Home / Seputar Madina / Warga Sibanggor Tak Lagi Tidur Nyenyak (Bagian 1)

Warga Sibanggor Tak Lagi Tidur Nyenyak (Bagian 1)

wellpad SMP-T02 PLTP Unit II, Sibanggor Julu, Kamis (11/2/2021). Foto : Dahlan Batubara

 

Laporan : Dahlan Batubara dan Seri Aida Lubis

 

Ketakutan, keresahan dan kecemasan. Itu gambaran terkini di kalangan warga Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Penulusuran tim media dari Mandailing Online, Malintang Pos dan Madina Pos, Kamis (11/2/2012) di Sibanggor Julu mencatat banyak hal pengakuan beberapa warga pasca tragedi tewasnya 5 warga Sibanggor Julu dan puluhan korban hidup pada 25 Januari 2021 ketika pihak SMGP membuka sumur SMP-T02 untuk komisioning PLTP Unit II.

Kekhawatiran munculnya kembali zat racun dari sumur dan instlasi SMP-T02 PLTP Unit II senantiasa menghantui warga, berakibat tidur warga tak lagi nyenyak.

Betapa tidak, lokasi wellpad SMP-T02 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang dikelola PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) itu hanya berjarak sekitar 150 meter dari rumah terdekat pemukiman Sibanggor Julu.

Ketika tim wartawan hendak memotret wellpad SMP-T02 PLTP Unit II, dua security SMGP mengingatkan tim wartawan agar jangan terlalu dekat.

Security beralasan bahwa kesehatan tim wartawan dikhawatirkan terganggu jika terlalu dekat dengan lokasi.

Keluar dari wellpad SMP-T02 PLTP Unit II, Sibanggor Julu, Kamis (11/2/2021). Foto : Seri Aida Lubis.

Warga mengaku, posisi wellpad  yang dekat pemukiman itu menjadi salah satu pemicu kecemasan warga yang kini berada dalam ketakutan besar.

Begitu dekat persinggungan instalasi geothermal itu dengan posisi pemukiman warga.

Sejumlah warga yang ditemui di beberapa lopo (kedai kopi) banyak mencuatkan kegelisahan.

Warga gelisah bahwa kesehatan penduduk di masa-masa mendatang akan selalu terancam.

Ketenangan tidak ada lagi di kampung itu.

“Kami tak lagi tenang, ada saja persoalan. Bahkan sekarang meningkat, kami kini dihantui ketakutan racun,” ujar pak Lubis usia 85 tahun.

Warga Sibanggor Julu ketika berbincang dengan tim wartawan di desa itu, Kamis (11/2/2021). Foto : Iskandar Hasibuan

Beberapa orangtua mengatakan sering mendengar dari sosialisasi yang diselenggarakan perusaan maupun pemerintah bahwa PLTP itu teknologi ramah lingkungan.

Namun, tragedi 25 Januari 2021 seolah membantah “ramah lingkungan” itu.

Disisi lain, perubahan sosial di Desa Sibanggor Julu pun telah banyak berubah sejak kehadiran PTLP beberapa tahun lalu.

Kehadiran PLTP itu di mata warga mengubah banyak hal.  Konflik horizontal di kalangan warga hingga tidak adanya kerukunan, menjadi satu perubahan yang hakiki sejak kehadiran PLTP.

Pemukiman Sibanggor Julu, Kamis (11/2/2021). Foto : Dahlan Batubara

Konflik-konflik itu dipicu terbelahnya sikap dan pendapat di tengah-tengah penduduk.

Ada yang kontra, ada yang pro kehadiran PLTP.

Yang kontra melihat bahwa PLTP akan selalu menyusahkan kedamaian hidup.

Yang pro lantaran memiliki kesempatan kerja di PLTP.

Dari 1.700-an jumlah penduduk Sibanggor Julu terdapat sekitar 80 orang yang bekerja di PLTP.

Tetapi, berdasar penjelasan warga, tragedi 25 Januari lalu pun memiliki hikmah : bahwa kesadaran telah menguat di kalangan penduduk bahwa persatuan warga jauh lebih penting menyikapi PLTP. (Bersambung)

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: