Minggu, 25 Okt 2026
light_mode

Kisah di Balik Tugu Perintis Kotanopan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 17 Agt 2017
  • print Cetak

Tahanan di Tanah Merah, Boven Digul, Papua, 1933. (Foto milik Louis Johan Alexander Schoonheyt / koleksi KITLV)

 

Catatan : Askolani Nasution
Budayawan

 

Suatu hari di tahun 80-an, H. Mahals, nama pertama di prasasti Tugu Perintis Kemerdekaan Kotanopan, datang ke rumah kami yang berdinding “gogat”.

Ia menanyakan arsip-arsip almarhum ayah ketika masih bersama beliau dipenjara Belanda di Sukamiskin dan Digul. Bertemu beberapa catatan. Ia menyebut beberapa tokoh (di prasasti itu) masih hidup, tetapi lebih banyak yang sudah meninggal.

Lalu beliau bercerita, cerita yang juga sudah sering saya dengar penggalan-penggalannya. Intinya, mereka yang 25 orang di daftar itu sudah menjadi sahabat jauh sebelum Indonesia Merdeka, sama-sama ditangkap Belanda pada saat Rapat Akbar di depan Pesanggrahan Kotanopan.

Rapat Akbar terbuka mengagitasi rakyat untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan Belanda, menyusul berbagai pemberontakan yang meluas di Hindia Belanda pasca Pemberontakan Silungkang tahun 1926. Sebelumnya, rapat-rapat persiapan sudah berkali-kali mereka lakukan di Pesantren Subulussalam, Sayur Maincat, yang melibat para guru, siswa, dan pengurus sekolah.

Oleh polisi kolonial yang bermarkas di Tangsi Belanda yang tak jauh dari Pesanggerahan, mereka digelandang, lalu diangkut ke Padang. Dari Padang, diangkut ke Penjara Sukamiskin di Jawa Barat. Tahun 1933, bulan Agustus, Soekarno menyusul, masuk kamar 233. Kamar itu bersebelahan dengan kamar mereka yang dari Kotanopan. Karena itu, Soekarno yang selama ini hanya diceritakan di rapat-rapat perjuangan, bisa dikenali pemikiran politik dan konsep-konsep kenegaraannya.

Segera setelah meletus Pemberontakan Rakyat tahun 1926, tiga ribu orang ditangkap Belanda karena gerakan politiknya dan pemberontakannya. Karena penjara penuh, maka dibangunlan Boven Digul, Irian, tahun 1927 sebagai kamp konsentrasi terbesar dan terkuat di Asia Fasifik. Dibangun di hulu Sungai Digul, di tengah hutan belantara. Dikelilingi sungai Digul yang lebar dan penuh buaya dan di sisi lain hutan belantara yang penuh binatang buas. Karena itu sangat terisolir. Angkutan satu-satunya hanya perahu pengelola kamp.

Rombongan dari Mandailing diangkut dengan rakit menyusuri sungai Digul. Berhari-hari di atas sungai tanpa lampu. Di rombongan lain, ada perempuan yang melahirkan, hanya ditolong oleh para interniran (sebutan untuk para tahanan). Kalau ada yang meninggal, dibuang begitu saja ke Sungai, lalu dimakan buaya.

Sampai di kamp, ternyata Bung Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, Maskun, dan lain-lain ternyata sudah di sana bersama ribuan interniran lain yang datang dari berbagai pulau.

Kamp itu terdiri dari berbagai blok. Tiap tahanan diberi pondok kayu beratap rumbia, lalu jatah beras, ikan asin, dan minyak makan. Beberapa tahanan yang cukup memiliki uang, dapat belanja keperluan di toko Cina satu-satunya yang ada di kamp itu. Yang tidak punya uang cukup, dan itu jauh lebih banyak, mereka harus memancing sendiri di Sungai Digul, berkebun sayuran, dan mengusahakan kebutuhan makanan tambahan lain.

Kamp itu sarang malaria. Karena itu nyaris semua tahanan mengidap penyakit malaria yang akut yang disebut kencing hitam. Banyak yang mati karenanya, atau karena depresi. Banyak yang hilang ingatan karena stres. Beberapa tahanan ada yang mencoba menyeberangi Sungai Digul yang lebar, tapi akhirnya dimakan buaya. Ada yang menyeberangi hutan belantara, lalu dimakan binatang buas. Bahkan dimakan suku-suku primitif. Kisah-kisah pelarian itu menjadi catatan sendiri.

Setiap pagi, para tahanan dikumpul lalu digiring kerja paksa untuk mengubah rawa Digul menjadi perkampungan. Belum lagi siksaan fisik. Stressing itu menimbulkan konflik yang acap kali berakhir dengan bunuh-bunuhan antar tahanan, atau mati bunuh diri. Digul ketika itu menjadi neraka alam yang ganas.

Karena itu, ketika minggu lalu saya berdiri di depan Tugu Perintas Kotanopan, cerita itu mengingatkan saya kembali kepada H. Mahals yang berjuang menyelamatkan hidup para bekas Digulis dari Mandailing, membuatkan mereka tugu, dan mengunjungi keluarga-keluarga yang ada di daftar itu, sahabat-sahabatnya.

Saya tahu betul kesusahan hidup sebagian mereka ketika hidup, karena saya lihat sendiri. Bercerita tentang rumah-rumah gubuk tempat tinggal, susahnya menyekolahkan anak, sama seperti ibu saya yang dulu bekerja sebagai buruh tani. Tapi semua berbesar hati, karena kita telah merdeka!

Jadi, ketika semalam saya mengikuti peletakan batu pertama Tugu Pahlawan Sayur Maincat oleh Bupati Mandailing Natal, saya berpikir, tujuh orang pahlawan yang ada di sana, merekalah yang telah mengubah kita menjadi duduk nyaman di kedai kopi sambil menghisap sebatang dua batang rokok kretek pabrik, sambil bercerita goyangan pinggul artis. Di dinding, di atas televisi ada potret pejuang tua yang terlupakan, tapi di layar televisi tampak orang sedang berjemur di pantai, sambil sesekali muncul iklan pemutih wajah atau kondom ternyaman. Merdeka ternyata bisa juga berakhir naif. Merdeka!

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PT Sorikmas Mining Santuni Anak Yatim Dan Jompo Di Dua Kecamatan

    PT Sorikmas Mining Santuni Anak Yatim Dan Jompo Di Dua Kecamatan

    • calendar_month Jumat, 31 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Madina (MO) – Perusahaan tambang emas PT Sorikmas Mining (PTSM) membagikan bantuan kepada sejumlah anak yatim dan orangtua jompo di tiga desa yakni di desa Gunungtua lumbanpasair, dan desa Sopo sorik di kecamatan Panyabungan dan desa Binanga di kecamatan Hutabargot. Di Desa Gunung Tua Lumban Pasir santunan diberikan di kantor Kepala Desa, Jumat (17/8). PT […]

  • Uang Tak Punya, Yusriani Penderita Kista Ganas Butuh Dermawan

    Uang Tak Punya, Yusriani Penderita Kista Ganas Butuh Dermawan

    • calendar_month Senin, 5 Jul 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Uang tak ada, kehidupan sangat miskin, penyebab Yusriani Nasution tak mampu lagi ke rumah sakit mengoperasi kista ovarimun di rahimnya. Itu yang dialami Yusriani Nasution (32), warga Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina), Sumut. Ibu rumah tangga yang memilili dua anak ini telah 5 tahun mengidap kista folikel di rahimnya, […]

  • Partai Berkarya Madina Kian Diperkuat Tokoh Profesional

    Partai Berkarya Madina Kian Diperkuat Tokoh Profesional

    • calendar_month Senin, 2 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Partai Berkarya di Mandailing Natal diminati tokoh-tokoh profesional sebagai wadah penyaluran aspirasi politik. Mantan Ketua Badan Perecanaan Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Aswan Hasibuan,SH resmi mendaftarkan diri sebagai calon legislatif DPRD Madina dari Partai Berkarya. Aswan berada di kantor DPD Partai Berkarya Madina, Sabtu (30/8/2018) diterima Ketua DPD Partai Berkarya […]

  • Mantan Sekretaris Panwaslu Medan Dituntut 18 Bulan

    Mantan Sekretaris Panwaslu Medan Dituntut 18 Bulan

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Mantan Sekretaris Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Medan Fairuddin Madjrul, dituntut 18 bulan penjara denda Rp 50 juta subsidair 2 bulan kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum Durpa Rajagukguk SH dalam sidang lanjutan kasus korupsi penyalahgunaan dana operasional dan honor Panwascam dan PPL se Kota Medan di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (09/02/2010). Jaksa dalam tuntutannya […]

  • Polisi Tetapkan 7 Pekerja Tambang Emas Ilegal di Madina Jadi Tersangka

    Polisi Tetapkan 7 Pekerja Tambang Emas Ilegal di Madina Jadi Tersangka

    • calendar_month Jumat, 31 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) : Ada 10 unit alat berat milik penambang emas ilegal hasil tangkapan Polres Madina pada selasa 28/5/2024, masih berada di lokasi. Dari 12 alat berat berat baru 2 unit yang sudah dibawa ke Mako Polres Madina. Ipda Bagus Seto Plh Kasi Humasy Polres Madina saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. ” Benar […]

  • Dukung Program Hatinya PKK, Pemkab Madina Dorong P2L

    Dukung Program Hatinya PKK, Pemkab Madina Dorong P2L

    • calendar_month Jumat, 1 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    TAMBANGAN JAE (Mandailing Online) – Dalam rangka mendukung program Hatinya PKK, Pemkab Madina (Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal) melalui Dinas Ketahanan Pangan akan mendorong kegiatan P2L (Pekarangan Pangan Lestari). Hal itu disampaikan Ketua TP PKK Madina Hj. Eli Maharani Muhammad Ja’far Sukhairi Nasution saat meninjau lokasi P2L di Tambangan Jae, Tambangan pada Jumat (1/10). Eli Maharani […]

expand_less