Jumat, 13 Mar 2026
light_mode

Masa Muda Rasululloh dan Tetes Keringat Buruh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2020
  • print Cetak

 

Oleh : Ivan Aulia Hasan

Hampir tidak ada riwayat dari sumber-sumber tradisional yang secara lengkap menggambarkan masa muda Nabi Muhammad. Kita memang mengetahui masa kecilnya sejak lahir hingga berusia kira-kira 8 tahun ketika ia mulai diasuh pamannya, Abu Talib bin Abdul Mutalib. Tapi periode setelah itu, di umur sekitar 12-20 tahun, gambaran yang kita dapatkan hanya sepotong-sepotong.

Pada periode tersebut ia dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Abu Talib. Sang paman menyayangi keponakannya yang yatim piatu itu seperti anak kandung sendiri.

Muhammad kecil pernah diajak pamannya berniaga hingga Syam (Siria). Kisah-kisah Nabi Muhammad hasil kompilasi sejarawan Persia Abu Ja’far al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk yang disusun pada abad ke-10 mengisahkan bahwa dalam suatu pemberhentian di Busra, seorang pendeta Kristen Nestorian bernama Bukhaira melihat tanda-tanda khusus pada diri Muhammad. Bukhaira meramalkan Muhammad kelak akan menjadi nabi dan meminta Abu Talib untuk melindungi keponakannya.

Riwayat-riwayat menyebutkan pula bahwa Nabi Muhammad tumbuh sebagai remaja tampan yang rendah hati. Tapi bukan keistimewaannya. Ia dikenal seantero Makkah sebagai pemuda jujur yang bisa dipercaya siapapun. Dari kualitas pribadi macam itulah kemudian muncul panggilan “al-amin” untuknya. Julukan tersebut bermakna “ia yang bisa dipercaya”.

Abu Talib memiliki delapan anak kandung. Ditambah satu keponakannya, berarti ia harus bertanggung jawab untuk memberi nafkah sembilan anak. Ini barangkali agak berat baginya sebab ia bukan orang yang kaya raya.

Karena itu, ketika Muhammad sudah cukup umur untuk bekerja, ia merasa harus membantu meringankan beban pamannya. Di masa itu salah satu harta paling berharga dari klan-klan di Makkah adalah kepemilikan kambing. Para pemilik kambing butuh penggembala agar hewan ternak mereka bisa memperoleh rumput dengan teratur. Anggota-anggota klan lazimnya mempekerjakan anak muda untuk menggembalakan kambing-kambing itu.

Muhammad kemudian menjadi seorang penggembala yang merawat kambing-kambing baik milik keluarganya maupun milik keluarga lain. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan upah sekadarnya. Upah yang ia peroleh kemudian diserahkan kepada pamannya. Abu Talib sangat bersyukur mempunyai keponakan yang baik hati.

Salah satu biografer Nabi Muhammad dari zaman modern yang secara agak dramatis menceritakan periode penggembalaan ini adalah Muhammad Husain Haekal. Dalam Sejarah Hidup Muhammad (pertama kali diterbitkan di Mesir pada 1935), Haekal mengisahkan babak kehidupan tersebut dengan penuh romantisme.

“Pada siang hari, di tengah udara dan suasana yang agak bebas, serta di bawah paparan sinar matahari, dan di malam hari ditemani kemilau bintang-bintang, penggembala kambing berhati suci itu menemukan tempat yang tepat untuk berpikir dan merenung. Muhammad menerawang jauh di tengah suasana alam seperti itu dan berharap dapat melihat sesuatu di balik semua itu,” urai Haekal (hlm. 140).

Interpretasi Haekal mengarah kepada gagasan bahwa Nabi Muhammad mulai merenungi secara mendalam hal-hal ketuhanan, tanda-tanda alam, dan spiritualitas ketika ia menggembalakan kambing. Haekal juga mencatat Nabi Muhammad selalu berbangga dengan pekerjaannya sebagai penggembala.

“Musa diutus, dan dia adalah penggembala kambing. Daud diutus, dan ia adalah penggembala kambing. Aku diutus, dan aku juga seorang penggembala kambing,” ujar sang Nabi dalam sebuah hadis.

Bekerja Untuk Khadizah

Ketika usia Muhammad semakin dewasa, ia tampaknya harus mencari pekerjaan lain yang bisa mendatangkan upah lebih besar. Bagaimanapun, kebutuhan keluarga Abu Talib semakin bertambah.

Secara kebetulan, ketika Muhammad sedang mencari profesi baru, seorang saudagar kaya Makkah tengah membutuhkan pekerja. Khadijah, saudagar itu, adalah pemilik usaha perdagangan kain yang menjual barang-barangnya hingga ke kota-kota yang jauh. Ia sendiri tidak turun langsung sebagai kafilah. Khadijah mempekerjakan orang untuk berniaga.

Abu Talib mengenal saudagar itu dengan sangat baik sejak dahulu sebelum suami Khadijah meninggal. Abu Talib lalu mendatangi rumah Khadijah dan menawarkan kepadanya apakah ia bersedia menerima Muhammad bekerja.

Khadijah juga mengenal Muhammad. Perempuan itu tahu reputasi Muhammad sebagai al-amin dan menaruh respek kepadanya. Karena itu, ketika Abu Talib meminta upah dua kali lipat lebih tinggi untuk Muhammad, Khadijah tak menolaknya. Maka demikianlah, mulai saat itu Muhammad bekerja kepada Khadijah dan memperdagangkan kain-kainnya ke luar kota.

Tugas pertama Muhammad adalah berniaga ke Syam. Ia ditemani seorang budak perempuan bernama Maisaroh untuk membantunya selama perjalanan. Pekerjaan ini sukses besar. Dagangan milik Khadijah laku keras.

“Dengan kejujuran dan kecakapannya, Muhammad mampu menjalankan amanat Khadijah. Bahkan, beliau mampu mendapat keuntungan yang jauh lebih banyak daripada yang dilakukan orang lain yang pernah bekerja untuk Khadijah,” catat Haekal (hlm. 145).

Atas informasi dari Maisaroh, Khadijah mendengar betapa jujur Muhammad dalam berniaga. Orang-orang yang membeli dagangannya juga terkesan dengan kerendahan hati lelaki muda dari Makkah itu. Khadijah rupanya jatuh cinta kepada Muhammad, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua kemudian menikah dan sisanya adalah sejarah.

Jika ditafsirkan dengan perspektif modern, hubungan kerja antara Khadijah dan Muhammad adalah relasi pemilik modal dengan buruh. Dalam sumber-sumber tradisional Islam memang tidak diceritakan apakah sistem kerja tersebut berupa pengupahan atau bagi hasil. Tapi yang jelas, Muhammad mendapatkan timbal balik atas pekerjaannya (dalam sebuah riwayat disebut berupa empat ekor unta).

Dalam konteks hubungan kerja itu, Muhammad hanya memiliki tenaga dan tidak menguasai alat-alat produksi; sementara Khadijah mempunyai kapital. Sehingga bisa dikatakan, saat itu Muhammad-si-pemilik-tenaga bekerja untuk Khadijah-si-pemilik-modal.

Dari seseorang yang pernah berpeluh sebagai buruh itulah kemudian muncul kalimat menggetarkan: “Bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering.”***

Dicopy dari Torto.id

Mandailing Online telah merubah judul asli tulisan di Tirto.id : “Nabi Muhammad Merasakan Tetes Keringat sebagai Buruh & Penggembala”

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karena Pilpres, Penetapan Tersangka Taman Raja Batu Ditunda

    Karena Pilpres, Penetapan Tersangka Taman Raja Batu Ditunda

    • calendar_month Senin, 21 Jan 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

        MEDAN (Mandailing Online) : Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara belum juga menetapkan tersangka kasus pembangunan Taman Raja Batu dan Tapian Sirisiri di Mandailing Natal. Pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) beralasan tak mau mengganggu  penyelenggaraan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg). “Inikan mau pemilihan pilpres dan pileg, kita tidak mau mengganggu agenda pemerintah […]

  • 3.167 KK di Madina tanpa listrik

    3.167 KK di Madina tanpa listrik

    • calendar_month Senin, 27 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Sungguh memprihatinkan nasib 3.167 kepala keluarga (KK) di 20 desa di Kabupaten Mandailing Natal hingga kini belum menikamti listrik baik jaringan PT PLN maupun pembangkit tenaga diesel (PLTD). Sehingga warga terpaksa menggunakan lampu teplok dan bagi yang warga yang mampu membeli mesin genset untuk menerangi rumahnya. Desa-desa yang belum teraliri listrik ini rata-rata […]

  • Ruko Terus Bertumbuh di Panyabungan

    Ruko Terus Bertumbuh di Panyabungan

    • calendar_month Senin, 4 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, (MO) – Pembangunan rumah toko (Ruko) di sepanjang jalan Willem Iskandar Panyabungan, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dari tahun ke tahun terus bertambah (bertumbuh). Selain jumlah ruko yang bertambah, sewanya juga terus naik. Bakhtar Nasution salah seorang warga Panyabungan kepada wartawan kemarin mengatakan, ruko yang dibangun oleh masyarakat pada umumnya untuk disewakan. Sebagian […]

  • KNPI  Madina Dukung Puskesmas Buka 24 Jam

    KNPI Madina Dukung Puskesmas Buka 24 Jam

    • calendar_month Selasa, 30 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rencana Bupati Mandailng Natal (Madina) Hidayat Batubara untuk membuka seluruh puskesmas buka siang malam atau 24 jam, mencapat dukungan dari KNPI. DPD Kmite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI ) Madina menyatakan mendukung sepenuhnya niat bupati tesebut sebagai upaya peningkatan layanan kesehatan kepada rakyat. “Kita sepenuhnya mendukung program ini, sebab masalah kesehatan termasuk […]

  • Serangan Hama Tikus, Diperkirakan 20 Ton Produksi Padi Turun

    Serangan Hama Tikus, Diperkirakan 20 Ton Produksi Padi Turun

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam sebulan terakhir hama tikus melantak sejumlah kawasan persawahan di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Akibatnya, sekitar 20 hektar tanaman padi rusak dengan rincian 13 hektar kerusakan ringan, 5 hektar kerusakan sedang, dan 2 hektar kerusakan berat. Penyusutan produksi padi di kawasan Panyabungan musim ini diperkirakan 2 ton akibat serangan […]

  • SOSOK LUDFAN NASUTION (Kilasan Pasca Rekomendasi PKB)

    SOSOK LUDFAN NASUTION (Kilasan Pasca Rekomendasi PKB)

    • calendar_month Minggu, 18 Jun 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Catatan : ASKOLANI NASUTION Budayawan   Saya mengenalnya tahun 2009 di radio Start 102.6 FM Panyabungan ketika masih di Lintas Timur, beliau penyiar di radio itu dan saya sering ke sana untuk sekedar minum kopi. Lalu dengan Pak Khoiruddin Faslah Siregar dan Romi Hidayat, kami juga sama-sama menulis buku biografi Amru Daulay. Saya bagian […]

expand_less