Senin, 16 Mar 2026
light_mode

B A B I A T (Episode 2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Apr 2022
  • print Cetak

Karya: Halak Kotanopan

Sesampai di desa terdekat, sang suami menghentikan motor mereka di depan warung kopi pertama yang mereka temukan.

Sang istri turun dan langsung jatuh pingsan di pinggir jalan. Sang suami tidak punya kekuatan lagi untuk membantu istrinya. Dia hanya sanggup mendekati istrinya sebelum terjatuh lunglai.

Tidak urung kejadian ini membuat orang orang di warung kopi berhamburan keluar. Memang, pada pagi hari biasanya warung kopi sudah banyak didatangi oleh para lelaki. Sudah seperti sebuah kebutuhan, mereka terbiasa  menyeruput secangkir kopi ditambah sepotong  pisang goreng sebagai pengisi perut sebelum berangkat ke kebun untuk menyadap karet. Kalau istri di rumah belum sempat menyiapkan sarapan, mereka juga bisa menyantap sedikit beras ketan di warung kopi, sambil bersenda gurau.

“Ada apa…? Apa yang terjadi..? tanya seorang lelaki yang paling dahulu sampai ke dekat suami istri tersebut sambil mencoba mendudukkan sang suami.

Tidak ada jawaban, kedua suami istri tersebut masih tidak bisa menjawab. Keduanya masih pucat pasi.

“Tolong ambilkan air..!”, kata yang lain.

Segera mereka memberi minum sang suami dan mencoba menyadarkan sang istri dengan membasuhkan air pada mukanya.

Tidak lama kemudian, orang orangpun mulai ramai dan mereka segera menggotong kedua suami istri tersebut masuk ke dalam warung kopi.

“Ada apa lae…? Apa yang terjadi? Mereka mencoba kembali mencari tahu informasi dari sang suami yang sudah mulai membuka matanya.

“A… a.. adong nagkin na Gogoi”, jawab sang suami pelan, seperti berbisik, seolah olah takut kedengaran yang lain.

“Maksudmu kalian tadi ketemu Raja i?”, tanya yang lain dengan suara seperti tersedak.

Na Gogo i maksudnya adalah yang Kuat, ini merupakan kata panggilan untuk harimau di daerah itu. Dari namanya sendiri sudah jelas menggambarkan keperkasaan hewan yang satu ini. Kadang masarakat di daerah tersebut menamakannya juga sebagai Raja i, yang berarti sang Raja.

Sebenarnya bahasa daerah untuk harimau sendiri adalah babiat. Tapi masyarakat sana punya pantangan untuk menyebut langsung nama babiat. Pantang menyebut langsung nama babiat, seperti kita pantang memanggil nama dari orang yang lebih tua dari kita. Tidak sekedar ditakuti, sebenarnya keberadaan babiat di daerah tersebut cenderung disegani, bahkan dihormati.

Ada juga yang memanggilnya dengan Ompung i. Malah salah satu marga di daerah tersebut mengangkat babiat sebagai mora mereka. Na Mora i, begitu mereka memanggilnya.

Tidak ayal mendengar nama Na Gogo i, membuat semua yang hadir, langsung terdiam, terhenyak. Kemunculan nama Na Gogo i juga memunculkan berbagai pemikiran di masing masing benak mereka. Sang kepala desa yang sudah hadir pun segera memberikan instruksi pada warganya.

“Badaruddin…, segera umumkan ke warga kalau hari ini tidak boleh ada yang berangkat ke kebun maupun ke sawah!”.

“Anak anak yang mau ke sekolah juga harus diantar oleh orang dewasa!”, lanjut kepala desa memberikan arahan pada Badaruddin, pemuda yang menjadi ketua Karang Taruna di desa tersebut.

Segera cerita tersebut tersebar dengan cepat. Tidak cuma di desa itu, tapi juga ke desa sebelah dan akhirnya membuat geger semua desa di kecamatan tersebut. Cerita tersebut ramai diperbincangkan di kedai kopi. Setiap ada momen untuk berkumpul, baik itu ada hajatan untuk syukuran maupun saat ada kemalangan, cerita kemunculan babiat itu tidak pernah luput dari topik pembicaraan.

“Kemarin, warga di desa Manambin memukul cenang untuk memanggil pulang para petani dari kebun”, kata si Puddin, pemuda yang pekerjaan sehari harinya menarik becak mesin tersebut.

“Soalnya, saat Oji Latif lewat di batas desa, tiba tiba dia merasa ada yang melompat ke atap mobil”, lanjutnya.

Oji Latif adalah salah seorang saudagar kopi di daerah tersebut. Dia sering mendatangi para pedagang pengumpul langsung ke desa desa mereka.

“Begitu Oji Latif berhenti sejenak, dia kemudian sadar bahwa na Gogo i lah yang sedang bertengger di atap mobilnya. Tentu saja Oji Latif dan seorang pegawainya hanya bisa terdiam di dalam mobil sampai Raja i turun dan melompat ke dalam hutan”, lanjut si Puddin seolah olah melihat sendiri kejadian tersebut.

“Wah… berarti daerah jelajahannya sudah semakin jauh ya…” kata yang lain , menanggapi cerita si Puddin.

Cerita kemunculan harimau di daerah tersebut terus bertambah, baik yang melihat langsung bagaimana harimau tersebut sedang menyeret seekor kijang maupun yang hanya menemukan jejak kaki peninggalan sang Raja hutan di sawah maupun kebun mereka.

Lama kelamaan cerita cerita keluarnya sang Raja hutan dari kediamannya itu mulai mengganggu penduduk. Tidak hanya keamanan keluarga yang terancam, beberapa orang sudah mulai merasa terancam perekonomiannya.  Ya, terancam karena pendapatan utama mereka sangat tergantung pada hasil sadapan karet mereka. Belanja mingguan sang istri didapat dari hasil menyadap karet  tiap minggunya. Sekarang sudah lebih dua minggu mereka tidak berani menyadap karet. Tabungan mereka yang tidak begitu banyak sudah terpaksa harus diambil.

“Bah, apa yang harus kita perbuat nih…?”, tanya si Lokot suatu ketika saat duduk duduk dikedai kopi.

Dari jam 6 tadi pagi, sepulang dari mesjid dia sudah nongkrong di kedai kopi karena dia belum berani juga ke kebun karetnya. Kebetulan kebun peninggalan orang tuanya tersebut agak jauh dari perkampungan. Karena itu istrinya tidak memperbolehkannya mengambil resiko pergi meyadap karet.

“Tolong tambah dulu airnya tulang”, pinta si Lokot sambil menyodorkan gelas kopinya yang sudah mulai habis, tapi masih ada bubuk kopi yang tertinggal di dasar gelas pada si empunya warung.

“Iya, kehadiran na Gogo i membuat saya tidak berani kesawah nih”, sambut yang lain dari meja sebelah.

“Apa pemerintah tidak bisa bertidak?”, kata si Lokot sambil memperbaiki duduknya.

“Apa pak Lurah tidak bisa bilang agar pak Camat meminta Koramil memburunya?”, lanjutnya lagi.

Kelihatannya si Lokot mulai gusar dengan kondisi sekarang ini.

“Tidak segampang itu”,  jawab si Lubis yang duduk di dekat pintu.

“Jangan lupa, Harimau Sumatera merupakan salah satu binatang yang sudah dilindungi”, lanjutnya.

Walaupun si Lubis sekolahnya tidak tinggi, hanya tammat SMA, wawasannya cukup luas. Dia tidak pernah berhenti belajar. Dia rajin membaca koran ataupun mendengarkan berita di TV. Bahkan seisi desa paham betul bagaimana dia menanamkan disiplin belajar pada anak anaknya. Tidak heran anak anaknya selalu mendapat rangking pertama di kelas masing masing.

“Tapi kalau sudah mulai masuk ke pemukiman penduduk, dan mulai menganggu, maka tidak ada larangan untuk memburunya”, si Lokot memberikan argumennya.

“Betul itu…, saya mau ikut memburunya asal didamping oleh pak Koramil,” sambut yang lainnya yang mulai geram karena tadi pagi anaknya kembali mendesak ingin dibelikan seragam yang baru, sementara hasil sadapan karetnya tidak bisa dia ambil. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PENDIDIKAN YANG MERAKYAT

    PENDIDIKAN YANG MERAKYAT

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)   Oleh:  Abdul Mujib Nasution Dosen STAIM dan IAIN Padang Sidimpuan   Willem Iskandar, tokoh pendidikan berskala nasional jauh sebelum Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, beliau sudah mendirikan lembaga pendidikan untuk menghasilkan guru yang berbasis kerakyatan di tahun 1862. Selain seorang seniman, penulis dan tokoh publik pada masa itu, […]

  • Harga Kantalan Terus Turun

    Harga Kantalan Terus Turun

    • calendar_month Kamis, 18 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga karet (kantalan-bahasan Mandailing) di tingkat petani terus mengalami peturunan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Darwis (43) petani karet di Panyabungan kepada wartawan, Kamis (18/7) mengatakan, penjualan pada Kamis pagi sekitar 7.000 hingga 7.500 rupiah per kilo gram. Pekan sebelumnya masih menembus angka 7.500 hingga 8.000 rupiah per kilo gram. “Kita […]

  • Ketua PDIP Medan dipolisikan

    Ketua PDIP Medan dipolisikan

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Merasa nama baiknya dicemarkan, seorang kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Zakir Husin alias Zakir, mengadukan Ketua DPC PDIP Medan, Henry Jhon Hutagalung ke Polresta Medan. Zakir tidak senang atas pernyataan Henry Jhon Hutagalung di media massa yang menuding dirinya mengedarkan narkoba dan dibeking polisi. Tidak hanya itu, Jhon juga menyurati Kapolda Sumut […]

  • Saat Amankan Alat Berat Penambang Emas Ilegal di Madina, Tim Poldasu Sempat Dihadang 12 OTK

    Saat Amankan Alat Berat Penambang Emas Ilegal di Madina, Tim Poldasu Sempat Dihadang 12 OTK

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online) – Upaya Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) menertibkan praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mendapat perlawanan sengit. Tim gabungan dari Ditreskrimsus dan Satuan Brimob Polda Sumut mengalami intervensi oleh sekelompok orang saat berusaha mengamankan barang bukti di lapangan pada Senin (2/3/2026). Insiden ini bermula ketika […]

  • Sejumlah Sekolah di Siantar ‘Kutip’ Dana Hari Guru

    Sejumlah Sekolah di Siantar ‘Kutip’ Dana Hari Guru

    • calendar_month Jumat, 19 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    . PEMATANGSIANTAR : Peringatan Hari Guru yang akan dilaksanakan pada 25 November 2010 ini, membuat sejumlah orang tua (ortu) siswa merasah resah dan protes. Hal ini dipicu adanya pengutipan dana Hari Guru yang dilakukan sejumlah sekolah, dengan nominalnya berkisar Rp 10 ribu dan 15 ribu per siswanya. Seperti di SMP Negeri 1 Kota Pematangsiantar, para […]

  • Sempat Dibuka, Paripurna Ranperda RPJMD Diskors Tanpa Batas Waktu

    Sempat Dibuka, Paripurna Ranperda RPJMD Diskors Tanpa Batas Waktu

    • calendar_month Rabu, 9 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setelah sempat dibuka beberapa menit dan Bupati Mandailing Natal H. M. Ja’far Sukhairi Nasution membacakan pidato nota pengantar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tahun 2021-2026, Rapat paripurna Ranperda RPJMD diskors oleh pimpinan sidang Erwin Efendi Lubis sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Penskors-an rapat paripurna ini […]

expand_less