Rabu, 18 Mar 2026
light_mode

Papua Kelaparan Ditengah Gemilang Kekayaan Para Kapital

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 10 Agt 2023
  • print Cetak

Oleh: Yuni Yartina
Aktivis Muslimah

Papua, ujung negeri yang saat ini tengah berkonflik dengan adanya KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) masih harus menambah penderitaan. Enam orang dikabarkan meninggal akibat kelaparan. Khususnya menimpa wilayah Distrik Lambewi dan Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak, Papua Tengah.

Dampak dari adanya badai El-Nino mempengaruhi produktivitas panen. Masyarakat di daerah yang terdampak akhirnya kelaparan karena gagalnya panen yang merupakan makanan pokok mereka. Bantuan pun sedikit terhambat karena mempertimbangkan penyusupan oleh KKB, sehingga penyaluran bantuan dilakukan dengan sangat hati-hati. Akses pedalaman Papua harus menggunakan pesawat terbang sehingga perlu mobilisasi masyarakat untuk mengambil bantuan dengan jalan kaki ke titik yang ditentukan. Pemerintah Kabupaten mencoba menurunkan bantuan kekeringan ini untuk mencegah terulangnya musibah kelaparan hingga meninggal dunia. (Kompas.com, 30 Juli 2023).

Sungguh ironi kondisi ini harus terjadi, ditengah berlimpahnya sumber daya alam dalam negeri. Terlebih Papua yang begitu kaya akan hasil alamnya. Tentu, sudah terkenal pula di sana terdapat PT. Freeport yang pada tahun 2018 Bapak Presiden Jokowi Dodo meminta agar tidak ada lagi yang beranggapan bahwa Freeport milik Amerika Serikat, karena Indonesia telah memiliki mayoritas sahamnya sebesar 51,23%. Lantas, inilah yang masih terjadi di Papua, bencana kelaparan.

Negeri kita telah merdeka hampir 78 tahun, namun masih terjadi ketimpangan ekonomi dan pembangunan. Yang lebih mengherankan, Papua merupakan wilayah yang kaya. Inilah akibat jika urusan ekonomi dan politik dipengaruhi kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Penerapan sistem ekonomi yang bersandar pada prinsip kapitalistik membuat kekayaan tidak terdistribusi merata, sehingga seringkali kita melihat ada orang yang memiliki harta kekayaan berlimpah ruah dan satu sisi lain ada orang yang sangat kekurangan hingga mati kelaparan. Pengaruh ekonomi kapitalis menjadikan kepemilikan yang harusnya menjadi milik umum, bisa bebas dikuasai oleh individu dan korporat. Ini berujung pada rakyat kecil yang semakin tercekik, sementara pemilik modal besar semakin berjaya dengan bisnisnya.

Jika kita mempelajari Islam secara dalam, akan kita dapati bahwa Islam sebenarnya memiliki aturan terkait ekonomi dan politik. Tidak seperti yang dipahami sekarang dengan prinsip sekuler, Islam hanya sekedar dijadikan sebagai agama yang merupakan ritual ibadah saja.

Islam memiliki mekanisme untuk menjadikan rakyat sejahtera. Jangankan kelaparan, jika rakyat sejahtera, untuk mencari rakyat yang berhak menerima zakat saja akan kesulitan. Percaya atau tidak, ini pernah terjadi di masa pemerintahan Islam yang pernah berlangsung selama 14 abad lamanya. Lantas bagaimana mekanismenya ?
Pertama, Islam melarang kekayaan yang merupakan milik umum, dikuasai oleh individu/korporasi apalagi asing. Hal ini membuat hasil kekayaan umum akan optimal dirasakan oleh semua rakyat, tidak hanya segelintir orang. Berdasarkan hadist Nabi shalallahu alaihi wassalam: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Kedua, Islam akan meratakan distribusi ekonomi dan pembangunan dengan landasan bahwa semua rakyat memiliki hak untuk dilayani. Sehingga, anggaran yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pembangunan di setiap wilayah, tanpa memandang besar atau kecil pendapatan wilayah tersebut.

Ketiga, Khalifah (sebutan pemimpin dalam sistem khilafah, pemerintahan Islam) memiliki kesadaran penuh bahwa setiap rakyat harus mendapatkan pelayanan yang sama dari segi kebutuhan pangan, akses transportasi, pendidikan, kesehatan dan kemajuan teknologi. Sehingga ketakutannya kepada Allah sangat besar ketika ada yang merasa dilalaikan dari kewajibannya.
Pernah dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab selalu berkeliling sehabis shalat Subuh menelusuri gang-gang kecil. Hingga beliau mendengar sebuah percakapan di balik satu rumah. Di dalamnya ada seorang anak yang meminta makan kepada ibunya. Khalifah mendengar sang ibu memasak sesuatu, namun hingga waktu lama saat beliau kembali melewati rumah tersebut, tak kunjung masak juga dan masih terdengar suara anak merengek. Hingga Khalifah Umar mengetuk pintu rumah tersebut dan bertanya apa yang dimasak oleh sang ibu dan mengapa tak kunjung masak. Ternyata sang ibu sengaja memasak batu karena tidak ada makanan untuk diolah sembari menunggu sang anak ngantuk dan tertidur (hingga lupa akan laparnya). Khalifah Umar sangat merasa berdosa, dan langsung bergegas membawakan bahan makanan yang beliau angkat sendiri. Ajudan beliau ingin membantu namun beliau dengan emosional mengatakan bahwa “ini adalah kewajibanku! Aku telah lalai membiarkan ada umat yang kelaparan”. Sungguh gambaran pemimpin yang bijaksana hanya bisa dilahirkan oleh sistem kepemimpinan yang benar, bersumber dari aturan Sang Pencipta. Wallahu’alam bish shawwab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gaji Presiden Mengacu Negara Lain

    Gaji Presiden Mengacu Negara Lain

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA-Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sepertinya tidak ingin rencana kenaikan gaji presiden menjadi perdebatan. Sekjen Kemenkeu Mulia Panusunan Nasution menyatakan, penyesuaian gaji presiden maupun delapan ribu pejabat lainnya tetap akan menggunakan sejumlah acuan. Selain beban kerja dan bobot tanggung jawab, kenaikan gaji juga mengacu pada gaji jabatan serupa di negara lain. Penghasilan itu juga mempertimbangkan bidang tugas […]

  • Sidang Sengketa Pilkada Madina Batal Demi Hukum

    Sidang Sengketa Pilkada Madina Batal Demi Hukum

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sidang penyelesaian sengketa Pilkada Madina yang dilaksanakan Panwaslih Madina di aula kampus STAIIM, Panyabungan, Kamis (20/8) dinilai KPU Madina sudah kadaluarsa dari sisi batas waktu sebagaimana yang ditetapkan Peraturan Bawaslu Nomor 8 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Pemilihan Gubernur Dan Wakil Gubernur, Bupati Dan Wakil Bupati Serta Walikota Dan […]

  • Desa Huta Baringin TB Salurkan BLT Tahap I 2021

    Desa Huta Baringin TB Salurkan BLT Tahap I 2021

    • calendar_month Jumat, 23 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandaiiling Online) – Desa Huta Baringin TB, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandaiiling Natal menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa Tahun 2021. Pantauan di lapangan, penyaluran BLT di aula gedung serbaguna Desa Huta Baringin TB, Jum’at (23/4/2021) dengan mematuhi protokol kesehatan Covid19. Kepala Desa Huta Baringin TB, Rahmad Syah Lubis di sela-sela penyaluran mengatakan […]

  • Jangan ‘mainkan’ dana BOS

    Jangan ‘mainkan’ dana BOS

    • calendar_month Jumat, 5 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN, (MO) – Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Syaiful Syafri mengharapkan agar para kepala sekolah (kepsek) dapat mempergunakan dana BOS sesuai dengan ketentuan yang berlaku, siswa dan sekolah dapat merasakan manfaatnya dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. “Total dana BOS yang disalurkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp1.577.280.830.- Namun, dananya dibagi dalam empat […]

  • Pelestarian Warisan Budaya Mandailing (1)

    Pelestarian Warisan Budaya Mandailing (1)

    • calendar_month Jumat, 10 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Z. Pangaduan Lubis (in memoriam) Suku Mandailing atau kelompok etnis (ethnic group) Mandailing merupakan salah satu dari sekian ratus suku bangsa penduduk asli Indonesia. Dari zaman dahulu sampai sekarang suku tersebut secara turun-temurun bermukim di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Menurut tradisinya, orang Mandailing menamakan wilayah etnisnya itu Tano Rura Mandailing […]

  • Ribuan Siswa SMA di Sumut Tak Lulus UN

    • calendar_month Jumat, 24 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan – Sebanyak 4.564 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Sumatera Utara dinyatakan tidak lulus ujian nasional (UN) tahun 2013. Sekretaris Dinas Pendidikan Sumut Hendri Siregar merinci dari 4.564 peserta UN yang tidak lulus tersebut, 1.616 orang (1,96%) merupakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan dan 2.948 orang (2,51%) adalah siswa SMA dan Madrasah Aliyah. Peserta […]

expand_less