Home / Artikel / Batalnya Sunnatullah Karena Allah  Memenangkan Suatu Kaum

Batalnya Sunnatullah Karena Allah  Memenangkan Suatu Kaum

Oleh: Alfisyah Ummu Arifah, S.Pd
Pendidik dan Pegiat Literasi Islam Kota Medan

Terkadang manusia lupa akan satu perkara yang dihadapinya. Dia sejenak lupa bahwa dia hidup bersandar pada yang lainnya. Faktor x tempat dia bersandar itu, bahkan tak dipikirkannya. Saat kesulitan menimpa manusia tadi, manusia lupa ingin mengadu kepada siapa.

Begitulah, sesuai namanya. Al-Insan yang berarti tempatnya lupa. Makhluk Allah paling mulia ini sering amnesia akan intervensi tuhannya. Peran serta Penciptanya dalam setiap aktivitas yang dia lakukan.

Terkait dengan sebuah kemenangan besar berubahnya peradaban. Manusia lupa bahwa dirinya harus sebenar-benarnya yakin bahwa Allah saja yang akan memenangkan perjuangannya.

Sebab di balik ikhtiar yang dilakukannya, dia tak boleh lupa atas konsep itu. Bahwa sang pencipta yang akan memenangkannya meraih tujuan dakwahnya yaitu untuk melanjutkan kehidupan islam.

Melanjutkan kehidupan islam itu janji Allah. Dia tak  mungkin ingkar janji atas hal ini. Peradaban mulia bernama Khilafah itu pasti tegak kembali. Baik oleh peran serta dirinya sebagai pengemban dakwah atau orang lain. Tak ada yang mengetahuinya.

Hal yang pasti, masa itu pasti datang. Sebagaimana yang tercantum dalam surat An-Nur ayat 55.

Ada kata “layastakhlifannahum fil ardhi” yang bermakna “pasti akan kami berikan kekuasaan itu pada mereka  itu di bumi”. Kata itu berarti taukid atau kepastian bahwa janji Allah itu benar. Kata itu mengandung berita gembira untuk orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang berjuang mengembalikan kehidupan islami yang dulu pernah ada. Orang-orang yang berdakwah mengajak pada pergantian sistem hidup yang tidak islami, menjadi peradaban islam kaffah sesuai  kehendak Allah.

Sebagaimana surat An-Nur tadi, banyak ayat dan hadis yang isinya senada atas berita gembira itu untuk kaum muslimin. Hanya keimanan yang sanggup mengindranya. Sebab indra tak pernah salah dalam memahami ayat Allah.

Begitulah dahulu keyakinan Rasululah saat beliau mengemban risalah islam. Tak ada keraguan sedikitpun. Laa syakka fiih. Klaim kebenaran Al-Qur’an lebih dari cukup untuk dirinya membenarkan ayat-ayat cinta-Nya. Sebab klaim kebenaran itu hanya mutlak milik Allah.

Bagaimana dengan kita? Pengemban dakwah pewaris risalahnya. Kita para ulama itu. Kita pewaris nabi. Tugas hijrah itu sekarang ada di pundak kita. Mau atau tidak kita mengembannya sekuat tenaga itu kembali pada kita. Kembali pada keyakinan kita akan janji Allah dan busyro Rasulullah.

Padahal cukup dengan bermodalkan keimanan dan keyakinan pada Allah sepenuhnya. Urusan agama Allah ini akan dimenangkan-Nya. Kita tentu terinspirasi dengan ayat-ayat cinta-Nya yang berkesan pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah  ayat 50 di bawah ini.


وَاِذۡ فَرَقۡنَا بِكُمُ الۡبَحۡرَ فَاَنۡجَيۡنٰکُمۡ وَاَغۡرَقۡنَآ اٰلَ فِرۡعَوۡنَ وَاَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ‏

Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan.

Saat Allah melakukan penyelamatan kepada pasukan Musa dengan terbelahnya laut Merah (dahulu laut Qulzum. Itu mungkin tak pernah di mimpikan Nabi Musa dan sahabat-sahabatnya yang setia saat itu.

Allah  mengingatkan ketika Allah membelah Laut Merah untuk Musa dan Bani Israil. Ketika itu mereka bersama Nabi Musa meninggalkan Mesir menuju Sinai.

Ketika rombongan itu sampai di tepi Laut Merah. Allah memberi perintah kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke Laut Merah. Sehingga laut itu pun terbelah.

Ketika Firaun dan tentara-tentaranya masuk ke dalam laut yang terbelah itu, air laut kemudian bertemu kembali. Allah tenggelamkan Firaun dan  pengikut-pengikutnya. Sehingga mereka semua mati tenggelam.

Bani Israil yang saat itu melihat dengan mata dan kepalanya sendiri merasakan dan menyaksikan bahwa peristiwa itu luar biasa.

Allah ternyata punya rencana lain. Mayat Firaun diselamatkan agar menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya. Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam  Surah Yunus :92).

Dalam surat Yunus ini disebutkan nikmat lain yang diberikan kepada Bani Israil. Bahwa Allah telah menyelamatkan mereka ketika meninggalkan Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa as dari kejaran Fir’aun bersama tentaranya.

Setelah Allah mengangkat Musa menjadi rasul. Dia memerintahkan agar menyeru Fir’aun dan kaumnya untuk beriman kepada-Nya, menuntut Fir’aun agar membebaskan Bani Israil yang berada di negeri itu. Juga menghentikan kekejaman yang dilakukan terhadap mereka.

Sebagai jawabannya, Fir’aun memperhebat siksaan dan kekejamannya terhadap Bani Israil dan memerintahkan rakyatnya untuk meningkatkan kerja paksa yang ditimpakan kepada mereka.

Kemudian Allah memberikan berbagai mukjizat kepada Musa as dan saudaranya, Nabi Harun.

Diantaranya tongkat Nabi Musa yang dapat berubah menjadi ular dan dapat menelan ular-ular yang dijelmakan oleh para pesihir yang dikerahkan Fir’aun. Semua itu  untuk melawan mukjizat Nabi Musa as.

Melihat kenyataan itu, para pesihir itu pun mengakui kekalahan mereka, lalu menyatakan beriman kepada Tuhan.

Akhirnya Fir’aun mengusir dan mengejar-ngejar mereka. Maka berangkatlah mereka meninggalkan negeri itu di bawah pimpinan Nabi Musa as, sedangkan Fir’aun dan bala tentaranya mengejar mereka.

Ketika mereka sampai di tepi Laut Merah yang membatasi kota Suez dengan Semenanjung Sinai. Allah memerintahkan Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut. Lalu Musa  melakukannya.

Maka terbelahlah air laut dan terbentanglah dua belas jalur jalan raya yang akan dilalui Nabi Musa as bersama pengikut-pengikutnya. Jumlah mereka saat itu terdiri dari dua belas rombongan. Sehingga selamatlah mereka sampai ke seberang.

Sementara itu Fir’aun bersama rombongannya terus mengejar mereka. Mereka mengalami hal lain. Tetapi ketika mereka sampai di tengah-tengah laut itu, air laut kembali bertaut. Sehingga mereka semuanya tenggelam ditelan air laut.

Kejadian itu disaksikan oleh Bani Israil yang telah selamat sampai ke seberang.

Terbelahnya laut merupakan salah satu dari berbagai mukjizat Nabi Musa as untuk membuktikan kepada manusia bahwa Allah adalah Mahakuasa.

Dialah yang menciptakan alam ini dan Dia pula yang menetapkan undang-undang alam yang berlaku sepanjang masa.

Dia Allah berkuasa pula mengubah atau membatalkan undang-undang alam tersebut apabila dikehendaki-Nya.Dia membatalkan sunnatullah miliknya

Hukum alam atau sunnatullahnya air yang berlaku adalah bahwa air sebagai salah satu benda cair yang tidak dapat terpisah tanpa adanya benda lain yang memisahkannya.

Hukum alam inilah yang diubah dan dibatalkan Allah ketika terbelahnya air laut itu. Air laut tersibak dan berdiri seperti dinding-dinding yang tegak lurus tanpa ada sesuatu yang menahannya. Sehingga terbentanglah jalan di antara dinding-dinding tersebut.

Demikian besarnya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Bani Israil. Mereka telah dibebaskan dari kekejaman Fir’aun dan rakyatnya.

Kemudian mereka diselamatkan pula ketika menyeberang laut. Sesudah itu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri tenggelamnya musuh-musuh mereka di tengah laut yang tentu saja menggembirakan hati mereka. Sepatutnyalah mereka mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.

Demikianlah, sunnatullah atau hukum Allah pada benda, mudah baginya berubah sesuai hak prerogatif. Allah maha kuasa atas segala sesuatunya.

Dengan logika yang sama. Mudah jugalah bagi Allah memutarbalikkan roda kapitalisme yang kini masih memimpin dunia untuk kita arahkan pada kebangkitan khilafahnya kaum muslimin. Entah bagaimana mekanismenya nanti, kapitalisme itu akan hancur.

Dari sisi ikhtiarnya, langkah dakwah jama’ah yang terarah berpengaruh mesti diwujudkan. Langkah dakwah itu mestilah mencontoh nabi kita yang mulia. Segala ikhtiar dalam dakwah yang berpengaruh pun ditempuh dan tidak melupakan untuk meminta pada pemberi kekuasaan. Agar Islam kembali dimenangkan.

Pengemban dakwah mesti bekerja mewujudkan be influencer ummah.  Menjadi ummat yang berpengaruh mengajak bangsa lain menjadi ingin menerapkan islam. Itulah yang harus ditanamkan pada pengemban dakwah. Hingga saatnya dia dijemput tuhannya. Berdakwah terus hingga berhasil.

Perlunya komunikasi yang benar dengan ummat sudah tak bisa ditawar lagi. Setelah itu Allah bekerja dengan caranya yang apik dan manis. Hingga tujuan dakwah berhasil di depan mata.

Pergolakan air yang sedang dididihkan itu akan terwujud nyata setelah terdorongnya tutup bejana tersebut. Itulah komunitas dakwah yang  berpengaruh untuk melakukan perubahan. Menjadi sekelompok umat yang dekat pada kemenangan.

Para pengemban dakwah dan para pejuang estafet ini akan menguatkan anggotanya untuk bertahan dan sabar dalam dakwah. Istiqamah dalam melakoni jalan dakwah.

Semua itu untuk menghadapi tabiat dakwah yang tidak mulus, hingga dakwah ini berhasil dimenangkan. Dengan demikian tujuan melanjutkan kehidupan islam akan terealisasi secara nyata. Kehidupan Islam dalam bingkai khilafah terealisir secepat kedipan mata. Pertolongan Allah, tiada bandingannya. Segeralah menuju pertolongan Allah itu wahai pengemban dakwah.***

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: