Home / Artikel / BILIK BESI DI RUMAH MEWAH

BILIK BESI DI RUMAH MEWAH

(Pola Bahasan Subtansi dalam Pro-Kontra)

 

Catatan ringkas: M. Daud Batubara

 

Tertangkaptangannya seorang kepala daerah di Sumut oleh lembaga anti rasuah, telah menambah keterpurukan kondisi Provinsi Sumut bahkan Indonesia dalam hal catatan korupsi.

Fenomena ini telah menjadi prokontra oleh para pegiat informasi.

Namun tulisan ini bukan membahas tentang tertangkaptangannya beliau, hanya saja pilihan thema ini, kronologinya bertalian dengan lingkungan kejadian tersebut, yakni adanya info dari berbagai pihak tentang manusia dalam bilik-bilik dengan fasilitas kurang layak di dalam lingkungan rumah berfasilitas mewah tersebut.

Lebih menarik lagi adalah pro-kontra dari banyak elemen terhadap fenomena yang muncul dengan persepsi yang diutarakan sebesar makna info yang masing-masing diperoleh berseluweran di lapangan dan media.

Beranjak dari pro-kontra pada berbagai media, maka bahasan ini berusaha untuk mendudukan pola analisa pembaca pada pentingnya berpikir, baik yang berasal dari sumber data yang benar, pada subtansi yang benar dan kukuh, analisa logis yang cerdas, serta kesimpulan yang runtun. Hal ini bertujuan agar tidak salah memberi kesimpulan yang berujung pada isi pembicaraan dan pola tindak, terutama era ini banyak hoaks yang terkadang dikemas seakan ilmiah untuk keperluan tertentu.

Sangat menariknya ketika di rumah megah seorang publik figur kaya ditemukan bilik-bilik kecil untuk manusia dengan pembatas besi. Ada dua hal menarik dalam kebisuan cerita tahunan bilik besi tersebut selama ini.

Pertama, ibadah diam dengan memberi perhatian dari sang kepala daerah bagi orang berkebutuhan.

Kedua, tekanan peradaban yang salah bila memang benar praktik perbudakan terjadi di era milenial dalam rumah mewah tersebut.

Dari kedua sisi yang berseberangan tersebut dapat dikategorikan perbuatan kepala daerah ini sebagai dosa atau pahala. Demikian pula bagi orang-orang yang menggoreng data ini untuk disajikan dalam dua versi tentu juga akan berbuah sebagai dosa atau pahala, yakni tergantung validasi data yang baik dan benar atau sebaliknya. Apalagi disajikan hanya atas persepsi belaka dan lebih runyam lagi bila hanya emosional sepihak belaka, meski apa saja latar belakang emosi tersebut.

Dapat disimak dari berbagai cerita dari berbagai sumber yang juga dibarengi dengan foto yang menggambarkan bahwa salah satu isi rumah kepala daerah yang relatif luas dan berfasilitas mewah tersebut ditemukan bilik-bilik yang dibatasi dengan besi mirip kerangkeng.

Bilik-bilik ini telah ada sejak tahun 2012 dan secara nyata dihuni oleh manusia yang disajikan dalam bentuk foto, video dan berbagai informasi lainnya, sehingga layak dipercaya informasi tersebut.

Kemudian berbagai channel di youtube menayangkan pula pro-kontra informasi seputar cerita dengan berbagai nara sumber terhadap keberadaan bilik-bilik terutama fungsinya. Tentu fungsi bilik-bilik inilah yang kemudian menjadi bahasan yang ramai di bicarakan. Disinilah pentingnya pola analisa dengan pemikiran yang cerdas dan netral terhadap semua informasi. Beranjak dari pro-kontra fungsi ini dapat disimak dari berbagai media sebagai berikut.

Mereka yang berada dalam bilik-bilik berbatas besi dan yang juga telah kembali ke masyarakat  mengungkapkan dalam wawancara pada beberapa channel youtube dengan lebih dominan bersifat positif. Mereka menyebut makan minimal 2 kali sehari. Bukankah di luar sini sedemikian sulitnya mencari makan 2 kali, sedangkan dalam bilik makannya gratis. Bukankah sebegitu banyaknya kabupaten/kota yang membiarkan orang terlantar dengan makan dari tong sampah termasuk penyalahguna narkoba. Dimanakah kabupaten/kota yang memiliki perawatan yang layak untuk penyalah guna narkoba. Jangankan layak, tempat sajapun masih sangat banyak yang belum ada. Mereka toh masih bernaung dalam ruang yang terlindung, bandingkan dengan sekian banyak orang tanpa perlidungan sama sekali, berada sering dan selalu melintas dekat pada diri dan rumah serta tempat kita kerja.

