Jumat, 13 Mar 2026
light_mode

Toge Panyabungan tak Hanya Ramadhan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 24 Jul 2011
  • print Cetak


Namanya Toge Panyabungan. Selintas seperti nama kecambah kacang hijau yang sering dijadikan sayuran. Tapi toge yang satu ini adalah sebuah jajanan kuliner khas Mandailing, tepatnya berasal dari Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Panganan segar yang konon identik dengan bulan puasa ini memiliki rasa yang khas dan sangat lezat. Apalagi kalau dicampur dengan tape maka rasanya pasti akan semakin nikmat.
SEJATINYA, Toge Panyabungan sesungguhnya adalah sejenis kolak. Di dalamnya terdapat campuran tape, pulut hitam, lupis, bubur candil dan cendol yang dicampur gula merah cair serta santan sebagai kuahnya. Rasanya tentu saja manis. Bagaimana sebenarnya bentuk makanan ini.
Mungkin jika pertama kali mendengarnya maka orang akan mengasumsikan makanan ini adalah toge atau kecambah kacang hijau yang diberi manisan berupa gula. Tak salah juga jika orang yang tak pernah makan beranggapan seperti itu mengingat namanya toge. Tapi sebenarnya makanan ini tak jauh beda dengan es campur biasa. Sebab panganan ini akan tambah lebih enak lagi jika ditambah dengan es batu.

Selain lezat, keistimewaan Toge Panyabungan dapat menambah tenaga setelah menahan lapar sejak pagi hari. Selain itu, banyaknya kandungan ketan menyebabkan tubuh yang mengonsumsinya menjadi hangat. Maka tak heran kalau Toge Panyabungan banyak diserbu pembeli terutama pada saat menjelang berbuka puasa di bulan suci Ramadhan. Tak heran namanya kini tersiar ke mana-mana. Hal itu membuat kehadiran Toge Panyabungan menjadi sebuah jajanan kuliner yang digemari. Bila dahulu dagangan ini hanya hadir di bulan puasa, tetapi kini hal itu telah berubah. Kini, pada hari biasa pun penggemarnya sudah dapat menikmati karena sudah ada yang menjualnya meskipun hanya segelintir pedagang saja.

Hollad Nasution misalnya. Pedagang Toge Panyabungan yang membuka lapak setiap hari di Jalan Letda Sudjono simpang Gang Makmur persisnya di samping loket bus ALS ini begitu tampak laris manis didatangi pembeli. Lapak dagangannya yang hanya bermodalkan steling diangkut vespa butut terkesan sangat familiar hingga Pak Hollad begitu akrab dengan pelanggannya. Seperti saat ditemui MedanBisnis beberapa waktu lalu, Pak Hollad begitu akrab di mata pembelinya meskipun hanya sekadar menegur pria dua anak ini dengan ramah. “Ya mereka pernah beli dan tahu rasanya seperti apa, jadi sudah seperti keluarga,” kata Pak Hollad membuka pembicaraan.

Diakui pria berusia 52 tahun ini kalau panganan Toge Panyabungan begitu laris di setiap bulan Ramadhan. Mendengar namanya, para pembelinya pun bukan hanya dari masyarakat suku Mandailing saja. Kolak yang berisikan lima bahan utama ini juga telah disukai lidah semua orang yang meminumnya. Maka tak heran, Toge Panyabungan sudah mulai memasyarakat. Selain rasanya yang menyegarkan, Toge Panyabungan juga mampu menghilangkan haus dahaga serta pengganjal perut yang lapar. “Rasanya yang manis dan ramenya bahan campuran di dalamnya menjadikan Toge Panyabungan menjadi makanan favorit,” tambah Pak Hollad tersenyum.

Pria berlobe ini sebenarnya juga tidak tahu kenapa namanya disebut Toge Panyabungan. Memang katanya, jenis kuliner seperti ini memang awalnya dijual di daerah Panyabungan, Madina, Sumatera Utara. Tetapi dasar kata toge juga tidak memiliki arti, dan bukan merupakan bagian dari pembuatan makanan yang berasa manis ini. “Mungkin karena dari sana (Panyabungan) kali ya, tapi toge sama sekali memang tidak ada kita pakai di dalamnya,” jelasnya lagi.

Berbahan Asli
Meskipun terlihat mudah, hanya saja bahan baku Toge Panyabungan bukanlah sembarangan. Bahkan agar cita rasanya mampu memuaskan selera pembeli, maka bahan pembuatan kuliner ini memakai bahan asli. Bahan-bahan seperti beras ketan hitam, putih, gula merah, santan kelapa, tape, cendol, lupis dan cenil semuanya harus diracik dengan alami. “Dagangan kita semua berbahan asli tidak ada pakai zat pengawet, pewarna atau pemanis rasa. Kalau tidak seperti itu, ya semua pelanggan pasti akan lari,” aku Pak Hollad.

Bahkan untuk bahan baku gula merah saja, Pak Hollad tidak mau membeli yang sudah jadi. Ia mengaku membuatnya sendiri dengan cara memasak gula aren yang didatangkan langsung dari Kampung Maga Tanah Male, Panyabungan, Madina. “Gula merahnya memang berasal dari gula aren murni yang kita masak, bahkan bahannya kita datangkan dari Madina,” bebernya sembari mengatakan mulai fokus berjualan Toge Panyabungan sejak 2004 silam ini.

Itu sebabnya harga Toge Panyabungan tiap tahun terus mengalami kenaikan karena bahan bakunya berasal dari bahan asli. Kini, sebungkus Toge Panyabungan dijual Pak Hollad seharga Rp 6.000. Tetapi pak Hollad juga menyiasati dengan tetap menjual es cendol tanpa Toge Panyabungan seharga Rp 4.000. “Untuk hari biasa harganya memang seperti itu. Tetapi kalau bulan puasa kemungkinan naik, karena semua kebutuhan bahan pokok kan semuanya juga naik. Paling berkisar naik seribu rupiah lah untuk sebungkus Toge Panyabungan,” jawab Pak Hollad yang berjualan sejak pukul 11.00 WIB hingga 18.30 WIB ini.

Larisnya panganan Toge Panyabungan tentu membawa berkah bagi Pak Hollad. Bayangkan, setiap harinya ia mampu mengumpulkan omzet bekisar Rp 350 – 400 ribu hasil dagangannya. Terlebih lagi bila bulan puasa, pria yang sudah berjualan Toge Panyabungan musiman sejak 1998 ini mengaku hasil dagangannya bisa menembus Rp1 – 2 juta per harinya. “Kalau di bulan puasa omzetnya memang cukup banyak, bahkan kami sampai kerepotan melayani pembeli. Tetapi hasilnya ya Alhamdulillah,” bilangnya lagi.

Hal itu pula membuat Pak Hollad Nasution bersama istrinya, Deli Hasna boru Harahap mampu memiliki rumah sendiri serta dapat membiayai pendidikan bagi sepasang anak kesayangannya. Bahkan putri sulungnya, Rizky Andriani boru Nasution saat ini tengah mengenyam bangku kuliah masuk semester IV di Universitas Prima. Sedangkan si bungsu, Zulkifli Nasution masih duduk di bangku SMA. Padahal bila melihat pekerjaan Pak Hollad yang dahulunya bekerja sebagai kenek bus ALS, maka profesinya sekarang dengan hanya berjualan Toge Panyabungan dianggap menjadi berkah. “Syukur Alhamdulillah, ganti profesi dari kernet menjadi pedagang es telah membawa berkah,” tandas Pak Hollad sumringah. (Oleh : cw-zulfadli siregar)
Sumber : medanbisnisdaily.com

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DCS Dapil 1 PKS Madina

    DCS Dapil 1 PKS Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 1 PKS

  • Polisi Masih Selidiki Kepemilikan 11 Escapator Tambang Emas Ilegal di Madina

    Polisi Masih Selidiki Kepemilikan 11 Escapator Tambang Emas Ilegal di Madina

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online) : sampai hari ini, Tim penyidik Polres Mandailing Natal ( Madina), masih terus melakukan penelusuran terhadap kepemilikan 11 alat berat escapator yang di amankan polisi saat razia tambang emas ilegal di Kecamatan Kota Nopan. Dari 12 alat berat yang disita polisi, baru satu alat berat yang sudah di ketahui kepemilikannya dan […]

  • Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014. Ruang I. (Sesi I) Hari :  Selasa, Pukul : 08.00 s/d 10.00 wib Tanggal : 16 Desember 2014   NO.   RUANG UJIAN   NO. PESERTA   NAMA PESERTA 1 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 1 52132000938 MUHAMMAD HAIDIR POHAN 2 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB […]

  • Solusi Menghentikan Segala Bentuk Penghinaan Terhadap Rasululloh

    Solusi Menghentikan Segala Bentuk Penghinaan Terhadap Rasululloh

    • calendar_month Sabtu, 25 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Dahlena Pulungan Pengajar, tinggal di Padangsidempuan Penghinaan terhadap Nabi Muhammad kembali terjadi, beberapa waktu belakangan, dunia dihebohkan dengan penghinaan Nabi Muhammad di India. Dikutip dari Detik.com, (12/6/2022) seorang politikus India melontarkan komentar yang kontroversional soal Nabi Muhammad. Akibatnya memicu kemarahan dari berbagai negara-negara muslim. Mengutip CNBC yang melansir Sputnik News, juru bicara partai Bharatiya […]

  • Tolak Impor Beras,  Swasembada Pangan, Kapankah?

    Tolak Impor Beras,  Swasembada Pangan, Kapankah?

    • calendar_month Sabtu, 20 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Alfisyah S.Pd Guru dan pegiat literasi Islam Budi Waseso(Buwas) geram. Sebagai direktur utama Perum BULOG beliau kini kian buas. Beliau meradang karena menurutnya kebijakan impor beras yang digagas pemerintah belum diperlukan. Beliau menolak impor beras. Sebab panen raya  masyarakat masih menyisakan banyak stok cukup untuk saat ini. Persedian beras di BULOG pun masih lebih […]

  • Korban Penembakan Kader Terbaik Muhammadyah, Dirujuk ke RSU Adam Malik

    Korban Penembakan Kader Terbaik Muhammadyah, Dirujuk ke RSU Adam Malik

    • calendar_month Selasa, 20 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Edwin Adyantho, korban penembakan kerusuhan di Desa Sihepeng, kini dirujuk ke RSU Adam Malik, Medan. Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Wakapolres Madina Kompol Hariun Dalimunthe menjeguk korban di RSU Panyabungan sebelum diberangkatkan ke Medan, Selasa (20/9). Edwin tertembak pada bagian pahanya yang dilaporkan sebagai peluru nyasar […]

expand_less