Home / Seputar Madina / Atika : Pebukaan Jalan ke Perkebunan Rakyat Satu Solusi Penting

Atika : Pebukaan Jalan ke Perkebunan Rakyat Satu Solusi Penting

Atika Azmi Utammi Nasution,B.AppFin.MFin

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Perkebunan rakyat merupakan salah satu lapangan usaha rakyat yang terbesar dalam struktur ekonomi Madina di sektor pertanian.

Bahkan, secara kalkulasi, perkebunan jauh lebih rill memakmurkan petani ketimbang sawah.

Sebab, standar kepemilikan luas lahan sawah sejatinya adalah 2 hingga 3 hektar per kepala keluarga. Tetapi luas sawah itu tak bisa tercapai per kepala keluarga akibat luas lahan di desa-desa tak sebanding dengan jumlah keluarga petani.

Oleh karena itu, selain menggenjot laju pendapatan rakyat dari sawah yang sudah ada, pengembangan sektor perkebunan dan pembukaan lahan kebun mutlak disediakan untuk rakyat.

Itu diungkap Calon Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Urammi Nasution, B.AppFin,MFin menjawab wartawan, Sabtu (5/12/2020) di Panyabungan.

“Jika petani hanya memiliki 0,2 hingga 0,5 hektar sawah akan tetap sulit makmur. Bahkan banyak petani tak punya sawah, hanya berposisi penyewa lahan,” ungkap Atika.

Oleh karena itu, Atika melihat bahwa perkebunan merupakan solusi penting mengalihkan pendapatan utama petani dari sawah.

Karena, 3 hektar sawah itu setara dengan 1,5 hektar perkebunan dari sisi perolehan hasil.

Oleh karena itu, sektor perkebunan harus dipacu untuk menjadi sumber pendapatan utama rakyat.

“Hal yang pertama yang harus dilakukan adalah pembukaan jalan ke lokasi-lokasi perkebunan,” katanya.

Dan itu tertuang di dalam misi Sukhairi-Atika pada poin 1 yakni “Meningkatkan ekonomi di bidang agrikultur, industri dan pariwisata berlandaskan kearifan lokal guna terwujudnya kebijakan yang inklusif (menyeluruh) dan berkelanjutan.

Bahkan secara geografis maupun sosio ekonomi, perkebunan justru seharusnya menjadi salah satu solusi utama meningkatkan pendapatan mayoritas penduduk Mandailing Natal (Madina).

Secara geografis, wilayah Mandailing Julu dan Mandailing Godang atau dari Muarasipongi hingga Siabu; dari Lingga Bayu hingga Nagajuang, struktur ekonomi wilayahnya adalah kawasan perkebunan.

Tetapi, rakyat tidak memperoleh dukungan penting dari pemerintah daerah sehingga lapangan usaha perkebunan belum mampu secara signifikan mengangkat rakyat ke tingkat kemakmuran ekonomi.

Salah satu indikator tidak adanya perhatian itu adalah minimnya akses jalan ke lokasi-lokasi perkebunan rakyat.

“Infrastruktur berupa pembukaan-pembukaan jalan ke lokasi-lokasi perkebunan rakyat mutlak dilakukan. Keberadaan jalan yang lebar adalah faktor utama agar sektor perkebunan bisa bergairah,” sebut Atika.

“Rakyat akan selalu sulit mengembangkan perkebunan jika jalan tak ada, mobilisasi petani hingga angkutan saprodi dan angkutan hasil kebun akan selalu terkendala serta menjadi penghalang bagi rakyat,” katanya.

 

Peliput : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

%d blogger menyukai ini: