Jumat, 20 Mar 2026
light_mode

Belajar dari Bencana: Kebijakan Melindungi Rakyat, Bukan Demi Keuntungan Sesaat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
  • print Cetak

Oleh: Herliana Tri M

Hujan datang, bencana menyapa. Seolah menjadi pemakluman bahwa musibah yang datang karena faktor alam semata. Akhirnya? bencana tak menjadikan kita berbenah dan evaluasi perbaikan keadaan.

Padahal, bencana yang menimpa sebagian wilayah Indonesia saat ini luar biasa efeknya. Ribuan rumah terendam banjir, jumlah korban meninggal dunia akibat hujan deras di sejumlah daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai setidaknya 174 orang dan puluhan lainnya dilaporkan masih hilang, hingga Jumat (28/11).  Data yang terhimpun Detik News (1/12/2025) korban jiwa 445 orang dan belum ditemukan sebanyak 209 orang. Tentu ini bukan sekedar angka untuk dihitung semata. Nyawa manusia melayang tak sekedar karena bencana, namun juga efek kelalaian manusia dalam mengambil kebijakan.

Bencana hujan yang menyebabkan banjir serta tanah longsor  juga merusak ribuan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat lebih aman.

Saat Hutan Lindung Alih Fungsi

Dapat dikatakan ini adalah kerusakan lingkungan terparah dampak banjir.
Tak hanya dari segi curah hujan, banjir bandang terlihat parah karena diiiringi oleh menurunnya daya tampung wilayah. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr Heri Andreas ST MT.

Pada Saat presipitasi turun, hanya sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah.

Alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman mengurangi kapasitas serapan air di wilayah tersebut. Sehingga  penting menata ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial untuk mitigasi jangka panjang.

Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah akan kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.

Hutan lindung dengan berbagai macam jenis tanaman baik tanaman berkayu besar, tanaman semak, perdu, ada yang berakar  serabut, tunggang dengan segala macam  karakternya akan saling mendukung, menjaga kesuburan tanah dan memilki daya dukung yang tinggi terhadap penyerapan air hujan.

Hutan  lindung seperti di Sumatera Utara dengan luasan area 1.206.881 hektar  berdasarkan data tahun 2014 dari Badan Pusat Statistik Indonesia, angka ini merupakan bagian dari total kawasan hutan di Sumut yang luasnya mencapai sekitar 3.055.795 hektar menurut data tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik Indonesia.  Kemudian hutan lindung periode 2005-2014 dan 2014-2016, terjadi pengurangan luas sekitar 731.960 hektar. Alih fungsi yang dilakukan oleh perusahaan besar dengan kisaran ratusan ribu hektar tentu memiliki pengaruh besar atas ekosistem disekitarnya. Apalagi kalau kita memperhatikan pengalihan ke perumahan, penambangan, jumlah serapan air tentu jauh sekali berkurangnya.  Peralihan untuk perkebunan yang termasuk tanaman saja mempengaruhi ekosistem, apalagi berubah menjadi bangunan rumah, pabrik dan tambang.

Perkebunan meskipun sama- sama berupa tanaman saja ini masih perlu dikritisi dan memerlukan tinjau akademisnya. Secara umum yang kita ketahui bahwa tanaman perkebunan yang ditanam adalah kelapa sawit.

Kelapa sawit memilki buah dengan biji berkeping satu atau disebut dengan monokotil. Tanaman dengan biji berkeping satu memilki akar serabut, sehingga kelapa sawit merupakan tanaman dengan akar serabut. Akar serabut memiliki ciri khas jenis akar menyebar ke berbagai arah. Terbayang apabila hutan lindung dengan berbagai macam jenisnya berubah menjadi ratusan juta hektar pohon sawit dengan akar serabut yang menyebar dan menutupi permukaan tanah
Maka yang terjadi adalah daya serap terhadap hujan berkurang drastis efek tertutupnya lapisan permukaan tanah dengan akar serabut.  Kondisi ini menjadikan air melaju cepat menuju tempat lebih rendah dan sedikit yang terserap dalam area yang harusnya menjadi hutan lindung dan telah berubah fungsi.

