Home / Artikel / Poken Bante

Poken Bante

Catatan : Dahlan Batubara

Poken bante itu bahasa Mandailing. Jika di Indonesiakan berarti pasar daging. Poken (pasar), bante (daging).

Belum diperoleh penjelasan mengapa bukan juhut (daging), mangapa harus bante.

Sebab, orang Mandailing lebih sering menyebut juhut ketimbang bante dalam membahasakan daging.

Misalnya : juhut ni orbo, juhut ni lombu, juhut ni ambeng, juhut ni manuk, juhut nu itik, juhut ni ursa, dll.

Tidak ada sebutan bante ni irbo, bante ni lombu, dll.

Lantas, apa sebenarnya arti “bante” ini ? Apakah daging saja atau ada yang lainnya? Pembaca yang tahu mohon beritahukan di kolom komentar.

Kembali ke poken bante. Poken bante adalah tradisi setiap hari terakhir Ramadan di Mandailing.

Hari itu masyarakat berbondong bondong ke pasar membeli daging kerbau atau lembu. Untuk digulai sebagai lauk hari raya idul fitri. Gulai daging ini disebut gule bante.

Gule bante ini seperti “kewajiban” utuh dan telah menjadi bagian penting dalam tradisi idul fitri.

Tidak ada greget hari raya jika tak ada gule bante di rumah.

Daging yang dibeli mayoritas daging kerbau atau lembu.

Ada juga daging ayam atau itik, tapi tak seberapa jumlah pembelinya. Hanya bagi yang tak bisa makan daging kerbau atu lembu saja dengan alasan alasan tertentu.

Tetapi ada juga tak membeli apa apa karena tak punya uang beli daging kerbau dan kebetulan punya peliharaan ayam atau itik.

“Manuk i ma soni ita koyok” (ayam itu saja kita sembelih).

Kewajiban margule bante (bergulai daging) itu mengalahkan keharusan mangalomang (memasak lemang) dan mangalame (memasak dodol).

Hari raya tidak akan memiliki “kaldu” jika aroma gule bante tidak menebar dari dapur rumah penduduk.

Sebaliknya, hari raya tetap memiliki “rasa” walau tak ada lomang (lemang) atau alame (dodol) dengan catatan ada gule bante.

Itu artinya, jika dihadapkan pada pilihan, orang Mandailing akan memilih margule bante ketimbang mangalomang.

Oleh karenanya, tiap kepala keluarga merasa wajib menyediakan gule bante di rumah. Soal jenis daging, itu hal kedua.

Makanya, ada beberapa istilah di dalam bahasa Mandailing dalam mengklasifikasi bagian bagian tubuh kerbau atau lembu.

Ada juhut (daging), ada tabo tabo (lemak dan bagian bagian dalam perut kerbau), ada ulingkuling (kulit kerbau atau kikil), ada tulang sup (tulang sup ini tak perlu diterjemahkan karena juga bahasa Melayu/Indonesia).

Keluarga yang menghadapi keterbatasan uang (malarat) biasanya akan membeli tabo tabo saja. Harganya sangat jauh lebih murah dibanding juhut.

Tabo tabo pun jadilah ketimbang tidak margule bante.***

Dahlan Batubara adalah Pimred Mandailing Online

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: