Home / Artikel / Jalan Sunyi Para Pahlawan Madina

Jalan Sunyi Para Pahlawan Madina

Para pejuang dari bumi Gordang Sambilan

Oleh : Roy Adam Lubis
Editor / tinggal di Panyabungan

Manusia itu unik. Tak mengherankan kalau kemudian kajian terkait karakteristik dan tingkah laku manusia begitu banyak. Mulai dari psikologi, sosiologi sampai zodiak. Semua berkutat pada persoalan tingkah laku dan kebiasaan manusia.

Selain itu adanya kemampuan berpikir dan perasaan (hati) membuat manusia sering berkeinginan sesuatu, tapi melakukan hal yang lain. Kontradiksi antara perasaan dan pikiran itu pula yang terjadi menyikapi kepahlawanan. Dalam banyak konteks dan keadaan, manusia butuh pahlawan. Namun, tidak banyak yang memilih jadi pahlawan.

Itu bisa dimaklumi, sebab menempuh jalan kepahlawanan adalah melewati kesunyian. Para pahlawan memang demikian: hidup penuh pengorbanan dan mati dalam keterasingan berteman sunyi. Pahlawan itu sebuah anomali. Dipuja, tapi dilupakan. Kenangan terhadap mereka hanya sebatas konten dalam momen.

November, bulannya para pahlawan: Hari Pahlawan dan Hari Guru. Pada kenyataannya hanya sebatas seremonial semata tanpa keberlanjutan tindakan dan program yang menguatkan karakter kepahlawanan mereka. Setidaknya demikian di Mandailing Natal.

Sebut saja nama-nama mereka yang tertulis di Tugu Perintis di Kotanopan. Siapa yang kenal dengan perjuangan dan kisah mereka? Barangkali hanya keluarganya saja. Itu pun mereka yang terasing dari sapa dan keramahan pemerintah. Keabadian kepahlawanan mereka hanya sebatas tugu itu dan diziarahi pada malam kemerdekaan. Tanpa sekalipun melakukan kajian perjalanan kehidupan mereka sebagai satu catatan sejarah untuk jadi pijakan bagi generasi yang datang di belakang.

Bahkan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution tak mendapat penghormatan dan penghargaan sebagaimana jenderal besar lainnya, Soedirman. Patungnya berdiri megah di Ibu Kota Negara. Tentunya saja Pak Nas tidak harus dibuatkan patung, tapi setidaknya satu monumen bisa mewakili keberadaannya. Rumahnya yang tertinggal barangkali bisa dijadikan museum sebagaimana yang diterima Tan Malak atau Hatta di Sumatera Barat.

Roy Adam Lubis

Ah, namun demikianlah mereka para pahlawan: dilupakan dalam kesunyian. Tak heran jika tak banyak yang mau jadi pahlawan. Siapa yang sudi hidup penuh pengorbanan, tapi mati dalam keterasingan. Sunyi. Barangkali itu pula kenapa banyak yang tidak bersedia menjadi ‘guru’ meski ia mengajar di sekolah.

Hormatku untuk kalian para pahlawan: yang namanya tertulis di Tugu Perintis sana atau yang tak sempat tercatat sejarah. Tabik.***

 

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: