Sabtu, 14 Mar 2026
light_mode

Wawancara dengan Askolani CEO Tympanum Novem (Bagian II)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Nov 2012
  • print Cetak

Banyak kemajuan yang sudah dicapai Tympanum Novem sejak muncul tahun lalu melalui film perdana Mandailing “Biola Na Mabugang”. Banyak pihak yang menyebutkan bahwa film ini mengawali gerbong dinamika genre baru dalam segmen hiburan di kawasan Mandailing dan bekas daerah Tapanuli Selatan secara umum. Dalam sebuah kesempatan di tengah-tengah penggarapan film “Lilu”, kami menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, CEO Tympanum Novem.

BAGIAN II


Kenapa baru sekarang ada gerakan model Tympanum?

Saya yakin, bukan hanya kami yang prihatin terhadap kondisi seni budaya kita. Jauh sebelum ini juga sudah muncul berbagai diskursus tentang eksistensi seni budaya Mandailing di kalangan seniman dan budayawan kita, bahkan di lingkungan kelas sosial tertentu. Dulu kita berharap muncul melalui wadah organisasi seniman budayawan daerah. Tapi sampai sekarang tak ada wadah yang representatif semacam itu. Karena itu, kita kumpulkan kawan-kawan seide, dan terbentuklah Tympanum Novem tahun lalu.

Apa sebenarnya yang membuat Anda prihatin?

Nyaris tak ada perhatian kita terhadap pakem seni budaya Mandailing. Budaya misalnya hanya tampak dalam prosesi pesta pernikahan saja. Di luar itu nyaris pudar semua. Ada kecenderungan di hampir setiap etnis dengan makin memudarnya karakteristik lokal dan tanpa disadari ada transformasi yang masif ke bentuk budaya nasional yang diusung media massa. Selain itu, makin banyak ekspansi bahasa Indonesia terhadap bahasa lokal, sehingga tiap hari ada saja idiom bahasa lokal yang digantikan bahasa nasional. Itu ancaman, karena hanya menunggu waktu bahasa-bahasa daerah ini akan punah. Coba saja baca buku-buku berbahasa daerah kita, makin banyak diksi yang tidak kita pahami. Itu pertanda ancaman kepunahan. Ada kematian bahasa. Dan itu diakui dalam ilmu linguistik.

Karena itu Anda menggunakan bahasa Mandailing Klasik dalam Film “Biola Na Mabugang” dan “Tias”?

Benar. Kita berniat menghidupkan kembali bahasa purba itu. Kami kira itu dulu beresiko karena cerita akan sulit dipahami. Ternyata tidak, itu malah memancing keingintahuan anak-anak terhadap muatan maknanya. Bahkan menjadi daya tarik film. Karena bagi sebagian penonton berumur, itu membangkitkan nostalgia ke masa anak-anak. Dan penelitian membuktikan bahwa rata-rata manusia Timur pikirannya lebih terkooptasi terhadap masa lalu dibandingkan masa depan. Itu menjadi salah satu acuan pemasaran bagi banyak bisnis media. Kita harus jeli melihat pangsa pasar ini.

Anda belajar pemasaran juga, ya?

Ya, harus. Sebagus apapun kemasannya, kalau isinya tak mendatangkan daya tarik pasar, tetap gagal namanya. Tiap produk seni budaya harus berorientasi pasar, kalau tidak, kita tidak survive. Bengkel Teater Rendra juga begitu, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Riantiarno, Butet Kertajasa, dan lain-lain. Kalau tidak bagaimana mereka bisa makan. Tentu saja sepanjang kita tetap bisa menjaga dimensi-dimensi pemberdayaan sosialnya, mencerdaskan, ada idealisme, perfeksionis. Jangan juga melulu market oriented seperti sebagian besar produk televisi kita. Itu pelacuran seni namanya. Kita mengeksploitasi seni dan manusia hanya untuk bisa tetap berjuang. Tympanum bergerak dalam ranah itu.

Itu konsep Anda atau konsep Tympanum?

Saya yakin kawan-kawan di Tympanum rata-rata memahami itu. Itu terbukti dari empat produksi yang sudah kita buat. Saya kenal orang-orang Tympanum bukan setahun dua tahun lagi. Aes, Fikri, Ewin saya kenal sebagai seniman murni. Mereka bahkan rela tidak dibayar kalau itu menyangkut penguatan sosial. Dan itu sering kita diskusikan. Kita juga beranjak dari keterbukaan, kejujuran komunual. Tak banyak cingcong. Kalau nyaman, ya kerja; kalau tak nyaman ya keluar. Kita tak mau ribut-ribut soal jasa misalnya. Bukan seniman kalau semua diukur dengan materi, dan bukan seniman kalau bawaannya kasar. Itu mungkin yang bisa menguatkan kita di Tympanum.

Apa target Tympanum sebenarnya?

(Diam sebentar). Kita terlalu banyak keinginan. Ingin ada pakem musik mandailing yang benar-benar tampak karakter Mandailingnya mulai dari ornamen, komposisi, ritme, dan lirik. Kita ingin film Mandailing yang dicintai warganya, yang jelas tampak karakter lokalnya mulai dari bahasa, perwajahan, kostum, hingga ilustrasi musik. Kita ingin menghidupkan kembali idiom dan diksi bahasa Mandailing yang hampir punah. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam ornamen gedung, pola perkampungan, bahkan pemerintahan. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam software berbasis IT. Kita ingin buku-buku yang ber-roh Mandailing. Kita ingin mengukuhkan sejarah perdaban Mandailing.


Revolusi Kebudayaan targetnya?

Kesimpulannya mungkin begitu. Tapi tentu tetap ada orang yang trauma dengan sebutan revolusi karena mungkin mencaman bagi kemapanan tertentu. Itu semua kerja berat dan tak mungkin kami lakukan sendiri. Tapi ada atau tidak dukungan, insya allah tetap kami lakukan. Karena selalu harus ada martir untuk setiap perubahan sosial. Dan akan butuh waktu lama, banyak cobaan, dan lain-lain. Tak apa-apa. Jangan ada pembiaran terhadap keruntuhan budaya kita. Jangan sampai Mandailing seperti punahnya peradaban Inca (tertawa)

Sejak kapan Anda punya pikiran seperti ini?

Tiap orang tak bisa menghindar dari dinamika daya tarik pemikiran. Dalam analisa berpikir saya sebenarnya amat western, saya menolak segala yang menentang logika, kecuali pengakuan terhadap Tuhan, karena itu butuh kerendahhatian manusia. Saya amat yakin kita jangan hanya menjadi spesialis, harus juga generalis. Kita mesti belajar banyak hal mulai dari filsafat, ilmu logika, ilmu sosial, ekonomi (makro dan mikro), budaya, seni, komunikasi, dan teori-teori pemberdayaan, psikologi juga. Kita semua butuh pengetahuan untuk bisa mengemas sesuatu. Makin efektif pendekatan, makin rendah cost-nya, itu prinsip marketing dalam arti luas (ekonomi, politik, logika, dan lain-lain). Misalnya, kalau seseorang bisa kita tarik simpatinya dengan sapaan yang menenangkan, mengapa harus dengan membayar tiket? Hiduplah dengan lentur, sepanjang tetap pada langkah penguatan potensi diri. Hiduplah dengan banyak tujuan, tak baik terlalu sederhana dalam berpikir.

Hidup seperti itu apa tidak capek?

Jangan bilang capek untuk hidup yang hanya sekali. Itu tidak menghargai hidup namanya. Tuhan memperpanjang umur kita bukan tanpa maksud saya kira. Walaupun alam ini rumit dan semua atas kehendak Tuhan, Tuhan tetap mengenal kita sebagai ciptaannya. Kematian saya kira bukan sekedar takdir, tetapi batas berakhirnya kesempatan untuk melakukan sesuatu. Karena itu, jika tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sama artinya dengan mengakhiri hidup kita sendiri.(MO/Holik)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Calhaj Madina Berangkat 21 dan 24 Oktober Ke Asrama Haji Medan

    Calhaj Madina Berangkat 21 dan 24 Oktober Ke Asrama Haji Medan

    • calendar_month Selasa, 5 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA Calon jamaah haji (calhaj) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang berjumlah 490 orang dan dibagi 2 kloter, yakni, kloter 11 dan kloter 13, akan berangkat ke asrama haji Medan dalam waktu dekat. Kloter 11 diberangkatkan 21 Oktober sedangkan kloter 13 berangkat 24 Oktober. Demikian disampaikan Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemkab Madina, M Taufik Lubis SH, […]

  • Tortor Naposo Bulung Raih Rekor Muri

    Tortor Naposo Bulung Raih Rekor Muri

    • calendar_month Senin, 6 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN :Sebanyak 1.134 pelajar dari tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Medan menggelar Tortor Naposo Bulung secara serentak di Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara (Sumut), Minggu 5 Desember 2010. Tarian khas asal Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) ini akhirnya memecahkan rekor penari terbanyak yang pernah digelar secara serentak dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Pagelaran tarian massal […]

  • Biaya Melimpah Untuk Menikah

    Biaya Melimpah Untuk Menikah

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pernikahan merupakan salah satu tahap dalam hidup setiap manusia. Sebagai bentuk kasih-sayang antar laki-laki terhadap perempuan, ikatan pernikahan dilakukan berdasar ajaran setiap agama dan Negara. Dalam Undang-undang tentang Perkawinan disebutkan, suatu perkawinan dapat dinyatakan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan pasangan yang melakukan pernikahan. Suatu pernikahan wajib dicatat oleh Negara. Bagi warga […]

  • Mafia Tambang Emas Ilegal Kembali Beraksi di Sejumlah Titik di Madina

    Mafia Tambang Emas Ilegal Kembali Beraksi di Sejumlah Titik di Madina

    • calendar_month Sabtu, 25 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online): praktek tambang emas tanpa izin dengan menggunakan alat berat kembali berlangsung di wilayah hukum Polsek Kota Nopan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina). Padahal wilayah Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dibwilayah itu pada 25 April 2024 lalu telah ditertibkan dan penindakan oleh jajaran lintas sektoral otoritas daerah. Tindakan yang dilakukan seolah tidak menjadi […]

  • Bupati Madina Hadiri HUT ke-71 IBI

    Bupati Madina Hadiri HUT ke-71 IBI

    • calendar_month Sabtu, 6 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jafar Sukhairi Nasution menghadiri kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Gedung Serbaguna, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Sabtu (6/8). HUT ke-71 IBI tersebut mengusung tema ‘Perjalanan Panjang Profesi Bidan Mengawal Kesehatan Ibu dan Bayi untuk Mewujudkan Indonesia Unggul dan Indonesia Maju’. Sukhairi […]

  • Kepala BIN: Pilkada Ditunda Jika Daerah Hanya ada Satu Calon

    Kepala BIN: Pilkada Ditunda Jika Daerah Hanya ada Satu Calon

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan pilkada serentak bisa ditunda jika ada daerah yang hanya memiliki satu pasangan calon kepala daerah. “Belakangan ini ada beberapa kendala yang tidak disangka-sangka adalah ada Kabupaten atau kota yang tidak ada calonnya. Itu konsekuensinya harus ditunda pada periode berikutnya,” ujar Sutiyoso di Balai Kartini, Jakarta, Kamis […]

expand_less