Jumat, 13 Mar 2026
light_mode

Eksotisme Rodang Tinapor di Film “MARINA”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 22 Apr 2016
  • print Cetak
Satu adegan film Marina

Satu adegan film Marina

SIABU (Mandailing Online) – Tympanum Novem Films kembali menggarap film Mandailing terbaru untuk produksi ke sepuluh mereka.

Kali ini memilih judul “Marina” dengan rencana durasi sekitar 2 jam, lebih panjang dari film-film yang diproduksi Tympanum sebelumnya.

Film “Marina” ini digarap dengan plot cerita bisa lebih lentur agar penonton lebih terhibur.

Hingga kini tahapan produksinya masih tahap shooting, diperkirakan akan dirilis ke pasar bulan Ramadan dalam bentuk VCD.

Rodang Tinapor di Desa Bonandolok, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal merupakan lokasi dan setting utama ceritanya.

“Bukan tanpa alasan. Tentu karena Rodang, rawa yang luasnya ribuan hektar memang memiliki banyak potensi, baik potensi sumber kehidupan penduduk, maupun potensi ekowisata,” kata Askolani Nasution yang menyutradarai film ini di sela kegiatan pengambilan gambar, Jum’at (22/4/2016).

Sejak masa kolonial, Rodang Tinapor sudah dikenal sebagai sumber ikan air tawar terpenting untuk kawasan Mandailing Godang, Mandailing Julu hingga Mandailing Angkola. Rawa yang terbentuk karena pertemuan dua sungai besar, Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola, memang membentuk perairan rawa yang amat luas. Karena itu menjadi ekosistem yang sesuai untuk tempat perkembangbiakan ikan.

Disebut Rodang “Tinapor”, karena rawa ini tempat ikan menyemai telur. Alhasil, selain menjadi areal persawahan bagi Desa Bonandolok, Simangambat, Hutapuli, Hutaraja, Huraba, dan Tanggabosi, di kawasan ini juga setiap harinya hidup puluhan keluarga yang hidup dari hasil mencari ikan.

Berbagai alat penangkap ikan digunakan, mulai dari jaring, kail, lobu-lobu, pangilar, dan lain-lain. Mereka naik perahu kayu, menyusuri sungai dan rawa sambil menangkap ikan. Berbagai macam jenis ikan air tawar mudah diperoleh, mulai dari “capet”, “piri-piri”, “aruting”, “tingkalang”, “limbat”, “tunggu lubuk”, “inggit-inggit”, ikan mas, “alu tano” dan lain-lain.

Ikan tangkapan mereka setiap hari memenuhi kebutuhan pasar mulai dari Panyabungan hingga ke Padang Sidimpuan. Tentu saja tak banyak yang tahu bahwa ada sebuah rawa besar di Mandailing Natal yang sejak zaman dahulu kala sudah mensuplai kebutuhan ikan di daerah sekitarnya. Dan tak banyak yang tahu bahwa ada puluhan keluarga yang turun-temurun hidup dari mencari ikan dengan perahu kayu seadanya.

Belum lagi potensi ekowisatanya. Rawa yang membentang, dengan sungai-sungai yang berkelok-kelok, plus perahu kayu yang hilir mudik, menjadi pemandangan yang eksotis.

“Anda akan melihat mata hari terbenam di balik bukit dengan lanskap pemandangan yang luas dan para perahu pulang membawa hasil tangkapan atau hasil panen,” ujar Askolani.

“Anda bisa juga masuk lebih dalam menyusuri rawa, kawasan ‘Paya Kerek’ dan ‘Tudung Bendi’, dengan kayu berkanopi luas, akar saling menyilang seperti bakau, dan perahu kayu melintas di bawahnya. Itu mengingatkan kita pada rawa-rawa khas Amazon, dengan ular dan buaya yang sesekali muncul tanpa mengganggu. Itu amat eksotis. Kasihan kalau potensi seperti itu tidak dikembangkan,” kata Askolani Nasution yang juga penulis cerita film “Marina” ini.

Jangan hanya berpikir tentang wisata bahari, pegunungan, hutan tropis, wisata rawa juga dapat menawarkan pengalaman yang mengasikkan. “Karena itu kami setiap hari betah di sini bersama kru dan pemain. Bukan sekedar mengembangkan kreativitas seni, tetapi sekaligus menikmati ekosistemnya,” imbuhnya.

Film “Marina” dimainkan oleh anak-anak lokal yang setiap hari bergelut dengan kebiasaan di Rodang Tinapor. Mandi-mandi di sungai, membawa perahu, memancing, dan lain-lain.

“Bayangkan saja, para pemain anak-anak kita yang malah membawa rombongan pemain dan kru dengan perahu seadanya, melintasi sungai Batang Angkola dengan hanya menggunakan dayung sebilah bambu,” kata Holik Nasution dari Divisi Media Tympanum Novem.

Mereka sehari-hari tak berbaju, dengan kulit yang masak terpanggang matahari, otot yang keras. Mereka anak-anak yang tidak pernah mengeluh. Begitu pulang sekolah, mereka langsung ke sana, begitu setiap hari.

“Kami berharap, dengan film ‘Marina’, penonton bukan hanya terhibur karena kisah yang menggetarkan kemanusiaan, tetapi sekaligus menawarkan eksotisme Rodang Tinapor yang dimiliki Mandailing Natal. Hanya penonton yang bisa melihat potensi ini, karena penduduk lokal hanya menyadari potensi mata pencaharian saja,” katanya.

Editor    : Dahlan Batubara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sambut Normal Baru, PWI Madina Bagikan Masker

    Sambut Normal Baru, PWI Madina Bagikan Masker

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menyongsong Normal Baru, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) membagikan masker berstandar kesehatan kepada masyarakat. Pembagian masker ini kerja sama PWI Madina dengan BPJS Tenaga Kerja Kabupaten Madina. Masker dibagi bagi kepada pelintas di jalan Willem Iskandar titik Kelurahan Pidoli Dolok, Panyabungan depan kantor PWI Madina, Kamis sore […]

  • Yayasan Mataniari Genjot Program Investasi Kehutanan Berbasis Masyarakat

    Yayasan Mataniari Genjot Program Investasi Kehutanan Berbasis Masyarakat

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Yayasan Mataniari Sian Madina yang berbasis di Mandailing Natal (Madina) terus bergerak mengkampanyekan sekaligus menggenjot Program Investasi Kehutanan Berbasis Masyarakat. Program ini merupakan upaya Yayasan Mataniari melestarikan hutan dalam sumbangsihnya bagi mitigasi emisi karbon global yang juga sekaligus memperkuat posisi kesejahteraan masyarakat yang bermukim di zona penyagga hutan. Sebab, hutan adalah asset sumber daya […]

  • Kebijakan Tahan Bayi Oleh RSU Panyabungan, Menuai Sorotan

    Kebijakan Tahan Bayi Oleh RSU Panyabungan, Menuai Sorotan

    • calendar_month Kamis, 18 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sikap RSU Panyabungan yang menahan bayi dan ibunya gara-gara tak punya uang Rp. 300.000 biaya persalinan, mendapat rekasi dari partai politik. Ketua PDI Perjuangan Madina, Iskandar Hasibuan kepada Mandailing Online, Kamis (18/2) menyayangkan kebijakan manajemen RSU Panyabungan yang notabene rumah sakit milik pemerintah kabupaten Mandailing Natal (Madina). “Jika benar gara-gara 300.000 […]

  • Pemuda LIRA Madina Gelar Aksi Peduli dan Berbagi

    Pemuda LIRA Madina Gelar Aksi Peduli dan Berbagi

    • calendar_month Kamis, 2 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di masa pandemi covid-19 dan pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), berbagai upaya sosial dilakukan sejumlah kalangan untuk membantu masyarakat yang terdampak, sekaligus melakukan himbauan pentingnya menjaga kesehatan. Seperti yang dilakukan pengurus DPD Pemuda LIRA Kabupaten Mandailing Natu (Madina), Kamis (03/09/2021) di Panyabungan. Pemuda LIRA turun ke jalan di bawah teriknya sinar […]

  • Pembersihan APK Caleg Oleh Bawaslu Madina Seolah Tebang Pilih

    Pembersihan APK Caleg Oleh Bawaslu Madina Seolah Tebang Pilih

    • calendar_month Rabu, 22 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Pembersihan alat peraga kampanye ( APK ) Calon Legislatif di Kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) seolah tebang pilih, pasalnya sejak pembersihan alat peraga kampanye dilakukan Bawaslu pada Jum’at lewat, masih ada alat peraga kampanye yang tidak disentuh bawaslu yang terpasang di papan iklan Bilboard. Kondisi Alat peraga […]

  • Daftar Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2012 di Seluruh Indonesia

    Daftar Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2012 di Seluruh Indonesia

    • calendar_month Selasa, 10 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Pada tahun 2012 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan (BPSDMP) dan Penjamin Mutu Pendidikan (PMP) akan terus melanjutkan program sertifikasi guru sebagaimana yang telah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Belum semua guru yang akan mendapat kesempatan untuk mengikuti sertifikasi guru tahun 2012. Calon peserta sertifikasi guru tahun […]

expand_less