Jumat, 13 Mar 2026
light_mode

KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
  • print Cetak

Oleh: Askolani Nasution
(Bahan pada Sarasehan Kebudayaan Mandailing, Jakarta, 1 Juni 2013)

Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut:

1.Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain:

•“Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865)

•“Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871)
•“Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk.” (1872)

•“Taringot di Ragam-ragam ni Parbinotoan dohot Sinaloan ni Alak Eropa.” Naskah ini diadaptasi dari buku “Ceritera Ilmu Kepandaian Orang Putih” yang ditulis oleh Abdullah Munsyi, seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Melayu. (1873)

2.Soetan Martua Raja (Siregar). Ia lahir dari keluarga aristokrat di Bagas Lombang Sipirok, berpendidikan HIS, sekolah elite di Pematang Siantar. Karyanya adalah:
•“Hamajuon” (Bahan Bacaan Sekolah Dasar)

•“Doea Sadjoli: Boekoe Siseon ni Dakdanak di Sikola.”
(1917). Buku ini menimbulkan daya kritik terhadap pemikiran anak-anak. Ditulis dengan aksara Latin (Soerat Oelando) yang relatif mengembangkan pedagogik sekuler. Buku ini mengadopsi poda, semacam storyteller yang berisi petuah, ajaran moral dalam konteks tingkat berpikir anak-anak.
•“Ranto Omas” (Golden Chain), 1918.

3.Soetan Hasoendoetan (Sipahutar), penulis novel dan jurnalis. Karya-karyanya:

•Turi-Turian (cerita bertutur, mengisahkan hubungan interaksi antara manusia dengan penguasa langit)

•“Sitti Djaoerah: Padan Djandji na Togoe.” (1927-1929), sebuah serial berbahasa Angkola Mandailing yang dimuat secara berantai dalam 457 halaman. Serial ini dimuat di mingguan “Pustaha” yang terbit di Sibolga. Kisah ini diyakini menjadi alasan pembaca membeli surat kabar tersebut.

Serial ini mengadopsi cerita-cerita epik, turi-turian, dan berbagai terminologi sosial masyarakat Angkola-Mandailing dan ditulis dengan gaya bertutur novel. Ini selaras dengan berkembangnya berbagai novel berbahasa Melayu yang dipublikasikan pemerintah kolonial.

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, masa ini dikenal dengan masa Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an. Soetan Hasundutan mengatakan bahwa ia menulis novel roman ini karena terinspirasi dengan novel “Siti Nurbaja” (Marah Rusli, 1922) yang sangat populer ketika itu.

•“Datoek Toengkoe Adji Malim Leman.” (1941), terbitan Sjarief, Pematang Siantar.

4.Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, menulis buku “Turian-turian ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi.” Buku ini diterbitkan Pustaka Murni Pematang Siantar bertajuk tahun 1914.

5.Sutan Pangurabaan. Karyanya, “Ampang Limo Bapole.” (1930), “Parkalaan Tondoeng” (1937), “Parpadanan” (1930), dan sebuah buku berbahasa Melayu “Mentjapai Doenia Baroe” (1934). Di samping buku-buku yang ditulis Willem Iskander, buku-bukunya juga menjadi buku bacaan untuk sekolah-sekolah masa kolonial.

6.Soetan Habiaran Siregar menggali bahasa, tari-tarian, dan lagu yang berasal dari Angkola-Mandailing. Ia menulis beberapa turi-turian, antara lain: “Turi-turian ni Tunggal Panaluan”, “Panangkok Saring-Saring tu Tambak na Timbo” (1983), dan lain-lain. Selain itu, ia juga membuat komposisi lagu yang dibuat menggunakan komposisi beat berirama cha-cha.

Selain sastra berbahasa Mandailing Angkola tersebut, penting dicatat tumbuhnya sastra Indonesia yang berbahasa Melayu tetapi dengan mengadopsi warna lokal. Misalnya novel “Azab dan Sengsara” (1921) yang ditulis Merari Siregar. Novel ini mengangkat kontekstual adat dan budaya semacam kawin paksa, warta warisan, hubungan kekerabatan, dan tradisi lokal Mandailing-Angkola.

KESUSASTRAAN MANDAILING KONTEMPORER
Berubahnya kurikulum pendidikan setelah masa kemerdekaan turut menyebabkan memudarnya penggunaan bahasa Mandailing. Selain itu, euforia bangsa yang baru saja merdeka dan menguatnya instrumen-instrumen berkarakter nasional yang tercermin dalam bahasa dan budaya baru bernama “Indonesia” dan teraktualisasi secara masif dalam sistem pendidikan nasional, menjadi kausalitas yang patut ditandai.

Hal ini diperburuk lagi dengan menguatnya “Java Oriented” dalam era Pemerintahan 1965 – 1998. Bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan merebaknya bahan bacaan berkultur nasional, semua itu berperan dalam melemahkan “saro ita”. Kurikulum Tahun 2006 yang membuka ruang ‘muatan lokal” ternyata juga gagal ditindaklanjuti daerah dengan penguatan bahasa dan karakteristik daerah.

Sastra literer nyaris mati. Hanya beberapa cerita sporadis yang muncul dalam media massa daerah. Itu juga dengan daya tarik yang diyakini rendah, karena pembaca merasa ‘asing’ dengan bahasa yang digunakan.

