Home / Artikel / Tortor Mandailing di Dalam Mollop

Tortor Mandailing di Dalam Mollop

Tortor Naposobulung

 

Catatan : Dahlan Batubara

 

Saya teringat cerpen “Indonesia” karya Putu Wijaya. Berkisah tentang mahasiswi di Amerika Serikat. Yang belajar tari untuk persiapan festival kesenian asli negara-negara asal para mahasiswa.

Si mahasiswi baru menyadari belajar tari ternyata sangat berat.

Sang guru tari menekankan bahwa esensi tarian tradisional itu ketika : gerakan fisik saat menari berada dalam pengaruh jiwa. Pengaruh perasaan. Bukan lagi perintah otak.

Syaraf-syaraf tubuh bergerak oleh getaran jiwa. Jiwa digetarkan oleh hipnotisasi ritme musik.

Tubuh bergerak mengikuti aliran perasaan.

Gemulai tarian kian halus jika jiwa semakin menguasai gerakan fisik.

Dalam bahasa Mandailing ada kosa kata “Mollop”. Antara tidur dan terjaga. Atau setengah sadar.

Tingkatan Mollop tercapai ketika kesadaran oleh kekuatan otak kian memudar.

“Penari Tortor Mandailing berada dalam situasi antara sadar dan terjaga. Mollop,” ungkap Ilham Nasution, guru Gordang Sambilan di Pidoli Lombang, Panyabungan, Madina, ketika saya berbincang dengannya tahun 2012 lalu.

“Tubuh bergerak mengikuti perasaan. Gerakan yang halus ini terpengaruh oleh kendali perasaan, yang mengalir ke urat-urat syaraf penari oleh pengaruh ritme musik. Makanya Tortor Mandailing halus, bergerak lamban dan sakral, penuh makna dan penghayatan,” beber Ilham.

Gerakan mata, tangan, jari tangan dan kaki digerakkan oleh perasaan. Termasuk posisi kepala yang terus menunduk.

Ini menyebabkan gerakan tari tortor Mandailing  lamban, halus, gemulai.

Telapak kaki juga tak pernah terangkat dari lantai. Hanya bergeser. “Manyerep” dalam bahasa Mandailing.

Apabila gerakan tarian Tortor Mandailing masih belum halus, maka si penari harus giat belajar. Agar esensi gerakan Tortor Mandailing tercapai.

Dari sisi pendekatan etnomusikologi. Gerakan tarian yang halus, lamban dan penuh penghayatan merupakan ciri tarian tradisional di berbagai kawasan di Nusantara. Seperti tarian tortor di Mandailing itu.

Jika ada tarian yang sama tetapi gerakannya cendrung kasar, maka dianggap keluar dari esensi tarian induknya. Pendekatan ini bisa menjelaskan bahwa jika ada tarian serupa di suku lain, maka tortor mereka berinduk pada Tortor Mandailing.

Ini juga bisa menjadi kajian lebih lanjut tentang kemungkinan suku itu berasal dari Mandailing yang turut membawa tarian tortor itu ke wilayah baru mereka. Ketiga bermigrasi masa lalu.***

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: