Home / Berita Sumut / Misteri Penculikan Warga Desa Sei Meranti, Labusel

Misteri Penculikan Warga Desa Sei Meranti, Labusel


LABUSEL :Perseteruan warga Desa Seimeranti, kecamatan
Torgamba, Labuhanbatu Selatan (Labusel) dengan pihak PT SBI dan Polhut, berbuntut panjang.

Bahkan, semakin misteri. Sebab, indikasi adanya penculikan seorang
warga yang diduga dilakukan oknum Polhut belum memperoleh kejelasan.
Terlebih, Kepolisian Sektor (Polsek) Bagan Sinembah, Rokan Hilir, Riau
membantah adanya warga yang melaporkan aksi penculikan. Bahkan,
meminta agar kembali membuat laporan ke Polsek tersebut.

Padahal, ketika unjuk rasa ratusan warga Desa itu di depan kantor DPRD
Labusel, Rabu 8 Desember 2010 barusan, disebut-sebut salahseorang
warga diduga telah diculik oknum yang menamakan dirinya Polisi
Kehutanan dari Kecamatan Baganbatu, Rokan Hilir-Riau. Dan, pihak
Polsek Bagan Sinembah dituding telah menolak laporan warga. Itu sesuai
ungkapan Arbaniah br Hasibuan (31), seorang warga Desa Sei Meranti
yang mengakui suaminya Wisman Situmorang (35) diculik oleh sekelompok
orang mengaku sebagai oknum Polhut. Dan diperkuat keterangan Kepala
Desa setempat yang mengatakan pihak aparat hukum disana, tidak
menerima laporan dan pengaduan yang dilakukannya ke
pihak Polsek. “Coba temukan korban ke Polsek. Kapan Melapornya,” ujar
Kompol Rudi Samosir Kapolsek Bagansinembah, Kamis 9 Desember 2010 ketika
dikonfirmasi via selular.

Hal itu disebutkan Rudi dalam pesan singkatnya, agar didapat kebenaran
yang ada. Sebab, tambahnya, pihaknya tidak ada sama sekali menerima
warga yang ingin membuat laporan terkait hal itu. “Mana yang benar
dulu. Karena setahu saya tidak ada,” ujarnya diakhir pesan singkat
selularnya.

Sedangkan versi Arbaniah dalam aksi di gedung DPRD Labusel sebelumnya
mengungkapkan, suaminya Wisman Situmorang telah dijemput paksa oleh
segerombolan pria yang menyandang senjata dan menggunakan mobil patrol
Polhut di Baganbatu-Riau, dirinya membuat laporan ke pihak Polisi.
Namun, ditolak. Kejadian itu, lanjutnya, ketika 28 November yang lalu.
“Hingga saat ini, saya tidak tau bagaimana nasib suami saya yang
diculik oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Polisi
Kehutanan,” katanya di depan kantor DPRD Labusel dengan pengeras
suara.

Hal itu diperkuat oleh keterangan Kepala Desa Sei Meranti, Surbakti
yang turut dalam aksi ratusan warga tersebut mengharapkan kepada DPRD
agar dapat memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang dialami warga.
“Ibu Arbainah sempat membuat laporan. Tapi, tak ditanggapi,” kata
Surbakti.

Sementara itu, pihak Legislatif Labusel mengakui hal penculikan akan
menjadi prioritas bahasan kalangan wakil rakyat setempat. Hasil
audensi yang dilakukan warga dengan DPRD Labusel menyimpulkan bahwa
permasalahan yang dialami oleh Arbainah merupakan permasalahan yang
prioritas yang selanjutnya permasalahan penembakan warga dan legalitas
tanah agar sesegera mungkin diselesaikan dan tidak menimbulkan
permasalahan kembali. “Ibu kami minta untuk membuat laporan ke pihak
kepolisian dan kami akan mendampingi,” kata Zainal Harahap Wakil Ketua
DPRD Labusel.

Penculikan itu sendiri, menurut Arbaniah membuat dirinya mengalami
kedukaan. Karena, aksi SPORC itu, dirinyapun sempat mendapat pukulan
di dada yang dilakukan seorang oknum Polhut. Itu, katanya, karena
mempertanyakan dan mencoba untuk membela suaminya dari tindakan arogan
orang-orang yang menculik suaminya. Bahkan, dia juga mendapat
tendangan sekelompok Polhut dari atas mobil dinas yang digunakan
ketika akan membawa suaminya ketika itu.(fh)
Sumber : EksposNews

Comments

Komentar Anda

%d blogger menyukai ini: