Sabtu, 14 Mar 2026
light_mode

Siboru Deak Parujar dan Tanah Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 14 Jan 2019
  • print Cetak

Bindu

Oleh: Edi Nasution (in memorial)

*Dikutip dari artikel “Mandala Holing”

 

Meskipun kelompok etnik (suku-bangsa) Mandailing memiliki aksara tradisional yang disebut Surat Tulak-tulak, dan biasa digunakan untuk menuliskan kitab-kitab kuno yang dinamakan Pustaha, namun Pustaha itu umumnya bukan berisi tentang ‘cacatan sejarah’ orang Mandailing, melainkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang dipandang baik dan buruk, serta ramalan tentang mimpi (Z. Pangaduan Lubis, 1986: 43-44).

Salah satu sumber sejarah kuno yang menyebut-nyebut nama ‘Mandahiling (Mandailing) adalah kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada zaman Majapahit yaitu Negarakertagama.

Selain itu nama Mandailing (‘tano padang bakkil bandailing’) disebut-sebut juga di dalam sastra klasik Toba-tua, yaitu Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar (Batara Sangti, 1977: 278). Tonggo-tonggo tersebut berbunyi sebagai berikut:

Baen ma gondang ni Ompunta, Tuan Humara-Hiri, Si Humara Naboru, par-aji tamba-tua, par-aji pulung-pulungan; sinonduk ni Ompunta Sibaso Nabolon, na marsigantung ditali siubar, na meat di mombang boru”.

“Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siogung-ogung; parsirangan ni tano, pardomuan ni aek; Sian i ma dalan laho tu ginjang, partiatan ni Ompunta: Debata Natolu Suhu, Naopat Harajaon tu banua tonga on”.

Disi ma parangin-anginan ni Ompunta ‘Siboru Deakparujar’, sideak uti-utian, sigodang ujar-ujaran:

  1. Na manjadihon : ‘Gana na so boi tolonon, bulan naso boi oseon’
  2. Sian I ma mula ni : ‘Dung-dang’
  3. Mula ni  : ‘Sahala’
  4. Mula ni : ‘harajaon’
  5. Mula ni : ‘Gantang tarajuan, Hatian pamonari’
  6. Mula ni : ‘Pungga si sada iht’
  7. Mula ni : ‘Ninggala Sibola tali’
  8. Sian i ma : ‘Boli nii boru muli dohot si namot ni anak’
  9. Mula ni  : ‘Goar ni bao na so boi dohonon’
  10. Nunga disihataon i : ‘Di ninggor ni ruma, dipagohan di pinggol nia- debata’.”

Kalau Tonggo-tonggon Si Boru Deak Parujar tersebut dialih bahasakan secara bebas dan terbatas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Tonggo-Tonggo Siboru Deakparujar

Palulah gendang dari Empu kita, Tuan Kumarakumari, Si Kumara perempuan, per-aji tambah tua, per-aji ramu-ramuan; suami dari Empu Kita Sibaso Nabolon, yang bergantung pada tali siubar, yang hinggap di mombang boru.

Dari tanah lembah, tanah kelabu sejati, dari tanah bakil Mandailing, tanah yang termasyhur, bagaikan suara yang merdu, perpisahan daripada tanah, pertemuan daripada air: ‘Dari situlah tangga jalan ke atas, perturunan daripada Empu Kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah ini.

Di situlah bertamasya Empu kita Siboru Deakparujar, yang banyak cerdik, yang banyak akal:

  1. Yang mengamanatkan : “Tidak boleh makan sumpah, tidak boleh mengingkari ikrar”
  2. Asal mula  : “Kepercayaan”
  3.   Asal mula : “Sahala”
  4. Asal mula : “Kerajaan”
  5.   Asal mula : “Gantang pengukuran, dacing kebenaran”
  6.   Asal mula :  “Batu-asahan satu seikat”
  7.   Asal mula :   “Bajak bagai pembelah tali”
  8. Di situlah asal mula: “Penerimaan beli atas perkahwinan anak perempuan dan pembayaran jujuran bagi perkahwinan anak lelaki”
  9.  Asal mula:  “Nama besan yang tak boleh disebut”
  10. Ini telah dinukilkan : “Pada kuda-kuda rumah asli, dipacakkan batu barani dan di kuping kuda dewata”.

Kita tidak mengetahui kapan Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar itu tercipta atau diciptakan. Yang kita ketahui ialah bahwa Siboru Deakparujar adalah tokoh mitologi dalam kebudayaan Toba. Menurut mitologi Toba, Siboru Deakparujar adalah puteri Debata Mulajadi Nabolon, yang dititahkannya turun dari ‘benua atas’ ke ‘benua tengah’ membawa sekepal tanah, untuk menempa bumi di atas lautan.

Namun dalam usahanya menempa bumi, Siboru Deakparujar mendapat gangguan dari Naga Padoha (Raja Padoha), tetapi akhirnya dia berhasil menyelesaikan tugasnya itu. Kemudian Debata Mulajadi Nabolon menitahkan Siraja Odap-odap turun ke bumi untuk menjadi suami Siboru Deakparujar.

Dari perkawinan Siboru Deakparujar dengan Siraja Odap-odap, lahirlah seorang putera yang bernama Siraja Ihatmanusia, dan seorang puteri yang bernama Siboru Ihatmanusia. Kedua bersaudara tersebut kawin dan kemudian mendapat tiga orang putera. Masing-masing Siraja Miok-miok, Patundal Nabegu dan Siraja Lapas-lapas. Dari keturunan Siraja Miok-miok kemudian hari lahirlah Siraja Batak, yang dipandang sebagai nenek moyang (leluhur) orang Batak.

Menurut Batara Sangti, tonggo-tonggo ialah doa yang disusun secara puitis dan diucapkan waktu sajian besar dan kecil (1977: 270). Dalam Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar jelas disebutkan bahwa “tanah bakil Mandailing tanah yang termasyhur, bagaikan suara gung yang merdu (suara gong yang merdu biasanya menarik perhatian dan dapat didengar sampai ke tempat yang jauh). Dari situlah (dari tanah Mandailing) jalan ke atas, ‘perturunan’ (tempat turun) dari Empu kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke ‘benua tengah’ (ke bumi -) ini”. Berdasarkan tonggo-tonggo (doa) tersebut, jelaslah bahwa sejak zaman dahulu kala (sejak adanya tokoh mitologi Siboru Deakparujar), orang Toba (Batak) telah mengakui kemasyhuran tanah Mandailing. Lebih penting dari itu, Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar dengan jelas menyebutkan pula bahwa tanah Mandailing merupakan tempat tangga jalan ke atas (kayangan), dan menjadi tempat turun Dewa (Debata Nan Tiga) ke ‘benua tengah’ (bumi) ini.

Selanjutnya tonggo-tonggo tersebut  menyatakan pula bahwa “di situlah” (di tanah Mandailing) bertamasya Siboru Deakparujar. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa kemungkinan sekali justru di tanah Mandailing itu pulalah Siboru Deakparujar turun dari kayangan. Sebab tonggo-tonggo-nya menyebutkan “dari situlah (dari tanah Mandailing) tangga jalan ke atas (kayangan)”.

Oleh karena itu, tidak tertutup pula kemungkinan bahwa di tanah Mandailing pulalah Siboru Deakparujar kawin dengan Siraja Odap-adap. Selanjutnya keturunan mereka lahir dan berkembang di tempat tersebut. Kemudian dapat dikemukakan hipotesis, bahwa setelah keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap berkembang di tanah Mandailing, generasi selanjutnya dari keturunan mereka, seperti misalnya Siraja Batak (keturunan generasi ke empat dari Siraja Miok-miok, atau generasi ke enam dari keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap) pindah ke tempat lain meninggalkan tanah Mandailing dan pergi ke tanah Toba.

Kemudian di tempat itu ia berkembang. Dengan kata lain, berdasarkan penafsiran terhadap Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar tersebut, nenek moyang Siraja Batak, mulai dari Si Boru Deak Parujar dan Si Raja Odap-adap sampai kepada Guru Tantan Debata, yaitu ayah dari Si Raja Batak sendiri, setelah besar kemudian meninggalkan tempat tersebut (Mandailing) dan pergi ke tempat lain yaitu tao Toba.

*(http://gondang.blogspot.com/2013/12/banua-mandailing.html)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PNS nakal mainkan perjalanan dinas

    PNS nakal mainkan perjalanan dinas

    • calendar_month Rabu, 3 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Badan Pemeriksa Keuangan menemukan adanya perjalanan dinas fiktif yang mrugikan Negara sebarsa Rp77 miliar. Kerugian tersebut hanya temuan semester I Tahun 2012. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo , temuan biaya perjalanan dinas fiktif bukan hal baru bagi. Biaya perjalanan dinas fiktif tersebut adalah pekerjaan PNS nakal yang perlu dihukum dan dipertanggungjawabkan. “Ada […]

  • PB IMSU Gelar Seminar Budaya Ulos dan AI

    PB IMSU Gelar Seminar Budaya Ulos dan AI

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Merajut Warisan, Menenun Peradaban di Era Kecerdasan Buatan   MEDAN (Mandailing Online) – Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (PB IMSU) menggelar Seminar Budaya Ulos & Artificial Intelligence (AI). Seminar itu bertema “Merajut Warisan, Menenun Peradaban di Era Kecerdasan Buatan.” Kegiatan ini dilaksanakan di Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Medan, Sabtu (7/3/2026). Dihadiri mahasiswa […]

  • Strategi Pembangunan Sosial Partisipatif Mewujudkan Madina Bersyukur dan Berbenah di Kabupaten Mandailing Natal

    Strategi Pembangunan Sosial Partisipatif Mewujudkan Madina Bersyukur dan Berbenah di Kabupaten Mandailing Natal

    • calendar_month Senin, 27 Feb 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ir. Ali Mutiara Rangkuti, MM Staf Ahli Bupati Madina Bidang Sosial Politik Pendahuluan Kabupaten Mandailing Natal yang disahkan berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998, dengan luas wilayah 6.620.70 Km2. Artinya hingga saat ini telah berusia 25 Tahun, sebuah usia dewasa dalam kehidupan manusia, sebuah usia yang menjadi fase peralihan dari remaja menjadi dewasa […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 30)

    MARSIDAO-DAO (episode 30)

    • calendar_month Sabtu, 25 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara   Luas sumbayang Isya, mangalao Si Siti tu tapian ompa ayanna ganan ni parabiton nangkan sap-sapon. Ngada adong alapangan nia be manyapsap arian, harana sogot ni ari nangkan kehe ma marsidao-dao santak tu kotu Magorib. Pala ipasapsapkon tu Si Pikek, ngada sada roa. Angke ngada pe malo manyap-sap ias, […]

  • PT.PSU Serobot Lahan di Batang Natal, DPRDSU Diminta Turun Tangan

    PT.PSU Serobot Lahan di Batang Natal, DPRDSU Diminta Turun Tangan

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Warga Desa Muara Parlampungan, Rantobi, Aek Manggis dan Adangkahan di Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina) meminta DPRD Sumatera Utara turun lansung ke lokasi PT. Perkebunan Sumatera Utara (PT.PSU). Pasalnya, masyarakat di empat desa itu saat ini kondisi resah atas penyerobotan lahan yang diduga dilakukan oleh PT.PSU. Warga mengklaim perusahaan […]

  • DPP IMMAN Sidimpuan Gelar Kaderisasi Dasar

    DPP IMMAN Sidimpuan Gelar Kaderisasi Dasar

    • calendar_month Rabu, 11 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PADANGSIDIMPUAN (Mandailing Online) – DPP Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (IMMAN) Padangsidimpuan mengadakan kegiatan latihan kaderisasi dasar. Kaderisasi berlangsung dari tanggal 6 sampai 8 Desember 2019. Kegiatan latihan kaderisasi dasar yang berkonsep Kaderisasi Indoor dan Outdoor yang diikuti oleh mahasiswa Mandailing Natal (Madina) di Kota Padangsidimpuan ini diharapkan dapat menumbuhkan jiwa kebersamaan dan meningkatkan […]

expand_less