Sabtu, 14 Mar 2026
light_mode

Memimpikan Swasembada Pangan Seutuhnya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Agt 2022
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan, S.Pt
Penulis, tinggal di Sidimpuan

Mi instan, siapa orang Indonesia yang tak pernah merasakan kenikmatannya? Harganya murah, memasaknya praktis, rasanya maknyus. Hampir semua kalangan menyukainya.

Namun yang paling sering mengkonsumsinya adalah masyarakat kalangan menengah bawah. Mereka tidak lagi memikirkan bahaya mengkonsumsi mi instan setiap hari, pertimbangannya adalah daripada tidak makan. Begitulah kondisi memaksanya.

Bagaimana jadinya kalau harga mi instan akan naik? Mungkinkah akan banyak masyarakat yang kelaparan?

Sebelumnya, sudah disebutkan bahwa mi instan akan mengalami kenaikan hingga 3 kali lipat. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Syahrul Yasin Limpo selaku Menteri Pertanian.

Adapun alasan harga mi instan naik karena dampak perang Rusia-Ukraina. Sedangkan Indonesia masih ketergantungan atas impor komoditas dari kedua negara tersebut. (Suara.com 18/08/2022)

Ternyata kenaikan harga mi instan dalam sebulan telah berlangsung dua kali. Kenaikan harga per karton mencapai Rp5.000, yakni dari sebelumnya Rp100.000 menjadi Rp105.000 per karton. (Inews.id 20 Agustus 2022)

Ironis Negeri Agraris

Dilansir dari CNBC Indonesia (14/08/2022)
Indonesia mendapatkan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI). Penghargaan itu diberikan atas keberhasilan sistem ketahanan pangan Indonesia dalam hal swasembada beras tahun 2019-2021.

Ini menjadi bukti bahwa seyogianya negeri ini mampu untuk menggenjot swasembada pangan lainnya, selain beras. Mengingat kebutuhan pangan rakyat tidak hanya beras.

Pemerintah harusnya dapat memahami ketergantungan Indonesia terhadap gandum. Bukankah seyogianya pemerintah membuat langkah yang nyata agar swasembada pangan, selain beras dapat juga dicapai?

Sebagai negara agraris, kondisi Indonesia sesungguhnya berada pada situasi yang ironis. Sebab belum mampu mencapai swasembada pangan secara menyeluruh. Kondisi ini diperparah pula dengan ketidakseriusan pemerintah dalam membangun pertanian. Padahal pertanian, menyangkut hidup dan matinya suatu bangsa.

Jika swasembada beras dapat diraih karena dukungan penuh dan fasilitas dari pemerintah, namun mengapa hal yang sama tidak direalisasikan untuk pangan lainnya? Bukankah rakyat juga sangat membutuhkan gandum, gula, terigu, daging dan yang sejenisnya?

Menelisik Masalah

Jika kita telisik lebih dalam masalah gagalnya swasembada pangan di negeri agraris, sebenarnya banyak faktor yang membuat tidak terealisasinya swasembada pangan secara sempurna di negeri ini. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

Beberapa kebijakan hadir untuk menghentikan alih fungsi lahan pertanian, namun realitas berkata lain. Banyak petani yang terpaksa harus merelakan lahannya demi mengejar pembangunan manufaktur dan permukiman. Alhasil lahan pertanian berubah menjadi lahan pabrik ataupun perumahan. Walaupun ada lahan tersisa untuk pertanian, tapi kondisi lahannya pun memprihatinkan karena tercemar limbah rumah tangga ataupun pabrik.

Permasalahan lainnya adalah tentang pengadaan pupuk. Dukungan pemerintah terhadap subsidi pupuk masih terbatas. Jika ada pupuk non subsidi harganya pun tak bersahabat dengan kantong petani.

Tidak adanya sokongan fasilitas, sarana dan prasarana dari pemerintah. Canggihnya zaman teknologi saat ini, belum tercermin pada sektor pertanian negeri agraris ini. Padahal, jika ditopang dengan alat dan mesin pertanian yang mumpuni, tentu swasembada akan lebih cepat diraih.

Solusi

Lantas, bagaimana agar swasembada pangan secara sempurna dapat terealisasi?

Jika saat ini sistem kapitalisme sekuler yang mewarnai negeri ini tidak mampu mewujudkan swasembada pangan seutuhnya, maka Islam sebagai agama sekaligus ideologi, mampu untuk merealisasikan nya.

Untuk merealisasikannya Islam menggunakan politik pertanian yang terdiri dari dua strategi penting, yaitu intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian.

Intensifikasi pertanian yaitu peningkatan produktivitas dan kualitas pertanian. Terdiri atas pengadaan benih dan pupuk yang berkualitas, inovasi berbasis teknik pertanian modern serta dukungan fasilitas sarana dan prasarana untuk menunjang pengembangan sektor pertanian.

Ekstensifikasi pertanian yaitu menambah luas areal lahan. Dalam negara Islam tidak diperkenankan membiarkan tanah diam (tanah yang tidak terurus atau tidak ditanami) selama lebih dari 3 tahun berturut-turut. Jika ini terjadi maka negara akan mengambil alih tanah ini dan memberikannya kepada yang mampu untuk mengelolanya.

Hal ini sesuai dengan hadis
“Dari jabir RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : barang siapa mempunyai sebidang tanah, maka hendaklah ia menanaminya, jika ia tidak bisa atau tidak mampu menanami, maka hendaklah diserahkan kepada orang lain (untuk ditanami) dan janganlah menyewakan (HR.Muslim).

Dengan dua strategi ini menjadikan produktivitas pertanian dapat terkontrol dengan baik. Negara khilafah atau negara islam juga akan mengerahkan pegawai negeri khusus seperti departemen pertanahan untuk mengawasi tanah yang dimiliki rakyat. Direktorat perindustrian untuk menciptakan sarana dan prasarana pertanian berupa alat atau mesin.

Maka, dampak dari strategi ini serta keterikatan antara satu departemen dengan departemen lainnya adalah melimpahnya pangan dan meningkatnya hasil pertanian. Oleh karena itu, impian untuk mewujudkan swasembada pangan bukan lagi sekedar cita-cita melainkan sudah dapat terealisasi seutuhnya. Tentu, impian untuk terwujudnya swasembada pangan hanya dapat terealisasi dengan menggunakan sistem islam dalam bingkai negara (khilafah). Wallahualam bishawab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Pelajar SD dari Siabu Utusan Madina ke Hardiknas Sumut

    3 Pelajar SD dari Siabu Utusan Madina ke Hardiknas Sumut

    • calendar_month Senin, 25 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) –  Tiga pelajar sekolah dasar dari Kecamatan Siabu akan menjadi utusan Kabupaten Mandailing Natal ke tingkat Provinsi dalam berbegai lomba menyambut Hardiknas pada Mei nanti. Ketiga pelajar itu adalah Naufal Haris dari SD Negeri 001 Sihepeng yang menjuarai lomba Vokal Solo di tingkat Kabupaten Maret lalu. Kemdian Etikah Sari dari SD Negeri […]

  • PKS Madina Kunjungi NU dan Muhammadiyah

    PKS Madina Kunjungi NU dan Muhammadiyah

    • calendar_month Senin, 28 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN  (Mandailing Online) – DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Madina mengunjungi dua ormas islam terbesar, Senin (28/6/2021) di Panyabungan. Dua ormas itu DPD Muhammadiyah dan PC Nahdhatul Ulama (NU). Kunjungan ini merupakan upaya PKS mengeratkan silaturrahim dan kerjasama dengan berbagai elemen dalam membangun pemikiran-pemikiran positif bagi kemaslahatan umat dan pembangunan daerah. Rombongan dipimpin Ketua DPD […]

  • Saipullah-Atika Ajak Masyarakat Bergandeng Tangan Bangun Madina

    Saipullah-Atika Ajak Masyarakat Bergandeng Tangan Bangun Madina

    • calendar_month Senin, 24 Feb 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) terpilih, H. Saipullah Nasution – Atika Azmi Utammi Nasution mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Madina bergandeng tangan membangun kabupaten ini ke arah yang lebih baik. “Alhamdulillah robbilalamin atas putusan yang diberikan MK (Mahkamah Konstitusi) yang betul-betul luar biasa dengan segala pertimbangan yang sangat konkrit […]

  • Ditangkap Saat Jenguk Tahanan di Mapolda Sumut Sabu-sabu Disimpan di Kemaluan

    Ditangkap Saat Jenguk Tahanan di Mapolda Sumut Sabu-sabu Disimpan di Kemaluan

    • calendar_month Senin, 9 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ditangkap Saat Jenguk Tahanan di Mapolda Sumut MEDAN- Susi (19), warga Aceh, nekat mengantar sabu-sabu ke tahanan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut, Jumat (6/1) sore pukul 16.00 WIB. Sabu-sabu tesebut disembunyikannya di kemaluannya. Namun, kejelian petugas piket, berhasil menangkapnya dengan barang bukti 8,4 gram sabu-sabu. Menurut informasi yang didapat di Direktorat Narkoba Polda Sumut, seperti […]

  • Seputar Anggota DPRD Tiduri Pegawai Honor

    Seputar Anggota DPRD Tiduri Pegawai Honor

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Djafar: Saya Difitnah & Diperas MADINA; Anggota DPRD Mandailing Natal, Djafar Siddiq Nasution (40), mengaku telah difitnah terkait adanya pengakuan Widuri (nama samaran), pegawai honor di Pemkab Madina yang mengaku telah ditidurinya. Selain itu, politisi dari PAN ini juga menyebutkan ada unsur pemerasan terkait hal tersebut. “Kita akan menuntut balik atas pencemaran nama baik dan […]

  • Produk Kentang Masih 208 Ton

    • calendar_month Jumat, 31 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kentang Hutanagodang terus merosot produksinya sejak tahun 2007 lalu. Padahal, kentang produk Hutanagodang memiliki cita rasa tinggi, kualitasnya jauh diatas kentang petani Kabupaten Karo. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Mandailing Natal (Madina), satu-satunya kawasan di Madina yang membudidayakan kentang hanya Ulu Pungkut. Pada tahun 2007 luas tanam dan luas panen […]

expand_less