Minggu, 15 Mar 2026
light_mode

Perantau dan Hakikat Pulang Kampung

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 13 Jun 2018
  • print Cetak

(Tinjauan Singkat Sosio-Antropologi)

Oleh : Dr. M.Daud Batubara, MSi

M. Daud Batubara, Dr.MSi

Idulfitri, sering disebut dengan Lebaran, merupakan momentum bagi Umat Islam pulang ke kampung. Momentum ini lebih dikenal secara spesifik dengan sebutan mudik. Seminggu sebelum lebaran, para perantau biasanya mulai meninggalkan kota menuju kampung halaman. Tradisi pulang kampung
lebaran (mudik) untuk berkumpul bersama keluarga dan mengucapkan selamat idul fitri, ternyata tidak tergantikan dengan kecangggihan alat komunikasi yang sedemikian modern.

Lebih-lebih hal ini didorong keyakinan bahwa makna Fitri sebagai hari kemenangan karena pembebasan
dari dosa yang diperbuat, seperti ditegaskan Rasululullah Muhamad SAW “ Barang siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan dan mengerjakan amal ibadah karena iman dan mencari Ridha Allah, maka Allah SWT akan membebaskan dari segala dosa-dosanya, sehingga kembali suci, bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan” (HR.Ahmad).

Aspek lain yang mendorong minat pulang kampung, juga lebih dari sekedar bersilturrahmi, bertatap muka dan bercakap-cakap yang dapat dilakukan melalui Video Call. Phonsel seakan kurang bermakna karena jauh dari kenikmatan memuaskan nilai dahaga tradisi budaya mudik. Perantau masih membutuhkan komunikasi yang bersifat personal dan emosional.  Maka tak heran bila persiapan mudik nyaris diperjuangkan tanpa reserve sekalipun. Tidak ada nada lelah atau urung niat, dalam perjalanan yang melelahkan dan penuh resiko. Ini bukti bahwa mudik bagi perantau tidak sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman, tetapi mengandung makna yang jauh lebih mendalam yang berbeda dengan momen pulang kampung di hari biasa. Fenomena sosial ini, nyaris berlaku disemua lapisan tanpa mengenal kelas.

Motivasi mudik yang penuh resiko mengintai keselamatan jiwa, tetap saja dipentaskan. Dari pandangan sosio-antropogi, terdapat beberapa motiv yang kuat melatarbelakanginya. Pertama, Rasa hormat dan
kerinduan terhadap orang tua, sebagai motiv utama; Kedua, Berziarah dan berdoa untuk keluarga; Ketiga, Re-fresh lokasi dan kejadian, dengan mengenang masa kecil yang tiada tara, dengan teman yang sangat saling faham karakter dan prilakunya di ruang, waktu dan tempat yang sama, pada kondisi yang telah berbeda.

Pantaslah, meskipun tantangan global telah merasuk denyut nadi kehidupan masyarakat tradisional, namun ekses budaya mudik tak bisa dielakan, karena tanpa disadari aktivitas mudik, telah menjadi arena
proses enkulturasi dan revitalisasi identitas diri para perantau. Sisi keindahan lain bahwa, fenomena budaya mudik memberi isyarat bahwa masyarakat Indonesia belum mau meninggalkan kebaikan hubungan secara impersonal, meskipun disebut tradisional.

Kehangatan hubungan kekerabatan tersebut tetap menjadi cermin kemantapan tata hidup dan tata laku masyarakat Indonesia. Memang nilai budaya mudik ini telah merasuk kuat di denyut nadi kehidupan masyarakat nusantara, sehingga memaksa orang untuk taat dan mematuhi nilai-nilai itu dengan setia. Perantau rela antri, berdesakan dan macet panjang dalam pentas tradisi pulang kampung saat lebaran.

Kalau boleh disebut fenomena mudik lebaran di Indonesia memang unik dan jarang ditemukan di negara lain. Tentulah ada pula motif yang kurang tepat namun sah-sah saja, seperti keinginan perantau menunjukkan diri dengan keberadaannya saat ini, dibanding dengan masa lalunya. Meskipun sebagian orang menyebut pamer, namun marilah berpikir positif, agar yang dipamerkan berguna sebagai alat motivasi bagi yang lain untuk lebih giat. Tentulah mereka yang pamer ini biasanya perantau yang kurang mapan, dengan ciri berupaya menonjolkan keberadaannya dengan berbagai asesoris kehidupan. Sedang perantau yang mapan akan terlihat lebih mencirikan penataan tampilan berdasarkan pengetahuan, pengalaman maupun kehidupannya.

Masyarakat dan keluarga di kampung bila dapat menangkap karakter perantau sebenarnya membawa implikasi sosio-antropologi yang lebih jauh dari fenomena mudik itu sendiri, bahkan dapat terjadi enkulturasi (perubahan budaya baru) dengan peran perantau sebagai Agen of Change.

Masyarakat (kaum) yang ingin berubah dan Perantau yang dapat berperan sebagai Agen Perubahan dapat mewarnai sikap dan perilaku masyarakat untuk lebih baik. Perubahan lebih mudah pula terjadi karena perantau sangat mengenali budaya tradisional di kampungnya, sehingga lebih mudah beradaftasi dalam penyampaian pesan terhadap kaummnya.

Enkulturasi (perubahan budaya baru) yang dimaksudkan adalah perubahan pola berpikir kaum di kampung yang bercermin dari sifat-sifat perantau meliputi:

Pertama, Kemandirian, hidup jauh dari keluarga, menjadi diri sendiri. Belanja, kesehatan, kesulitan dan lainnya dihadapi dan diurus sendiri, jauh dari orangtua dan sanak saudara.

Kedua, Motivasa yang tinggi, dari bentukan komunitas atas solidaritas kebersamaan perantau sehingga lebih serius dan lebih peka menjalani aktivitas, sehingga muncul rasa tanggung jawab untuk modal sukses.

Ketiga, Hilang gengsi terhadap jenis pekerjaan dan pendapatan, karena malu menjadi pembicaraan tetangga atau keluarga bila bekerja dari level bawah, maka bersiaplah untuk tidak makan. Kondisi seperti ini menciptakan kemauan yang lebih besar. Keempat; Malu pulang tidak berhasil, sehingga
pekerjaan apa pun akan dilakukan selama itu baik dan tidak melanggar hukum, menjadi motivasi besar kesuksesan perantau.

Sikap perantu yang mandiri, giat, motivasi tinggi, hemat (berorientasi menabung), nyaris tanpa gengsi, solidaritas tinggi dan kemauan tinggi merupakan sesuatu yang harus menjadi anutan kaum di kampung sebagai karakter baru yang harus dibangun. Disadari bahwa Perantau lahir dari ibu di kampung, hidup dan dibesarkan ala-kampung, yang tidak ada beda dengan kaum yang tinggal di kampung. Tapi dalam kenyataannya Perantau mampu merubah diri sehingga memiliki karakter yang berorientasi masa
depan. Kaum dikampung juga bila memaknai kehidupan perantau akan dapat lebih berhasil. Kaum di kampung memiliki segalanya untuk diolah termasuk peralatan maupun lahan. Sementara perantau  berangkat hanya dengan membawa semangat dan keberanian menuju perantauan yang tidak
memiliki alat dan lahan.

Bila direnungkan mendalam, kaum di kampung tidak layak lagi untuk selalu menadahkan tangan dalam pembangunan masjid, surau, madrasah, irigasi, jalan setapak dan berbagai pembangunan yang ada dikampung. Apalagi untuk keperluan rumah tangga sanak saudara. Kaum di kampung pasti bisa menyekolahkan anak sampai sarjana, membangun rumah sendiri, menyumbang pembangunan seperti para perantau. Hanya saja kaum harus mampu disiplin menggunakan waktu mulai pukul 04.00 Wib untuk mulai berusaha dan berakhir pukul 23.00 Wib seperti kemauan dan semangat perantau ketika mereka melakukan usaha (Warung).

Perantau menggunakan waktu berusaha Warung selama 19 jam dalam 24 jam (sehari semalam), maka pantas mereka hidup layak. Mereka berhemat dari ngopi sebanyak 3x sehari. Dari sisi ini saja dapat dibayangkan betapa kaum dikampung telah mengabaikan begitu banyak waktu untuk berusaha
dan mengabaikan cara berhemat untuk menabung dalam mengarungi kehidupan. Lantas kaum kita dikampung masih berani mendahkan tangan untuk berbagai keperluan kepada perantau yang selalu kerja keras. Kita harus sadar bahwa ternyata kita belum menjadi pekerja keras. Perlu dicatat bahwa sebagain perantau juga tidak berhasil karena tidak terjadinya perubahan karakter, dimana mereka hidup dirantau dengan pola yang sama dengan di kampung.

Oleh karena itu, kepada perantau beri ceritakanlah yang benar-benar berguna bagi kaum kerabat di kampung. Beri tahu kepahitan yang dialami menuju sukses, tentang waktu yang digunakan dalam berusaha tiap hari, pentingnya kecerdasan, semangat, pentingnya membuang jauh rasa gengsi,
perlunya berhemat dan menabung sehingga dapat merubah karakter kaum kerabat.  Masih sangat sedikit yang menjadi pekerja keras. Kepada kaum kerabat mari ditiru cara mencari nafkah perantau. Kaum juga akan bisa berhasil bila memanfaatkan waktu dengan cara yang sama dengan perantau. Mari malu menadahkan tangan membangun desa pada perantau. Mari kita balik paradigmanya, bahwa kita bisa. Mari berubah untuk hidup yang lebih baik.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota DPRD Madina Dapil I

    Anggota DPRD Madina Dapil I

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Nama Lengkap                         : DODI MARTUA, S.Pi Tempat/tanggal lahir/Umur     : Panyabungan, 05 Juli 1977/ 36 Thn Agama                                      : Islam Status Perkawinan                  : Kawin Nama istri/suami                   : Ardina Haryati Jumlah anak                           : […]

  • Pesantren Darul Mursyid Tidak Naikkan SPP

    Pesantren Darul Mursyid Tidak Naikkan SPP

    • calendar_month Kamis, 20 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPSEL (Mandailing Online) – Pihak manajemen Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) mengaskan bahwa tidak menaikkan biaya SPP untuk tahun ajaran baru tahun. Kebijakan itu diputuskan pada rapat pimpinan PDM di Berastagi yang berlangsung di Berastagi Cotage tanggal 13 hingga 16 Juni 2013. Kebijakan tidak menaikkan biaya SPP itu berdasar beberapa factor. Pertama, pertimbangan […]

  • Buntut Kades Laporkan Warganya, Pemuda Desa Sirambas Surati Bupati Madina 

    Buntut Kades Laporkan Warganya, Pemuda Desa Sirambas Surati Bupati Madina 

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Buntut tindakan Kepala Desa Sirambas Ilman Suhdi yang melaporkan warganya ke Polisi dengan tuduhan pengrusakan kantor desa. Persatuan Naposo Nauli Bulung (PNNB) melakukan perlawanan dengan melaporkan Ilman Suhdi Ke Bupati Madina, Inspektorat dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD). Selain membuat laporan ke Pemerintah Daerah, PNNB dan masyarakat sirambas berencana akan […]

  • ISIS Ancam Serang Piala Dunia 2022 di Qatar

    ISIS Ancam Serang Piala Dunia 2022 di Qatar

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    BAGHDAD, KOMPAS.com — Piala Dunia 2014 belum usai. Namun, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sudah menebar ancaman untuk Piala Dunia 2022 yang akan digelar di Qatar. ISIS memperingatkan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) jika turnamen empat tahunan itu tetap digelar di Qatar, ISIS akan beraksi dengan menembakkan rudal jarak jauh Scud ke Qatar. Ancaman […]

  • Total Kerugian akibat Gempa Tapanuli Utara Belum Jelas

    Total Kerugian akibat Gempa Tapanuli Utara Belum Jelas

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TARUTUNG: Sampai dengan saat ini Senin 1 Augustus 2011,total atau jumlah keseluruhan kerugian akibat gempa yang mengguncang Tapanuli Utara tanggal 14 juni 2011 lalu, belum dapat dipastikan. Karena data yang diperoleh belum jelas, dan masih menunggu dari tim survey yang telah dihunjuk. Pernyataan ini diutarakan oleh Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tapanuli Utara,Tumbur Hutabarat […]

  • KPK Menunggu, Poldasu dan Kejatisu Mempersilakan

    KPK Menunggu, Poldasu dan Kejatisu Mempersilakan

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ambil Alih Kasus Korupsi Besar yang Mandeg JAKARTA-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memberikan sinyal kesiapannya untuk mengambil alih perkara-perkara dugaan korupsi yang mandeg di kejaksaan dan kepolisian di Sumatera Utara. Juru Bicara KPK Johan Budi menjelaskan, pengambilalihan akan dilakukan jika prosedurnya terpenuhi. Dijelaskan Johan, kasus dugaan korupsi yang bisa diambil alih KPK adalah kasus yang […]

expand_less