Budaya

Prof.Uli Kozok Janjikan Kerja sama dengan Tympanum


Panyabungan (MO)-
Tympanum Novem dalam waktu dekat akan menjalin kerja sama dengan Prof. Uli Kozok, ahli tata bahasa dan budaya Tapanuli berkebangsaan Jerman. Berawal dari software “Latin to Mandailing” yang dikembangkan Tympanum Novem dan di publikasikan melalui situs 4shared.com beberapa waktu yang lalu. Software dimaksud diyakini menarik perhatian peneliti senior Etnologi Asia Pasifik di Universitas Hawaii itu. Prof. Uli Kozok mengatakan bahwa software itu bagus dari segi sistem alogaritme komputernya. “Sayangnya, font yang digunakan dalam aplikasi itu belum standar, karena belum mengacu pada unicode aksara Mandailing yang benar,” kata Uli Kozok. Lebih lanjut penulis buku “Aksara Batak” itu menjelaskan bahwa konstruksi font yang digunakan dan diyakini di Mandailing selama ini, sebenarnya bersumber dari konstruksi yang dikembangkan misionaris Jerman di masa kolonialisme. “Konstruksi aksara tersebut tidak benar,” katanya.

Askolani mewakili Tympanum Novem kepada Mandailingonline mengakui bahwa sistem aksara yang digunakan sebagai dasar acuan mereka memang hanya bersumber dari buku-buku pembelajaran huruf Tulak-Tulak yang digunakan di sekolah-sekolah di masa Mandailing masih bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan. “Kita belum memiliki acuan yang lebih valid, karena selama ini belum ada referensi yang sahih tentang aksara Mandailing,” katanya.

Prof. Uli Kozok mengatakan bahwa saat ini timnya di Universitas Hawaii sedang menyusun unicode berbagai rumpun bahasa Tapanuli, termasuk unicode Mandailing. Beliau menjanjikan akan segera memberikan format unicode dimaksud kepada Tympanum Novem untuk dibuatkan sistem alogaritmenya. “Sistem alogaritme yang dikembangkan idealnya berbasis Linux, jangan berbasis Windows, karena OS Linux merupakan aplikasi OpenSource yang lebih banyak dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi internasional. Uli Kozok juga menyampaikan kesalutannya, karena Tympanum memiliki keahlian mengembangkan alogaritme yang begitu rumit.

“Kita sebenarnya belum terlalu menguasai aplikasi berbasis Linux, terutama aplikasi pengembang multimedia dan database. Apalagi selama ini kita lebih userfull dengan OS berbasis Windows. Tapi insya allah, kita bisa segera menyesuaikan diri dengan gaya OpenSource Linux, karena OS dimaksud pernah juga kita gunakan,” kata Askolani.

Hal senada juga disampaikan Ahmad “Aes” Sukri. “Insyaallah kita bisa memenuhi keinginan Uli Kozok. Dengan begitu nanti, Mandailing nanti bisa lebih dikenali di dunia internasional,” kata penanggung jawab Desain & Software di Tympanum Novem itu . “Kita berharap Tympanum Novem ke depan dapat menjadi mitra Universitas Hawaii di Mandailing dalam mengembangkan berbagai penelitian dan pengembangan aplikasi berbasis lokal. Tentu saja melalui Prof Uli Kozok yang selama beberapa dekade amat getol meneliti dimensi-dimensi adat dan budaya rumpun Tapanuli. Dengan begitu, Mandailing dapat segera dikenali di lingkungan akademisi internasional, bukan hanya sebatas Gordang Sambilan saja.(holik)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.