Sabtu, 14 Mar 2026
light_mode

Marsialapari Tradisi Gotong Royong Masyarakat Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 13 Mei 2014
  • print Cetak

Oleh: Harvina, S.Sos

Tradisi gotong royong telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia. Tradisi ini dapat terlihat dari kebiasaan masyarakat kita yang saling membantu dalam melakukan setiap kegiatan, misalnya dalam prosesi pernikahan, kematian, menjaga lingkungan dan bercocok tanam. Namun, beberapa tahun terakhir, tradisi gotong royong tanpa disadari mulai terkikis keberadaannya, terutama pada masyarakat yang hidup di daerah perkotaan, yang lebih mementingkan kepentingan individu daripada kelompok.

Pada masa sekarang tradisi gotong royong mulai digalakkan kembali oleh pemerintah, dan masyarakat juga mulai menyadari betapa pentingnya gotong royong yang merupakan budaya lokal bangsa Indonesia. Masyarakat Mandailing yang berada di Sumatera Utara juga memiliki budaya atau tradisi-tradisi yang didalamnya mengandung aspek tolong-menolong. Mereka berusaha tetap mempertahankan tolong-menolong yang didalamnya mengandung nilai-nilai luhur yang diteruskan dari generasi ke generasi. Hal ini dapat terlihat pada tradisi-tradisi pengelolaan lingkungan alam. Salah satunya masyarakat Mandailing masih melakukan tradisi marsialapari.

Dalam tradisi marsialapari tersebut ada tradisi untuk saling bantu-membantu, bekerjasama dan bergotong-royong dalam mengerjakan sawah. Sehingga pekerjaan yang berat akan terasa ringan apabila dikerjakan bersama-sama.

APA ITU MARSIALAPARI?
Marsialapari merupakan salah satu tradisi yang ada di masyarakat Mandailing. Mandailing adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Dulu Mandailing merupakan daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, akan tetapi setelah mengalami pemekaran menjadi beberapa kabupaten/kota yaitu menjadi Kab. Mandailing Natal (Madina), Kota Padangsidimpuan, Kab. Tapanuli Selatan, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta). Kelima daerah ini disebut Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Di wilayah Mandailing inilah masih hidup tradisi marsialapari. Marsialapari merupakan budaya lokal yang dimiliki oleh masyarakat Mandailing dalam pengelolaan sawah mereka. Marsialapari berasal dari dua suku kata yaitu alap (panggil) dan ari (hari), kemudian ditambah kata awalan mar yang berarti saling, sementara si adalah kata sambung yang kemudian menjadi kata marsialapari, yang dapat diartikan sebagai saling menjemput hari.

Marsialapari oleh masyarakat Mandailing dikenal sebagai suatu kegiatan tolong menolong dan gotong royong. Dimana pada saat itu masyarakat Mandailing secara sukarela dengan rasa gembira saling tolong menolong/ membantu saudara mereka yang membutuhkan bantuan, yang biasanya dilakukan di sawah atau kebun. Jadi, dapat disimpulkan bahwa marsialapari adalah suatu kegiatan menolong orang lain secara bersama-sama dengan rasa gembira dan dengan harapan orang lain dapat menolong kita di waktu lain ketika kita membutuhkan. Jumlah harinya juga dihitung berapa hari, misalnya kita pergi ke sawah si A selama 7 hari, maka si A juga akan datang ke sawah kita dengan jumlah hari yang sama.

PROSESI MARSIALAPARI
Marsialapari dilakukan pada prosesi manyabii (memanen padi) ataupun prosesi marsuaneme (menanam padi), Pada saat marsuaneme (menanam padi), dibantu oleh enam hingga sepuluh orang yang berasal dari teman atau sanak saudara, baik yang muda ataupun yang tua untuk marsialapari ke sawah kita. Dalam satu hari bisa selesai marsuaneme (menanam padi), hal ini dikarenakan ada saling tolong menolong (marsialapari).

Meskipun marsialapari merupakan kerja sukarela tetapi ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki mendapat bagian pekerjaan yang tergolong lebih berat dari perempuan. Pekerjaan laki-laki berkaitan dengan perbaikan atau penyiapan saluran air, tanggul atau jalan. Sementara perempuan cenderung mengerjakan bagian-bagian yang berkaitan dengan penanaman dan pemanenan.

Puncaknya dari kegiatan marsialapari adalah manyabi (panen). Manyabi (panen) itu bagaikan pesta yang dilakukan di sawah. Saat manyabi (panen) adalah saat paling ditunggu-tunggu baik oleh peserta marsialapari maupun anak-anak. Manyabi (panen) penuh kenangan dan sangat membahagiakan mereka karena semua dikerjakan secara bersama-sama.

Dari kegiatan marsialapari ini terlihat bahwa pekerjaan yang sulit akan terasa lebih ringan apabila dikerjakan secara bersama-sama, Sehingga mengerjakan sawah yang luas tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak, cukup dengan marsialapari. Kegiatan marsialapari ini dapat bertahan karena masyarakat Mandailing masih memegang teguh nilai-nilai budaya yang ada dalam tradisi ini.

TRADISI MARSIALAPARI PERLU DIPERTAHANKAN
Dalam tradisi marsialapari terdapat kegiatan saling bantu-membantu, bekerjasama, bergotong-royong dalam menyelesaikan sesuatu perkara yang dihadapi bersama dalam lingkup kehidupan bersama. Oleh karena itu, hendaknya tradisi ini tetap dipertahankan, sebab tradisi ini merupakan cerminan budaya lokal dari masyarakat Mandailing itu sendiri.

Selain itu, dalam tradisi marsialapari tercermin nilai-nilai budaya masyarakat Mandailing Hal ini dikarenakan adanya esensi “kasih sayang (holong)” dan “persatuan (domu)” yang hidup dalam khazanah budaya masyarakat Mandailing. Dimana rasa kasih sayang (holong) dan persatuan (domu) telah tertanam dalam diri masyarakat Mandailing.

Kasih sayang dan persatuan (holong dan domu), pada masyarakat Mandailing merupakan implementasi dari adat Dalian Na Tolu, yang menjelma dalam jejaring tiga dimensi Kahanggi, Mora dan Anak Boru.

Sistem sosial dari Dalian Na Tolu tersebut yang menggiring masyarakat Mandailing untuk senantiasa memiliki rasa saling membantu dan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu persoalan yang menyangkut kehidupan bersama. Pelaksanaan dari prinsip adat terlihat dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Mandailing yang masih menjalankan aturan adat sebagaimana yang telah ditradisikan oleh leluhur mereka.

PENUTUP
Marsialapari yang merupakan budaya lokal masyarakat Mandailing harus bisa dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan tradisi marsialapari ini tersirat kegiatan saling bekerjasama dan bergotong-royong yang merupakan cerminan masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Mandailing pada dasarnya telah mempraktekkan kegiatan gotong royong sejak dahulu dan hendaknya tetap kita jaga kelestariannya.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPN 1 Sipirok Terus Berbenah

    SMPN 1 Sipirok Terus Berbenah

    • calendar_month Minggu, 7 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) sebagai sekolah yang memiliki predikat Sekolah Standar Nasional (SSN), terus membenahi pola pembelajaran sesuai dengan tuntutan SSN. Misalnya, metode pembelajaran secara nasional dengan menggunakan perangkat komputer melalui infokus. Kepala SMPN 1 Sipirok, Drs Bakir Harahap, kepada METRO, Jumat (5/11), mengatakan, bukan saja […]

  • Proyek Fisik Dinilai Tak Berkualitas, Kepercayaan Masyarakat Kepada Pemkab Madina Menurun

    Proyek Fisik Dinilai Tak Berkualitas, Kepercayaan Masyarakat Kepada Pemkab Madina Menurun

    • calendar_month Jumat, 12 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepercayaan masyarakat sangat menurun kepada Pemkab Mandailing Natal terkait mayoritas proyek fisik yang dinilai selalu berkualitas bobrok. Proyek-proyek fisik termasuk rabat beton, dek irigasi, dek jalan, pengaspalan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dinilai mutunya sangat amburadul. “Contohnya rabat beton, baru 10 bulan dibangun sudah pecah-pecah. Kualitas apa itu. Aspal juga tak […]

  • Atika Beri Batas Waktu, Insentif Tenaga Kesehatan Wajib Bayar Minggu Depan

    Atika Beri Batas Waktu, Insentif Tenaga Kesehatan Wajib Bayar Minggu Depan

    • calendar_month Jumat, 20 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution memberikan batas waktu pencairan insentif tenaga kesehatan. “Warning” itu ditegaskan Atika dalam satu rapat dengan kepala Dinas Kesehatan, Direktur RSUD Panyabungan dan RSUD Husni Thamrin Natal, kemarin. Dan pernyataan ini diposting di akun pribadinya pada laman facebook, Jum’at (20/8/2021). Atika menyatakan, banyak hal yang […]

  • Ketika Fir’aun Berkuasa

    Ketika Fir’aun Berkuasa

    • calendar_month Jumat, 18 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Ketika Fir’aun berkuasa, dirinya dikelilingi pemuka agama, konglomerat, dan juga para penjaga keamanan. Ketika Fir’aun berkuasa, di sisi kanannya ada Bal-am bin Ba’ura. Bal-am adalah seorang pemuka agama, yang dengan penguasaannya atas dalil-dalil agama di zamannya, dia memutar-mutar lidahnya demi membenarkan semua tindakan Fir’aun dan dengan kejinya menuding orang-orang yang memperjuangkan kebenaran sebagai penjahat […]

  • Pencairan Dana Desa Menunggu Peraturan Bupati

    Pencairan Dana Desa Menunggu Peraturan Bupati

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN  (Mandailing Online) – Pencairan Dana Desa di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) masih menunggu Peraturan Bupati (Perbub).  “Saat ini masih persiapan Perbub,  dan kalau Perbub-nya sudah selesai Dana Desa akan dicairkan,”  ujar Kepala Bagian Pemerintahan Pemkab Madina, Zulhairi Pulungan menjawab Mandailing Online,  Jumat (8/5). Dana Desa (DD) berbeda dengan Anggaran Dana Desa (ADD). Jika […]

  • Saro Mandailing

    Saro Mandailing

    • calendar_month Jumat, 28 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Edi Nasution BAHASA IBU KITA DULU, KINI, DAN ESOK TERJADINYA proses evolusi sehubungan dengan seleksi alam yang menimpa makhluk hidup, kini mungkin terjadi pula pada bahasa manusia. Terlepas dari kontroversi teori evolusi yang dirumuskan oleh Charles Darwin (1809-1882) itu, lalu muncul kekhawatiran karena cukup fakta yang menunjukkan bahwa sejumlah Bahasa Ibu di dunia […]

expand_less