Artinya, bencana ini haruslah dilihat sebagai alarm bangsa ini bahwa ada kebijakan dan perlakuan tak tepat terhadap lingkungan.  Sudah waktunya pemerintah mengambil tanggung jawab atas bencana besar yang telah menghantarkan kerugian baik hilangnya nyawa, harta benda serta usaha yang dikelola masyarakat sebagai sumber mata pencaharian.

Lamban dalam Mengatasi Bencana

Bencana yang menimpa negeri ini tak hanya kali ini saja, bencana besar seperti tsunami Aceh, meletusnya gunung merapi, bahkan berdasarkan data dari USGS dan sumber lainnya, Indonesia memiliki lebih dari 160 gempa bumi berkekuatan 7.0+ dalam skala magnitudo dari periode 1900 sampai sekarang.

Artinya, negara yang belajar tentu dapat mengambil kebijakan baru dan sigap terhadap bencana.  Miris, mitigasi bencana lemah selalu berulang dan terkesan ala kadarnya. Kurangnya sarana dan prasarana penanggulangan bencana pun turut memperburuk keadaan. Lagi-lagi, rakyatlah yang menjadi korban.

Dari sisi menyelesaikan bencana lamban, apalagi pencegahan, bahkan terkesan abai dan lebih memikirkan keuntungan yang hanya dinikmati segelintir orang atau perusahaan yang berkolaborasi dengan penguasa.

Sungguh, bencana ini membuka pandangan masyarakat, bahwa faktor penyebab bencana bukan sekadar cuaca ekstrem atau pasangnya air laut. Justru ketika lingkungan alam tidak rusak, cuaca ekstrem dan banjir rob bisa diatasi. Berarti, alam sebagai  benteng paling tepat untuk menghadapi fenomena ekstrem yang  dirusak oleh kebijakan kurang tepat.

Paradigma kapitalis yang hanya berfikir keuntungan menjadikan alih fungsi hutan lindung begitu menggiurkan. Ibaratnya, dari pada lahan nganggur tidak memberikan manfaat, kenapa tidak dimanfaatkan saja menjadi cuan? Akhirnya inilah yang terjadi, penggundulan hutan untuk alih fungsi menjadikan benteng dari bencana terkikis dan tak mampu membendungnya. Daya dukung alam yang rendah akhirnya harus dihadapi rakyat dengan bencana yang harus ditanggung rakyat.

Paradigma Islam Memandang Alam

Islam menetapkan fungsi penguasa untuk mengurusi urusan umat (raa’in) dan melindungi mereka (junnah). Disinilah fungsi penguasa mengerahkan segala daya untuk menyejahterakan rakyat dan menjauhkan mereka dari semua hal yang membinasakan.
Dengan paradigma ini, penguasa akan senantiasa menjaga alam karena alamlah penjaga alami terhadap peluang bencana.

Apabila bencana terjadi, artinya cepat tanggap dan langkah-langkah harus segera diambil negara untuk mengatasi musibah, pemimpin akan mengambil langkah cepat dengan mengkoordinir wali atau gubernur yang tak mengalami musibah untuk menurunkan bantuan, dan negara akan mengeluarkan dana dari kas negara yang ada untuk menyelesaikan bencana sampai tuntas.  Tak sekedar masyarakat lepas dari bencana, namun menyiapkan sandang pangan serta papannya agar mereka bisa melanjutkan hidup secara normal pasca musibah. Bahkan andai mereka kehilangan mata pencaharain sebagai efek bencana, negara akan menyiapkan untuk lapangan kerja penggantinya.

Inilah gambaran hadirnya penguasa menyelesaikan permasalahan apapun yang hadir di tengah rakyat. Ia benar- benar hadir sebagai penjaga dan pelindung. Wajar pemimpin seperti ini akan dicintai oleh rakyatnya.  Senantiasa dirindukan kehadirannya.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mendikbud: perubahan kurikulum karena tuntutan zaman

    Mendikbud: perubahan kurikulum karena tuntutan zaman

    • calendar_month Minggu, 2 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Yogyakarta, (MO) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan perubahan kurikulum pendidikan perlu dilakukan karena tuntutan zaman yang terus berkembang agar peserta didik mampu bersaing di masa depan. “Saat ini zaman kan sudah berubah, maka kompetensi yang diberlakukan untuk pengembangan intelektual siswa pun juga harus berubah karena tantangan yang mereka hadapi tidak akan sama […]

  • Buku Sejarah dan Kebudayaan Mandailing Segera Terbit

    Buku Sejarah dan Kebudayaan Mandailing Segera Terbit

    • calendar_month Kamis, 17 Mar 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu buku penting telah terbit. Berjudul “Sejarah dan Kebudayaan Mandailing”. Tebalnya 250 halaman. Buku ini tergolong lengkap dalam menyuguhkan Mandailing dari masa ke masa. Mengupas secara mendalam sejarah Mandailing mulai priode sebelum masehi hingga otonomi. Tentu dengan referensi yang mendukung. Mandailing diperinci setiap periode sebagai kawasan pemerintahan dalam lingkup sejarah nasional. Ada priode kerajaan tradisional […]

  • PNPM-MP Di Madina Berjalan Lancar

    PNPM-MP Di Madina Berjalan Lancar

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA : Program PNPM-MP merupakan salah satu program pemerintah secara nasional di nilai cukup berhasil dan sangat menyentuh terhadap kepentingan masyarakat. Hal ini juga yang dijumpai di Kabupaten Mandailing Natal khususnya Kecamatan Panyabungan Timur, ketika Berita melakukan perjalanan ke daerah tersebut baru-baru ini dan melihat secara langsung lokasi proyek pembangunan di 3 Desa masing-masing Desa […]

  • Korban Sipil Meningkat, KontraS Sumut Desak Kapoladsu Usut Peredaran Senjata Api Ilegal

    Korban Sipil Meningkat, KontraS Sumut Desak Kapoladsu Usut Peredaran Senjata Api Ilegal

    • calendar_month Selasa, 29 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – KontraS Sumut mendesak Poldasu segera memutus mata rantai peredaran senjata api ilegal di Sumatera Utara. Desakan itu menyusul maraknya kasus penembakan warga sipil yang dilakukan OTK akhir-akhir ini di Sumut. Kasus terkini adalah peristiwa penembakan terhadap satu pemimpim redaksi suatu media di Simalungun, Sumut. Kejahatan ini disokong oleh adanya peredaran […]

  • Komnas HAM selidiki kasus penganiayaan jurnalis

    Komnas HAM selidiki kasus penganiayaan jurnalis

    • calendar_month Minggu, 28 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pekanbaru, (MO)- Tim yang terdiri atas dua anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) langsung turun ke Provinsi Riau untuk menyelidiki kasus penganiayaan terhadap jurnalis dan warga yang dilakukan oknum TNI AU di lokasi jatuhnya pesawat Hawk 200. Tim yang terdiri atas Plt Kabag Pengaduan Eko Dahana dan Penyelidik Pelanggaran HAM Firdiansyah, melakukan pemeriksaan […]

  • Gaji Bidan PTT 6 Bulan Tahun 2017 di Madina Raib

    Gaji Bidan PTT 6 Bulan Tahun 2017 di Madina Raib

    • calendar_month Selasa, 18 Des 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aneh bin ajaib, gaji Bidan PTT di Madina tak cair di bulan Maret hingga Agustus 2017, tetapi bulan September hingga Desember justru cair. Lalu raib kemana uang gaji selama 5 bulan itu? Puluhan Bidan PTT pun mengadukan nasib mereka ke DPRD Madina, Selasa (18/12/2018). Mereka diterima Ketua DPRD Madina H. Maraganti […]

expand_less