Berbicara jeruji, secara rasional tentu dengan segala keterbatasan binaan dengan warga binaan yang pasti berperilaku kurang terkontrol, maka haruslah dibuat dalam pembatas yang kuat untuk melindungi sekitar rumah. Atau, apakah masuk akal bila warga binaan narkoba kemudian dibiarkan berkeliran bebas dan merusak ingkungan rumah pribadi sang kepala daerah.

Para orangtua mereka menyatakan bahwa mereka benar mengantar dan menyerahkan anak mereka dengan membuat perjanjian, dengan berharap sembuh dari berbagai kondisi yang dialami sang anak. Adakah orangtua yang dengan senang hati menyerahkan anaknya pada orang lain untuk disiksa. Bukankahkah siksaan bagi sang anak adalah pertaruhan nyawa bagi orangtua. Lantas kenapa mereka serahkan. Bahkan ketika anak mereka yang masih dalam binaan kemudian akan dipindahkan dan direhabilitasi oleh lembaga yang punya hak dan kewajiban dengan serba standar pelayanannya, ternyata tak diberi izin oleh orangtuanya. Bahkan, mereka menganggap lebih baik berada di rumah saja dengan ketidakberdayaan mereka untuk membinanya. Orangtua yang bagaimana yang menyerahkan anaknya untuk perbudakan.

Masyarakat setempat malah meminta membuka kembali tempat binaan dan dilanjutkan untuk mereka yang selama ini ternyata telah menyaksikan keluarnya orang dari bilik-bilik binaan yang selama ini diserahkan orang tuanya karena menyalahgunakan narkoba, kemudian kembali bermasyarakat dengan baik.

Mereka secara nyata telah melihat dan merasakan manusia-manusia yang berseluweran di jalan-jalan karena keterbatasan orangtua kemudian mendapat binaan dengan gratis. Lantas apakah binaan gratis tidak boleh mempekerjakan warga binaan untuk membantu hidup mereka. Bukankah dengan mempekerjakan warga binaan juga merupakan bagian dari proses melatih hidup mereka ketika kembali ke masrakat.

Secara prosedur kenegaraan, kita harus mengakui bahwa kepala daerah non aktif ini mungkin ada kesalahan perizinan dan standar-standar lainnya. Dan juga tentu akan salah bila ternyata dengan sengaja melakukan perbudakan di era mileneal ini. Apalagi jika benar melakukan penganiayaan. Demikian juga bila ternyata ada eksploitasi manusia, bahkan perdagangan manusia berkedok pembinaan penyalah guna narkoba.

Namun, bila dicermati dari sisi niat dan pengorbanan yang bersangkutan, bukankah sudah sulit mencari orang dengan kepedulian seperti ini. Dengan kata lain, bahwa dibalik kesalahan beliau hingga tertangkap lembaga anti rasuah, ternyata beliau masih ada gerak ibadah sosial yang cukup baik selama ini, setidaknya dapat dilihat dari niatnya. Inilah yang dimaksud sebagai ibadah yang dilakukan secara diam-diam tanpa ingin harus terlihat publik oleh sang birokrat.

Penyidik polisi yang sudah bekerja siang malam, dan juga tidak semudah itu menjustifikasi keadaan sebelum ditemukan fakta-faktanya. Lantas, kenapa banyak orang yang terpelajar dengan mudah memojokkan politisi yang beberapa saat lalu bertugas sebagai birokrasi seakan menjadi tempat menumpuknya hujatan ketidakbaikan. Bahkan menghubung-hubungkan kebaikan ini dengan keburukan birokrasi. Bukankah kita harus melihat konteks subtansi yang satu dengan yang lain atas dasar data yang valid dengan tidak hanya berasumsi dan mencampuradukkan satu subtansi dengan subtansi yang lain menjadi satu.

Perlu disampaikan bahwa penting melihat satu subtansi dengan data yang yang berhubungan untuk membangun kesadaran persepsi yang baik dan penguatan letak subtansi. Dan inilah yang menjadi harapan dari tulisan ini, sedang alur kondisi pro-kontra hanya perkuatan dalam fenomena yang nyata sedang terjadi, sehingga lebih menarik.

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: