituntut 3,6 Tahun Penjara

    • calendar_month Rabu, 24 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dua orang terdakwa dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen di Koperasi Sawit Murni dituntut masing-masing 3 tahun 6 bulan penjara. Tuntutan dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Panyabungan, Julius Michael,SH dan Jupri Wandy Banjarnahor,SH di Pengadilan Negeri Mandailing Natal dalam persidangan pembacaan tuntutan yang dipimpin Hakim Ketua, Deny Riswanto,SH.MH, Rabu […]

expand_less