Kamis, 12 Mar 2026
light_mode

Tradisi Marturi Nyaris Punah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 9 Mei 2017
  • print Cetak

 

Askolani Nasution

Tradisi Marturi, sebagai salah satu sastra lisan Mandailing, sudah nyaris punah. Itu terjadi akibat minimnya regenerasi dalam tradisi Marturi.

Hal itu diungkap budayawan Mandailing, Askolani Nasution di Panyabungan, Mandailing Natal usai mendampingi tim peneliti dari Pusat Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (4/5/2017).

Padahal, menurutnya, hanya melalui tradisi Marturi berbagai kaidah dan etika kebudayaan Mandailing diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Apalagi karena kebudayaan Mandailing adalah kebudayaan yang menjadikan Aksara Tulak-Tulak sebagai sarana untuk bercerita. Karena itu banyak entitas Mandailing yang tidak terwariskan secara benar.

Askolani juga menjelaskan tentang ungut-ungut sebagai sajak yang dilagukan, semacam musikalisasi puisi.

“Jadi jauh sebelum musikalisasi puisi dikenal secara modern, kebudayaan Mandailing sudah memiliki tradisi itu,” ujarnya.

Ungut-ungut selain merupakan ekspresi perasaan, juga keterampilan menggunakan persajakan dan ritme yang memiliki nilai estetika yang luar biasa.

Tim peneliti dari Pusat Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hari ini, Kamis (4/5) melalukan penelitian tentang tradisi sastra lisan dalam kebudayaan Mandailing. Dua orang peneliti tersebut didampingi oleh Hasan Al-Banna dari Balai Bahasa Medan dan beberapa pendamping mahasiswa peneliti lain. Mereka diterima oleh H. Baginda Kari Manonga dari Panyabungan dan Askolani Nasution.

H. Baginda Kari Manonga menjelaskan berbagai hal mengenai tradisi lisan dalam prosesi Marhata-hata dalam kebudayaan Mandailing. Bahwa dalam Marhata-hata yang digunakan adalah tataran paling halus dalam ragam bahasa Mandailing, yakni ragam bahasa Adat. Ragam bahasa lainnya adalah ragam Somal, ragam Andung, ragam Bura, dan ragam Parkapur. Disebutkan bahwa masing-masing ragam itu menggunakan pilihan kata (diksi) yang berbeda.

Hasan Al-Banna, dari Balai Bahasa Medan membantu menerjemahkan berbagai idiomatik kebudayaan Mandailing dalam konsep ilmu sastra dan bahasa. Beliau memang selain sebagai peneliti bahasa, juga dikenal sebagai sastrawan muda Indonesia yang selalu menguatkan kebudayaan Mandailing dalam berbagai kesempatan.

Dengan penelitian bahasa ini setidaknya kita berharap agar kebudayaan sastra lisan Mandailing dapat dikembangkan. Selain untuk menghindari kepunahan, juga untuk menguatkan kebudayaan Mandailing dalam berbagai dimensi keilmuan. Dalam konteks seperti itu, pemerintah daerah seharusnya juga tampak perannya.

 

Editor        : Dahlan Batubara

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • FKDT Madina Datangi Paslon Harun -Ichwan Keluhkan Nasib Guru MDTA

    FKDT Madina Datangi Paslon Harun -Ichwan Keluhkan Nasib Guru MDTA

    • calendar_month Senin, 30 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) : Forum Komunikasi Diniyah Takmiliah ( FKDT) Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) datangi Posko Paslon nonor 01 Harun- Ichwan. Mereka hendak menyampaikan aspirasi terkait nasib guru guru Madrasah Diniah Takmiliyan yang sejak pemerintahan sekarang tidak lagi jelas arah intensif nya. Ketua FKDT Madina Syukur Saleh mengatakan, dana intensif guru guru […]

  • Alumni Musthofawiyah Tak Berafiliasi Pada Capres Manapun

    Alumni Musthofawiyah Tak Berafiliasi Pada Capres Manapun

    • calendar_month Jumat, 15 Feb 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        MEDAN (Mandailing Online) – Abituren atau alumni Pesantren Musthofawiyah Purba Baru menegaskan bahwa tidak berafiliasi dengan calon presiden mana pun dalam Pilpres 2019. Itu ditegaskan Ketua LBH DPP Keluarga Abituren Musthofawiyah (KAMUS), Dedi Pranoto,SH yang diterima Mandailing Online via WhatsApp, Jum’at (15/2/2019). Selanjutnya, Dedi menyatakan atas nama DPP Keluarga Abituren Musthofawiyah, LBH DPP […]

  • BURANGIR DALAM PILKADA

    BURANGIR DALAM PILKADA

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Moechtar Nasution Apa keterkaitan burangir dengan pilkada Madina yang direncanakan pada penghujung tahun ini akan dilaksanakan? Jelas sekali secara denotatif tidak akan diketemukan korelasinya namun jika dimakna ini secara konotatif sesungguhnya pasti akan bisa dihubungkan sinerginya. Burangir, kata ini mengalami penyimpangan makna yang sangat jauh dari arti yang sebenarnya persis seperti nama buah-buahan […]

  • Pembunuhan di Janji Matogu : Istri Pakai Parang, Suami Pakai Martil

    Pembunuhan di Janji Matogu : Istri Pakai Parang, Suami Pakai Martil

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      BUKIT MALINTANG (Mandailing Online) – Polres Madina melaksanakan rekonstruksi ulang tragedi pembunuhan di Desa Janji Matogu, Kecamatan Bukit Malintang, Mandailing Natal (Madina), Selasa (29/8/2017). Rekonstruksi dipimpin Kapolres Madina, AKBP Martry Sonni. Hadir penasehat hukum tersangka, Ridwan Rangkuti, SH.MH. Peristiwa itu terjadi pada 2 Agustus 2017, dimana DS (40) diduga membunuh istrinya Dewi Huatagalung (35) […]

  • Enam Rumah Terbakar di Panyabungan, Atika Datangi Lokasi

    Enam Rumah Terbakar di Panyabungan, Atika Datangi Lokasi

    • calendar_month Kamis, 16 Mar 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Enam rumah terbakar di Pasar Lama, Lingkungan 1, Kelurahan Panyabungan 1, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut Kamis (16/3/2023) dini hari, sekitar pukul 12.30. Kawasan pemukiman terbakar tak jauh di arah belakang Madina Square. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Kerugian yang diderita para pemilik rumah sejauh ini belum diketahui. […]

  • Tiap tahun ratusan polisi dipecat

    Tiap tahun ratusan polisi dipecat

    • calendar_month Jumat, 5 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BANDUNG, (MO) – Sepanjang tahun 2012, seratusan anggota Polri dipecat dari keanggotaan karena melanggar kode etik kepolisian. Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Nanan Sukarna menjelaskan, setiap tahunnya, 300-500 anggota Polri di Indonesia dipecat dengan tidak hormat. “Untuk tahun ini atau saat ini sudah seratusan lebih yang dipecat,” jelas Nanan saat ditemui di Hotel Royal Panghegar, hari […]

expand_less