Tentu karena ada rentang yang ‘tak termaknai’ antara bahasa sastra Mandailing prakontemporer dengan bahasa Mandailing sebagai lingua-franca dalam konteks modern. Ada gap penguasaan makna bahasa antara penulis dengan penikmat sastra. Itu yang mendorong pemencilan sastra Mandailing.

Tahun 2009, saya menulis cerpen “Parkancitan”. Ketika cerpen itu saya kupas di sekolah, anak-anak menerimanya dengan aneh.

“I kan tu alak na maradong dei. Ho, aha nanga nadongmu? Sugi-sugi pe nga tartabusi ho,” ning ia sungkar. Sip polngit doma au.

Sangajo tie. Na larat mantong iba da. Dung do boto marbagas, lima ma daganak bo, na so unjung dope margonti santut niba. Hum baju ni daganak payah. Pala uida boto baju ni ayah si Butet, ekle baya. Dua pulu taon mantong naso igosok i baju nia. Gosokan takar dope na jolo. Isibakkon soni bulung ni pisangi laos manggosok. Ulang ma milas tu ninna. Na goso ma.(bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPKAD Palas Sosialisasi Dana Hibah dan Bansos

    DPKAD Palas Sosialisasi Dana Hibah dan Bansos

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Palas – Dinas Pendapatan Keuangan dan Asset Daerah (DPKAD) Kabupaten Padang Lawas (Palas), menggelar sosialisasi dana hibah dan Bantuan Sosial (Bansos), diikuti 120 peserta dari kalangan Ormas, OKP, LSM dan Unsur SKPD se-Palas, berlangsung di Aula Hotel Barumun Sibuhuan, Senin (15/12). Kepala DPKAD Palas Budi Hutari Siregar MAp menyampaikan, kegiatan ini merujuk Permendagri nomor : […]

  • Pj Bupati Madina Diminta Tak Berpihak

    Pj Bupati Madina Diminta Tak Berpihak

    • calendar_month Jumat, 24 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pengurus Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid (BKPRMI) Provinsi Sumatera Utara meminta Pejabat (Pj) Bupati Mandailing Natal (Madina), Ir H Aspan Sopian Batubara MM agar independen atau tidak memihak salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati di Pemilukada ulang nantinya. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua BKPRMI Sumut, Sofhan Ahmadi Nasution saat dihubungi METRO melalui […]

  • Paslon SAHATA Bantu Korban Kebakaran di Kelurahan Siabu

    Paslon SAHATA Bantu Korban Kebakaran di Kelurahan Siabu

    • calendar_month Rabu, 20 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution (SAHATA) memberikan bantuan kepada para korban kebakaran di Kelurahan Siabu, Kecamatan Siabu, Madina, Rabu (20/11/2024). Bantuan berupa sambako itu diserahkan oleh Ketua Tim Pemenangan SAHATA Khoiruddin Faslah Siregar.  Dia mengatakan bantuan ini […]

  • DPRD Madina Temukan 18 Proyek Tidak Selesai

    DPRD Madina Temukan 18 Proyek Tidak Selesai

    • calendar_month Selasa, 12 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    foto Binsar Nasution PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Fraksi Perjuangan Reformasi DPRD Mandailing Natal (Madina) menemukan 18 proyek fisik tahun 2012 tidak selesai dikerjakan, sementara dananya sudah dicairkan Pemkab Madina 100 persen. “Kita mendesak Pemkab Madina memberikan penjelasan secara resmi terhadap 18 paket proyek pada anggaran 2012 yang belum selesai dikerjakan sampai dengan Pebruari 2013, sementara […]

  • Karyawan Perusahaan Sawit PT S3 Yang Ditemukan Meninggal Dunia Diduga Belum Terdaftar Sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan

    Karyawan Perusahaan Sawit PT S3 Yang Ditemukan Meninggal Dunia Diduga Belum Terdaftar Sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan

    • calendar_month Sabtu, 30 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- PT. Sawit Sukses Sejati ( S3 ) yang beropedasi di Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal ( Madina ) tadi malam Jum’at 29/9/2023 akhirnya mendatangi rumah Mirwan alias Junaidy yang menjadi korban kecelakaan kerja pada Rabu 27/9/2023 kemaren yang mengakibatkan Mirwan/ Junaidy meninggal dunia. Waitir keluarga korban mengaku ,diwakili Humasy […]

  • Fraksi Partai Golkar Madina: PT Rendy Harus Tunaikan Hak Plasma Masyarakat

    Fraksi Partai Golkar Madina: PT Rendy Harus Tunaikan Hak Plasma Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 17 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Seharusnya kehadiran investor di suatu daerah bertujuan untuk memberikan dampak baik pada sektor sosial dan ekonomi. Namun, Keberadaan PT Rendy Permata Raya masih terus menimbulkan persoalan. Alih-alih meningkatkan ekonomi masyarakat di wilayah Singkuang I, Muara Batang Gadis, Mandailing Natal (Madina) justru kewajiban memberikan hak plasma masyarakat tidak terpenuhi. Menanggapi hal tersebut, […]

expand_less