Home / Artikel / MENANAMKAN DISIPLIN SEJAK DINI

MENANAMKAN DISIPLIN SEJAK DINI

Oleh : Emmi Safridah Caniago, S.Pd
Kepala TK, tinggal di Panyabungan

 

Disiplin sering menjadi masalah bagi anak-anak, terutama apabila pengertian disiplin hanya dikaitkan dan sekedar menurut perintah orang tua dan guru. Anak yang tidak menurut orang tua dan guru dikatakan tidak disiplin.

Melihat kondisi seperti ini penulis yang sehari-harinya berprofesi sebagai guru TK ingin berbagi ilmu mengenai peran serta orang tua dan guru dalam mendisiplinkan anak. Banyaknya anak-anaksekarang semau gue. Kadang tidak terkendali kenakalan dan ketidakpedulian atas aturan yang berlaku dirumah,disekolah, ataupun masyarakat.

Disiplin itu sebaiknya diterapkan sejak usia dini. Dalam pembetukan disiplin, peran orang tua dan guru sangat membantu. Disiplin merupakan upaya untuk mengerakkan, mengikuti,dan mematuhi pedoman aturan-aturan  yang telah digariskan.

Disiplin ini terkait dengan berbagai sistem, dan siapapun yang melanggarnya perlu diberikan sanksi sesuai aturan-aturan yang berlaku bagi yang membuat dan menjalankan disiplin.

Disiplin memang perlu melalui pendekatan. Pendekatan itu bukanlah suatu hukuman, tetapi pembentukan prilaku. Tujuannya untuk perubahan prilaku yang lebih baik dan bertanggung-jawab terhadap perbuatannya.

Disiplin sebetulnya tidak ada hubungannya dengan pelototan mata, ancaman, pukulan atau kekuasaan sewenang-wenang dari orang tua. Kalau disiplin diberikan dengan cara tidak menyenangkan, anak akan semakin jauh dari prilaku yang diharapkan.

Disiplin perlu ditanamkan dengan cara sejuk. Melalui pendekatan yang dapat dilakukan untuk membantu anak dalam menanamkan disiplin. Cara-cara di bawah ini mungkin dapat membantu orang tua dalam menanamkan disiplin.

  1. Tegas

Jika anda melarang anak untuk tidak melalukan sesuatu, berikan alasan yang masuk akal, jelaskan sengan cara gampang dan bimbinglah. Anak zaman sekarang pasti tidak mau menerima alasan seperti “Jangan makan didepan pintu,pantang”. Beritahu alasannya kenapa tidak boleh di depan pintu.

  1. Buatlah kesepakatan.

Anak akan meniru apa yang orang dewasa lakukan begitu juga kalau anda dan pasangan plin-plan terhadap satu keputusan. Misalnya, anda tidak setuju dia melompat lompat di tempat tidur, sementara pasangan membiarkan hal itu. Ini hanya akan membuat anak bingung dan berakibat mengabaikan larangan anda. Buatlah kesepakatan dengan suami istri semua keputusan dan sianakpun dapat bersikap.

  1. Kompromi

Anak-anak tidak selalu bisa mengatasi dan membedakan mana persoalan kecil dan mana persoalan besar. Jadi kompromi dan cobalah untuk mengerti mereka. Tindakan kompromi ini akan membuat anak merasa diawasi dan membuatnya menjadi lebih mudah menghadapi persoalan yang lebih besar lagi di kemudian hari.

  1. Nyatakan keberatan dengan jelas.

Akan lebih baik jika anda menyatakan keberatan pada tingkah laku anak dengan alasan yang jelas, seperti “berhentilah melempar lempar mainanmu. Nanti rusak, Sayang”. Daripada berteriak “Hei, jangan lempar-lempar.”

  1. Beri anak pilihan.

Ahli menyarankan jika anak mengobrak abrik buku yang ada di ruang keluarga, anda dapat mengatakan”Maukah kamu berhenti dan membaca saja di kamarmu?” Jika dia tak memperdulikan perkataan anda, dengan cara lembut namun tegas, anda dapat membimbingnya ke kamar dan mengatakan bahwa dia dapat kembali ke ruang keluarga jika mau mendengarkan kata-kata anda.

  1. Beri Peringatan

Jika anak tahu aturan yang telah anda buat pada usia anak tertentu yang perlu anda lakukan adalah bertanya pada saat dia melakukan pelanggaran. Dia langsung akan merasa segan pada anda. Jika anda buat batas peringatandengan hitungan, sehingga anak akan belajar untuk segera bersikap setelah anda memberi peringatan.

  1. Beri tahu dampak buruk dari perbuatannya.

Jangan lupa jelaskan dengan jelas dan sederhana apa yang dilakukan  dan kenapa, misalnya “Mama simpan pisaunya ya, bisa melukai tanganmu.”

  1. Hadapi Rengekan

Katakan pada anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu dan tegaskan bahwa anda tidak akan mengabulkan permintaanya jika dia merengek kecuali dia minta dengan manis dan sopan.

  1. Perlihatkan contoh yang baik.

Anak anda adalah makhluk yang belajar meniru. Jadi sewaktu-waktu anak melihat cara anda, dia akan meniru yang anda lakukan.

Bagaimana pula peran guru dalam mendisiplinkan anak usia dini? Usia 4-6 tahun merupakan masa peka bagi anak-anak. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang meresfon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan.

Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam pemgembangan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, konsep diri disiplin, kemandirian, seni,dan nilai-nilai agama. Untuk itu diperlukan situasi stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Peranan guru saat ini diperlukan dalam pengembangan potensi anak usia dini. Upaya pengembangan ini dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Dengan bermain anak memilih kesempatan, menemukan, mengekspresikan, perasaan, berkreasi secara menyenangkan dan anak mengenal dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

Dengan ini peranan guru dalam menanamkan disiplin pada anak usia dini bisa dilihat melalui dua perkembangan yaitu:

  1. Pengembangan pembiasaan.

Dalam pengembangan pembiasaan meliputi perkembangan moral dan nilai-nilai agama serta pengembangan sosial emosional dan kemandirian. Sebagai contoh sehari-hari yang penulis tanamkan yaitu: cara berdoa, sopan santun, melaksanakan tata tertib sekolah, menjaga lingkungan cara mandiri dan bergaul.

  1. Pengembangan kemampuan dasar.

Dalam kemampuan dasar merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru yang meningkatkan kemampuan dasar meliputi: berbahasa, kognitif, fisikmotorik, seni.

Dengan kita mengetahui bagaimanakah disiplin itu bisa ditanamkan kepada anak usia dini oleh orang tua dan guru, maka penerapan disiplin ini sangan membatu bagi sianak, orang tua, dan guru. Bagi sianak, anak semakin tahu apa arti disiplin bagi mereka, semakin termotifikasi untuk melakukan sesuatu yang merupakan hasil pemikirannya sendiri dari pada harus mengikuti perintah orang lain, percaya diri dan bisa menyesuaikan dengan lingkungannya dan sianak menjadi siap menyongsong masa depan. Orang tua dan guru semakin terbantu oleh kedisiplinan anak. ***

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: