Rabu, 18 Feb 2026
light_mode

500 Lebih Nelayan Tradisional Belawan Tidak Melaut

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Kamis, 19 Mar 2015
  • print Cetak

Medan – Hari ini, Kamis (19/3), sekira 500 lebih nelayan tradisional Belawan tidak melaut. Hal itu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 2 Tahun 2015. "Para nelayan tidak melautnya selama sehari penuh Kamis, karena para nelayan merayakan atau mensyukuri terbitnya Permen KP No 2 Tahun 2015," kata panitia acara Ruslan didamping pemerhati nelayan Sumut Tata boru Simbolon, Rabu (18/3) di Medan.

Dia mengatakan, dalam acara itu para nelayan akan melakukan penandatanganan sebuah spanduk di lokasi acara syukuran Jalan Young Panah Hijau Linkungan 8, Kelurahan Labuhandeli, Kecamatan Medan Marelan, mulai pukul 14.00 WIB sd selesai. Kemudian, spanduk itu dibawa oleh perwakilan para nelayan ke Jakarta, untuk diserahkan ke Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti.

"Untuk memeriahkan syukuran itu, panitia juga mengundang perwakilan nelayan dari Tapanuli Tengah (Tapteng), Sibolga, Tanjungbalai, Langkat, Medan dan lainnya. Jadi target kita untuk melakukan pemberian tanda tangan di spanduk pada Kamis itu sebanyak 20.000 tandatangan nelayan tradisional," katanya.

Dia berharap, dengan dukungan yang disampaikan mereka tersebut, Susi Pudjiastuti tidak mencabut Permen KP No 2/2015 tersebut, walaupun ada belum lama ini sejumlah oknum yang mengaku dari nelayan menolak terbitnya Permen KP No.2/2015.

"Sebab dengan diberlakukannya Permen KP No 2/2015 saat ini, penghasilan nelayan tradisional, khususnya di Belawan mulai meningkat. Jadi diberlakukankannya Permen KP No 2/2015 ini membuat kehidupan atau perekonomian keluarga nelayan tradisional mulai membaik," paparnya.

Pemerhati nelayan Sumut Tata boru Simbolong mengatakan, keputusan Menteri Kelautan yang melarang beroperasinya alat tangkap pukat tarik, pukat trawl (harimau) dan pukat hela, selain untuk terciptanya ramah lingkungan, serta menyelamatkan ekosistem di laut, juga supaya masyarakat Medan atau Sumut bisa mendapatkan ikan-ikan segar untuk dikonsumsi.

"Kalau nelayan tradisional mendapat ikan di laut, mereka hari itu juga langsung pulang untuk dijual ke pasar. Sedangkan nelayan yang menggunakan pukat, mereka berhari-hari dulu di laut dan ikannya sudah dies. Setelah tangkapan ikannya penuh, mereka pun turun ke darat dan menjual ikannya di pasaran," katanya.

Karena itu, katanya, aparat keamanan di laut (Kamla) harus membantu kebijakan pemerintah tersebut dengan menertibkan kapal pukat gerandong yang beroperasi secara ilegal dan melanggar ketentuan.

"Kapal pukat gerandong yang menangkap ikan harus dirazia dan diamankan. Apalagi kegiatan pukat gerandong sangat mengganggu pendapatan nelayan kecil di Belawan dan semakin berkurangnya hasil tangkapan di laut," katanya.

Sumber : Medanbisnis

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keturunan Mandailing Malaysia Kembali Menginjakkan Kaki di Tanah Leluhur

    Keturunan Mandailing Malaysia Kembali Menginjakkan Kaki di Tanah Leluhur

    • calendar_month Minggu, 3 Des 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 12 orang keturunan Mandailing di Malaysia melakukan muhibah ke tanah leluhur. Rombongan yang bertajuk “Mulak Tu Huta” itu berlangsung dari tanggal 27 November hingga 2 Desemeber 2017. Mereka mengunjungi berbagai tempat bersejarah di kawasan Padang Lawas, Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal. “Di Mandailing Natal, mereka kami bawa ke Bagas Godang […]

  • KERAJAAN PANAI

    KERAJAAN PANAI

    • calendar_month Selasa, 19 Mar 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Catatan : Askolani Nasution   Memang, sampai saat ini amat sedikit referensi tentang Kerajaan Panai yang diyakini berpusat di Padang Lawas ini. Salah satu referensi tentang Panai adalah Kitab Negarakertagama di masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit. Kitab yang bertajuk tahun 1365 M itu menyebutkan penaklukan Majapahit atas beberapa kerajaan di Sumatera, termasuk Kerajaan Mandailing […]

  • The Scary Khilafah

    The Scary Khilafah

    • calendar_month Kamis, 24 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Emha Ainun Najib Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah. Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah: dengan segala cara memecah […]

  • Sekretariat Pemkab Madina Sepi

    Sekretariat Pemkab Madina Sepi

    • calendar_month Jumat, 22 Jul 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Foto pelataran parkir di atas dijepret pukul 15.35 WIB, Jum’at (22/7/2022). Pelataran parkir ini dikhususkan untuk mobil sekretaris daerah, para asisten serta tamu-tamu Pemkab Mandailing Natal (Madina). Situasinya lengang. Hanya beberapa sepeda motor yang parkir di pelataran parkir latar depan kantor Bagian Umum. Mandailing Online mencoba menunggu di pelataran itu, namun hingga suara azan Asar […]

  • Kasus Derman Gultom, Bupati Madina Akan Surati Dirjen Pemasyarakatan

    Kasus Derman Gultom, Bupati Madina Akan Surati Dirjen Pemasyarakatan

    • calendar_month Sabtu, 25 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution berharap hukuman pidana dan pemecatan bagi Derman Gultom, pegawai Lapas Natal yang diduga menganiaya Said Rahman anak dibawah umur. Harapan itu dinyatakan bupati menjawab wartawan usai menjenguk anak dibawah umur itu di rumah orangtuanya, Desa Kampung Sawah, Kecamatan Natal, Sabtu (25/9/2021). Sukhari mengutuk keras tindakan […]

  • Empat kepala Polda diganti

    Empat kepala Polda diganti

    • calendar_month Rabu, 28 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, (MO) – Empat kepala Kepolisian Daerah diganti dalam upacara serah terima yang dipimpin Kepala Kepolisian Indonesia, Jenderal Polisi Timur Pradopo, di Markas Besar Kepolisian Indonesia, Jakarta, Rabu. Mereka adalah Kepala Kepolisian Daerah Aceh (dari Inspektur Jenderal Polisi Iskandar Hasan ke Inspektur Jenderal Polisi Herman Effendi), Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Inspektur Jenderal Polisi Dikdik Mulyana […]

expand_less