Home / Pendidikan / nternet Alat Bantu Proses Belajar Mengajar

nternet Alat Bantu Proses Belajar Mengajar

Oleh:
Pinondang Situmorang SS SPd
Guru SMP/SMA WR Supratman 2 Medan


Pergeseran yang mengarah pada perubahan paradigma pendidikan sekarang ini berpengaruh pada metode dan strategi pembelajaran. Sebagian besar peserta didik sekarang ini telah belajar melalui internet ataupun media elektronik lainnya, yang merupakan alat bantu mempercepat proses untuk memperoleh informasi ataupun ilmu pengetahuan.

Hal ini, akan berpengaruh pada fungsi pendidik, yaitu sebagai fasilitator, mediator,dan motivator dalam proses pembelajaran. Jadi guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar, tetapi merupakan salah satu sumber dari sekian sumber belajar di dalam proses pembelajaran.

Kenapa demikian, karena saat sekarang ini peserta didik, mungkin saja akan lebih banyak belajar dari media eloktronik dan media lain daripada guru. Dengan demikian, tugas utama pendidik lebih terfokus pada mengajar peserta didik untuk mengakses sendiri informasi dan pengetahuan yang diperlukan dari berbagai sumber belajar.
Sejalan dengan apa yang dikatakan Rusjdy Sjakyakirti Arifin, Kepala Bidang Teknologi Informasi Depdiknas RI pada Acara Festival dan Anugerah Pendidikan yang diadakan Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) Depdiknas di Asrama Haji Pangkalan Mansyur beberapa waktu lalu menyebutkan kemajuan teknologi informasi mengharuskan terjadinya perubahan paradigma proses pembelajaran yang harus dilaksanakan seluruh siswa.

Misalnya pergeseran dari guru yang tadinya selalu dianggap sebagai pusat pembelajaran berubah menjadi siswa sebagai pembelajaran itu sendiri. Kemudian perubahan dari stimulan tunggal oleh guru menjadi stimulan pada seluruh aspek yang dipelajari tersebut. Dengan demikian anak didik dituntut memiliki penguasaan yang baik terhadap TIK, sehingga siswa dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang bergerak sangat cepat.

Kondisi proses pembelajaran seperti ini lebih cenderung menggunakan konsep yang disebut dengan istilah ’learning based’ atau ’student learning’ daripada’ teaching-based’ yang akan menjadi kunci pengembangan peserta didik. Metode dan strategi pembelajaran lebih diorientasikan pada cara mengaktifkan peseta didik, yaitu cara untuk menemukan dan memecahkan masalah. Metode pembelajaran semacam ini akan menjadi kunci pengembangan peserta didik yang lebih berkualitas.

Maka untuk mengaktifkan peserta didik secara optimal, proses pembelajaran harus didasarkan pada prinsip belajar siswa aktif atau mengembangkan kemampuan belajar yang lebih menekankan pada proses pembelajaran dan bukan pada mengajar.

Oleh karena itu, metode pembelajaran lebih didasarkan pada kompetensi pembelajaran atau disebut dengan istilah learning competency, yaitu peserta didik akan memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan, sikap, wawasan dan penerapannya sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Namun kenyataannya di lapangan, yang sering menjadi dilema adalah bagaimana tujuan pembelajaran itu bisa tercapai atau proses pembelajaran itu dapat terlaksana dengan baik apabila pengajar dalam hal ini guru, tidak menguasai TIK atau paling tidak memahami cara penggunaan perangkat-perangkat pendukung pembelajaran yang dibutuhkan?
Untuk itulah para pendidik saat ini harus melakukan perubahan dalam pembelajaran dengan mengembangkan diri, yaitu dengan mengikuti perkembangan jaman dalam dunia pendidikan. Tidak heran jika ada guru yang secara pribadi ataupun melalui institusinya berusaha meningkatkan kompetensinya masing-masing, baik itu dengan mengikuti kursus, workshop ataupun seminar-seminar yang ada kaitannya dengan peningkatan potensi diri. Sehingga guru itu memiliki kompetensi standar yang diinginkan dalam proses pendidikan yaitu: penguasaan nilai-nilai (value), penguasaan pengetahuan (knowledge), penguasaan keterampilan(skill) dan kemahiran berkarya serta memiliki attitude dan ability tertentu.

Di sisi lain sebagian guru itu ingin mengembangkan potensi dirinya sebagai seorang guru yang memiliki kompetensi standar sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman sekarang ini, namun kesempatan tidak selalu sama dengan yang lainnya.

Misalnya untuk membeli perangkat komputer yang cukup mahal, biaya kursus yang lumayan tinggi, harus berpikir-pikir dulu karena gaji yang diperolehpun sulit mengaturnya untuk kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi dengan harga-harga untuk kebutuhan sehari-hari semakin membubung tinggi.

Selain itu juga fasilitas dan subsidi yang diperoleh masing-masing sekolah dari pemerintah tidak merata. Memang hal ini dapat dimaklumi, walaupun pemerintah menganggarkan dana dalam APBN sebesar 20 persen untuk operasional pendidikan tetapi begitu banyak sekolah dan elemen pendidikan yang harus disubsidi dan dibenahi.
Seperti halnya yang dikatakan staf ahli Pustekkom, Michael S Sunggiardi, bahwa dari kisaran 3,6 juta guru di Indonesia hanya 6000 orang guru yang telah mengakses film tentang pendidikan melalui TV.

Kendalanya karena belum terpasangnya jaringan film tersebut di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia yang mencapai hampir 240.000 sekolah. Pada saat ini hanya di Jakarta yang sudah terpasang. Pada hal Metode pembelajaran sistem jaringan ini sangat mendesak, seiring perkembangan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bergerak sangat pesat. Untuk itu, katanya sesuai rencana strategis pendidikan nasional Depdiknas RI ditargetkan sampai tahun 2014 nanti sekitar 100 ribu sekolah sudah akan dapat mengakses jaringan video pendidikan ini. Dengan film pendididkan ini siswa dapat mengetahui lebih jauh tentang ilmu pengetahuan yang terus berkembang, selanjutnya mempraktekkannya.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa adanya guru yang masih mempertahankan sistem pengajaran dengan metode-metode lama yang merasa dan memposisikan dirinya sebagai sentral dan satu-satunya sumber belajar dalam proses pembelajaran. Dan selama proses pembelajaran monoton menggunakan metode ceramah, dimana guru berbicara kurang lebih 100-200 kata permenit. Sehingga muncullah pertanyaan, berapa banyak kata yang dapat didengar dan dipahami peserta didik dengan metode seperti itu?

Nah, jawabannya sudah pasti tergantung pada bagaimana kemampuan mereka mendengarkan. Jika peserta didik yang betul-betul konsentrasi, barangkali mereka akan mampu mendengarkan antara 50-100 kata per-menit, atau setengah dari yang dikatakan pengajar. Kemampuan mendengar dan menyerap apa yang dikatakan, sangat tergantung pada konsentrasi dan tingkat intelijensia si anak didik.

Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang paling efektif saat ini adalah dengan model pembelajaran aktif. Jadi tidak lagi terus-menerus mempertahankan pola-pola klasik, tetapi para pendidik harus mengadakan perubahan, yaitu dengan mengikuti perkembangan TIK dalam proses pembelajaran agar menjadi seorang pendidik yang standar dan profesional sesuai dengan harapan pemerintah yang tertuang dalam UU sistim pendidikan Nasional Tahun 2003 Bab 19 Pasal 35 ayat 1 tentang standar nasional Pendidikan yang di dalamnya termasuk standar tenaga kependidikan dan Peraturan Menteri Pendikan Nasional RI No. 18 tahun 2007 tentang sertifikasi guru dalam jabatan. (*)
Sumber : Sumut POs

Comments

Komentar Anda

%d blogger menyukai ini: