Seputar Madina

Bekerja di TPA Tanpa Digaji


Bagi orang kebanyakan, sampah tidak ada gunanya. Sesegera mungkin orang akan menyingkirkan sampah karena makin banyak menumpuk makin tidak nyaman. Baunya yang tidak sedap mengundang lalat berseliweran. Bernafas pun tak segar, itu artinya sama saja mengundang penyakit.

Lain hal dengan keluarga Khoiron. Warga Kelurahan Sipolu-polu, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ini, rela bekerja di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Banggua, Kecamatan Panyabungan Barat, demi menghidupi keluarga.

Saat dijumpai di TPA, Sabtu (20/11/2010), Khoiron (45) mengatakan pekerjaan ini sudah ia lakoni kurang lebih selama 2 tahun. Ia beserta istri dan menantunya bekerja di TPA tanpa gaji. Mereka bekerja di TPA bukan untuk memulung tetapi untuk mengurusi TPA.

“Saya bekerja mengurus sampah-sampah ini tanpa digaji. Untuk penghasilan, saya mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa dijual. Kadang dalam satu minggu saya dapat Rp 150.000. Kadang untuk tambahannya saya dikasih oleh pegawai Kantor Pertamanan. Itu pun kalau kita jumpa sama mereka,” ujarnya.

Lanjut Khoiron, kadang ia segan jumpa dengan pegawai Kantor Pertamanan sebab nanti dikira minta duit. Namun Khoiron kadang kesal juga karena ketika meminta racun rumput untuk mematikan rumput-rumput di sekitar TPA, tidak pernah dipenuhi Pertamanan.

Dulu, KTP Khoiron pernah diminta oleh pegawai Pertamanan. Katanya mau dibawa ke Kantor agar Khoiron diajukan menjadi tenaga honor. Tapi sampai sekarang belum ada gaji dari Kantor Pertamanan.

“Maunya saya dijadikan saja honor di kantor itu walaupun saya bertugas terus disini, supaya jangan duit orang itu terus yang dikasihnya sama aku. Kita segan karena itu kan bukan gaji saya, itu pemberian, mana mungkin selamanya saya begitu,” pintanya. (BS-026)
Sumber : Berita Sumut

Comments

Komentar Anda