Senin, 16 Mar 2026
light_mode

HISTORISME MANDAILING

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 13 Feb 2020
  • print Cetak

Oleh : Askolani Nasution
Budayawan Mandailing

Pengantar

Nama Mandailing acapkali diletakkan pada kerangka historis yang tidak sesuai. Peletakan itu tentu karena tidak pernah melalui kajian sejarah dan arkeologi yang relevan. Hal itu yang menyebabkan distorsi sosial dalam berbagai kebutuhan.

Historime Mandailing

Tentu tidak mudah untuk menentukan kapan manusia dan kebudayaan Mandailing muncul pertama kali di Sumatera.

Selain karena belum pernah ada penelitian yang mendalam tentang itu, juga nyaris tidak ada referensi yang bisa dijadikan patokan.

Apalagi selama ini, semua referensi tentang Mandailing hanya bersumber dari peneliti Barat.

Tragisnya, semua referensi Barat tidak pernah punya kehati-hatian untuk menggeneralisir semua kawasan Tapanuli sebagai bagian dari Batak.

Dan itu menimbulkan distorsi sosial yang luar biasa, termasuk dalam kasus SPO (2020).

Penyebutan nama Mandailing dalam literasi yang valid untuk dijadikan rujukan ilmiah, baru muncul dalam kitab “Negara Kertagama”, Pupuh XIII, tahun 1365 M.

Dalam naskah klasik itu nama Mandailing disebut sebagai satu kawasan bawahan dari Majapahit, selain daerah Jambi, Palembang, Toba, Darmasraya, dan daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane Kampe, haru, Tamihang, Perlak dan Padang. Dalam penggalan itu, sama sekali tidak ada sebutan Batak.

Dalam referensi itu, Toba juga disebut. Tapi kata Batak, sama sekali tidak ada. Tentu, karena kata Batak sendiri baru muncul setelah Perang Dunia I, itu juga dalam referensi yang ditulis oleh orang Eropah.

Misalnya oleh Van Der Tuuk, penyusun “Tata Bahasa Batak” tahun 1860-an.

Istilah Batak baru populer sejak abad ke-20. Itu pun terbatas hanya untuk menyebut satu kawasan luas sesuai dengan misi yang diinginkan.

Misalnya “Batta-Mission” untuk menyebut satu kawasan zending masa sebelum Perang Dunia II. Jadi sama sekali tidak untuk menyebut karakteristik daerah tertentu. Tentang itu, bisa dibaca dalam tulisan Uli Kozok berjudul “Dari Batta ke Batak”.

Bahwa Mandailing memiliki berbagai peninggalan sejarah yang luar biasa tentu tidak diragukan lagi.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa abad 1-5 Masehi, para pedagang Cina dan India sudah sering melakukan perjalanan ke kawasan Mandailing.

Sebuah catatan menyebut bahwa pada masa itu telah ada kerajaan-kerajaan merdeka di Sumatera, termasuk kerajaan Mandailing. Kerajaan Mandailing telah melakukan kontak dagang dengan Cina dan India terutama perdagangan emas, keramik, dan sutra.

Adanya bukti peninggalan keramik itu, sering ditemukan dalam eksplorasi situs-situs tua di Mandailing.

Pada masa itu, ada delapan rute perdagangan penting di Sumatera, salah satu adalah rute Pelabuhan Natal ke pedalaman Mandailing.

Perdagangan itu, selain membuka cakrawala berpikir juga menjadi sarana penyiaran agama-agama baru. Sebab, penaklukan secara otomatis mengubah adat-istiadat lokal sesuai dengan kebudayaan penakluk.

Bukti telah berdirinya peradaban Mandailing sejak masa klasik, ditunjukkan dengan berbagai temuan arkeologi.

Misalnya temuan Schnitger (1935) berupa Kursi Batu di Kelurahan Kotanopan, patung Sangkalon di Hutagodang, Batu Tagor di Panyabungan Tonga, makam kuno di Desa Singengu dan Pakantan.

Studi PV van Stein Callenfels (1920) juga menemukan keberadaan Arca Perunggu yang menggambarkan dua perempuan menunggangi seekor gajah, ditemukan di aliran sungai Panyabungan. Peradaban itu berkembang pada budaya megalitikum.

Periode Hindu-Budha Klasik di Mandailing menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi kawasan budaya yang otonom pada masanya. Sumber emas di Sepanjang Sungai Batang Gadis, sungai terpenting yang melewati hampir seluruh dataran rendah di Mandailing, menjadi daya tarik bagi kerajaan-kerajaan besar. Tentang hal ini banyak dikupas arkeolog Perancis, Daniel Perret.

Selain kerjaan Chola, Barus, Majapahit, Singosari, kawasan Mandailing juga pernah dijajah dua kerajaan besar yang berpusat di Sumatera, yakni Dharmasraya dan Sriwijaya.

Dharmasraya meninggalkan candi Simangambat, candi Siabu, candi Biara Panyabungan, dan situs Hutasiantar sebagai jejak kekuasaannya pada abad 8-9 Masehi.

Bukti sejarah peninggalan masa Hindu-Budha Klasik di Mandailing adalah temuan situs dan artefak sepanjang Sungai Batang Gadis, Sungai Batang Angkola, dan hulu Sungai Barumun.

Peradaban sekitar daerah aliran sungai ini menjadi ciri masa Hindu-Budha Klasik. Karena itu ditemukan Candi Simangambat, Candi Siabu, dan Saba Pulo di sekitar Sungai Batang Angkola.

Di sekitar DAS Batang Gadis ditemukan Candi Biara Pidoli dan Situs Hutasiantar. Peradaban DAS Batang Angkola tersebut diungkap oleh arkeolog Belanda, Schnitger (1935).

Selain itu arkeolog Arkeolog Bosch (1930) menemukan arca Ganesha di Pasar Siabu yang berasal dari Candi Bonandolok.

Hal lain yang memicu tingginya peradaban dan daya tarik kawasan Mandailing adalah kandungan emas yang terdapat sepanjang Sungai Batang Gadis, terutama di sekitar Hutabargot.

Banyak catatan yang menyebut betapa emas dari kawasan ini di ekspor ke luar negeri melalui Dermaga Pantai Barat Mandailing setelah berperahu menyusuri sungai Batang Gadis.

Bukti penambangan emas di kawasan ini juga ditemukan dalam catatan Daniel Perret. Ia menyabut adanya Garabak ni Agom, tanda aktivitas pertambangan kono di sekitar Lumpatan Harimau pada koordinat 01 58 41 LU, 99 30 13 BT.

Penting kembali dipahami bahwa istilah Batak adalah hal yang sangat baru. Uli Kozok menyatakan : Menarik untuk dicatat bahwa ejaan “Batak” masih relatif baru. Pada abad ke 1900 orang Eropa menyebut orang Batak sebagai Batta, dan sekali-sekali, Bata. Hanya H.N. van der Tuuk yang menggunakan ejaan “Batak” sejak tahun 1860an. Istilah Batak baru mulai populer setelah tahun 1904.

Tentu saja banyak hal yang masih samar-samar menyangkut sejarah Mandailing. Misalnya apakah candi Simangambat diperuntukkan untuk masyarakat berkebudayaan Mandailing atau etnis Melayu. Sebab, beberapa prasasti yang ditemukan di sini, termasuk prasasti Gunung Sorik Marapi, memang ditulis dengan bahasa Melayu. Itu semua butuh kajian yang mendalam, termasuk oleh Balai Arkeologi.

Tapi substansinya bukan itu. Penyebutan Batak yang mensubordinasi Mandailing dalam SPO 2020, merupakan penyederhanaan yang amat dangkal. Referensi akademisnya rendah. Selain karena istilah “Batak” masih amat baru, istilah itu juga awalnya hanya digunakan oleh peneliti Barat. Dalam tataran adat dan budaya daerah Mandailing, dan saya yakin juga di sub-etnis Tapanuli lainnya, sama sekali tak ditemukan referensi tentang kata “Batak” dalam bahasa Ibu mereka.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tambang Emas Ilegal di Kotanopan Beroperasi Malam Hari

    Tambang Emas Ilegal di Kotanopan Beroperasi Malam Hari

    • calendar_month Selasa, 3 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online: Kesaksian warga setempat Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ternyata tiap malam ini selalu beriperasi. Wilayahnya di sekitar Aek Kapesong dan Jambur Tarutung. Senin malam (02/09/2024) dari video yang diterima rekan journalia, sekira pukul 21.22 wib, dengan rekaman video berdurasi 1 menit 4 detik dengan cuaca […]

  • Bupati Madina Dahlan Hasan Sukseskan Pelantikan PNNB Kotanopan

    Bupati Madina Dahlan Hasan Sukseskan Pelantikan PNNB Kotanopan

    • calendar_month Senin, 23 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal Drs.H Dahlan Hasan Nasution didampingi Mudir Ponpes Mustofawiyah Purba H Mustafa Bakhri bersama beberapa Anggota DPRD, tokoh adat dan masyarakat mesukseskan pelantikan Persatuan Naposo Nauli Bulung (PNNB) Kelurahan Kotanopan, Kecamatan Kotanopan, pekan lalu. Dalam kesempatan itu, bupati Madina menyampaikan bahwa pemuda adalah benteng dan pagar baik di kelurahan maupun […]

  • Bupati Madina Pertahankan Pejabat Korup

    Bupati Madina Pertahankan Pejabat Korup

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Janji-janji Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution memberantas korupsi mulai memperlihatkan sebagai janji kosong. “Buktinya, hingga kini Kadis Kelautan dan Perikanan masih aman menjabat padahal sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Mawardi Borotan, warga Panyabungan kepada Mandailing Online, Selasa (14/7). Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Zamaluddin Nasution sudah hampir setahun ditetapkan sebagai […]

  • Mulak Tu Huta, Ubat Lungun, Palagut Namarserak

    Mulak Tu Huta, Ubat Lungun, Palagut Namarserak

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

          Catatan : Dahlan Batubara   Program “Mulak Tu Huta” sudah berlangsung sejak tahun 2012. Suatu program diperuntukkan bagi etnis Mandailing di Malaysia untuk menginjakkan kaki di tanah leluhur : tanah Mandailing. Etnis Mandailing tersebar di berbagai negara bagian : Perak, Negeri Sembilan, Selangor, Kedah, Kuala Lumpur dan lain-lain. Migrasi orang Mandailing bermula […]

  • Unjukrasa Desak DPRD Madina Bentuk Pansus SMGP

    Unjukrasa Desak DPRD Madina Bentuk Pansus SMGP

    • calendar_month Rabu, 17 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online) –  Puluhan pengunjukrasa mendesak DPRD Mandailing Natal membentuk Panitia Khusus (Pansus) atas tragedi keracunan warga Sibangggor Julu di wilayah kerja PT SMGP. Pengunjukrasa dari Aliansi Perhimpunan Pemuda Madina Bersatu itu melakukan aksi unjukrasa ke gedung DPRD Mandailing Natal, Rabu (17/2/2021). DPRD Mandailing Natal selaku wakil rakyat dinilai tidak memiliki sikap yang jelas atas […]

  • Tirta Madina: Air Keruh Karena Uji Coba SPC

    Tirta Madina: Air Keruh Karena Uji Coba SPC

    • calendar_month Jumat, 13 Jun 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Direktur PDAM Tirta Madina yang juga Asisten III Pemkab Madina, Samad Lubis menyatakan Jum’at (13/6/2014) penyebab keruhnya air yang dipasok Tirta Madina karena pihanya masih melakukan uji coba SPC bantuan Provinsi Sumatera Utara. Itu dikatakan Samad menjawab wartawan terkait sepekan terakhir air bersih yang disalurkan PDAM Tirta Madina setiap pagi keruh, akibatnya […]

expand_less