Budaya

Cerpen: GULAI BATU

Karya: Rina Youlida Nurdina

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB, Rahmadi yang biasa disapa Madi baru saja pulang bermain sepak bola dengan teman-temannya di lapangan yang ada di kampung sebelah. Adzan berkumandang menandakan sudah  waktunya untuk melaksanakan salat Magrib.

Madi yang badan dan kakinya dipenuhi dengan lumpur langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dilanjutkan dengan berwudhu untuk langsung mengerjakan salat.

Seperti biasa, karena sudah dijadikan pembiasaan sejak masih kecil, setelah ia melaksanakan salat Magrib tanpa dikomando Madi membaca Alquran walau hanya beberapa lembar saja karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Bahasa yang hanya dimengerti para kawanan cacing yang sudah berdemonstrasi di usus dua belas jari Madi pun dapat terdengar langsung di telinga.

“Sodaqolloohuladziim…” Madi bergegas menutup Alquran dan meletakkannya di atas kitab-kitab lainnya di atas meja kecil di sudut ruangan rumahnya.

Tak menunggu lama, dengan kain sarung yang masih tersemat dari pinggang hingga pergelangan kakinya dan yang jelas Madi belum menggunakan celana di dalam, ia  langsung menuju meja makan. Dibukanya tudung saji yang terbuat dari rotan berwarna coklat sedikit mengkilat yang usianya hampir sama dengan usia Madi, 18 tahun.

Terbelalak matanya karena ia hanya menemukan sepotong kecil telur dadar yang pasti tadi bagian dari potongan lainnya ini sudah dilahap entah siapa di rumah itu membuat Madi merasa sangat kesal. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menjumpai umaknya yang sedang berada di kamar bersama dengan adiknya Aisyah yang sekarang duduk di bangku SMP. Umak sedang menyimak Aisyah membaca Alquran agar bisa mengoreksi jika masih ada bacaannya yang salah.

“Mak..gulai kita hanya ini saja, ya? Apa tidak ada gulai yang lain? Kenapa hanya seperti ini saja gulai? Aku sangat capek. Aku juga lapar sekali, Mak, sampai gemetar sudah rasanya badanku menahankan rasa lapar ini, Mak!” Madi dengan kesal berapi-api menyerang umak dengan pertanyannya.

Ayah yang sedari tadi duduk di teras rumah sambil menikmati sepuntung rokok di tangannya dengan suasana segar setelah melaksanakan salat mendengar perkataan Madi pada umaknya. Ayah pun datang menghampiri ke kamar setelah meletakkan rokoknya yang masih tersisa setengah batang lagi di atas asbak tempurung hasil kerajinan tangan Madi di sekolah.

“Kenapa, Nak? Ada masalah apa?” tanya ayah pada Madi.

“Aku lapar, Yah. Tapi ga ada gulai lagi di dapur. Apa kalian tidak ingat kalo masih ada aku anak kalian yang harus makan juga?” tanya Madi pada ayah dengan nada suara meninggi.

Ayahnya terdiam sejenak mengetahui kalau anak lajangnya sedang dalam kondisi lapar pasti mudah tersulut emosinya. Berbeda dengan abang Madi yang sangat penyabar orangnya yang kini telah menikah dan tinggal jauh di rantau orang, Asrul namanya.

“Hhmmmm..sini, ayah juga belum makan, kok. Ayah juga sengaja menunggu kamu tadi supaya kita bisa beli nasi bungkus bersama, ayah tau kamu pasti sangat lapar karena ini sudah waktunya makan malam,” sahut ayah dengan tenang.

Tanpa sepengatahuan Madi, ayah sengaja mengedipkan sebelah matanya pada umak isyarat agar umak tenang saja. Ayah mengambil kunci sepeda motor yang tergantung di samping pintu kamar dan menarik tangan Madi untuk ikut serta dengan ayah. Mengengkol sepeda motor  Astrea Supra yang sudah tak bisa distarter lagi karena usianya sudah cukup tua yang setia menemani perjalanan sehari-hari ayah tiap bekerja ke kantor sebagai pegawai negeri sipil, sebelum pensiun dua tahun yang lalu.

Gas sepeda motor tertarik sedikit, berisik melaju dengan kecepatan 20 kilometer per jam sengaja ayah lakukan agar ada kesempatan untuk bercerita dengan anak kebanggaannya itu, apalagi jarak tempuh dari rumah dengan kedai nasi yang akan mereka tuju sangat dekat, di persimpangan rumah tepatnya sekitar 300 meter saja.

“Mau nggak kamu mendengar cerita,” ayah membuka pembicaraan sambil tetap fokus memperhatikan jalanan yang sedikit becek.

“Dulu waktu ayah masih sekolah di Mustafawiyah, umur ayah masih 12 tahun duduk di kelas 1. Ayah terpaksa harus tinggal memondok di pondok-pondok kecil yang menjadi ciri khas sekolah Purba itu. Tentu kamu tau la gimana kondisinya, tapi sekarang itu jauh lebih baik lagi, lho. Dulu pondoknya hanya terbuat dari gogat bulu (bambu), lantainya juga begitu. Belum ada listrik yang menerangi. Kami masih menggunakan lampu cemporong sederhana yang dirakit sendiri dari botol sisa obat syrup, kalau mau tidur, ya lampu harus dimatikan supaya bisa hemat minyak untuk hari berikutnya”.

“Sama seperti anak pesantren pada umumnya, ayah juga setiap minggu mendapat kiriman belanja dari nenekmu di kampung. Walaupun kampungnya terasa dekat saat ini, tapi zaman ayah dulu terasa sangat jauh karena transportasi masih sulit”.

“Setiap hari Kamis, kebetulan itu hari pekan di Panyabungan, jadi nenekmu akan mengirim belanja ayah untuk seminggu ke depan. Isi belanjaan yang sampai itu bermacam-macam, lho. Tapi bukan seperti belanjaan anak zaman sekarang, yang berisi aneka snack dan jajanan, tapi yang biasa ayah terima itu berupa beras satu tabung, kelapa tiga atau empat biji, kacang merah setakar, kacang panjang seikat, cabai, bawang dan rempah lainnya juga secukupnya”.

“Walaupun hanya seperti itu, ayah sudah sangat senang menerimanya dan selalu dinantikan setiap minggunya. Di tiga hari pertama ayah masih bisa menikmati makan dengan menggunakan gulai sayur, dan sebuah impian besarlah itu kalau bisa makan ikan atau daging.”

“Kami para Pokir (santri laki-laki) harus sudah pandai memasak sendiri memakai tungku api dengan kayu bakar yang kami cari sendiri di hutan sekitar pondok kami. Nah.. kalau sudah masuk hari keempat, ayah akan mengeluarkan lauk andalan ayah yang sengaja digantung di atas tungku perapian tempat ayah memasak.”

“Waaah..Ayah punya daging simpanan yang ayah sembunyikan ya?” potong Madi di sela-sela pembicaraan ayahnya.

“Yaa…itu daging yang sangat istimewa karena rasanya bisa berubah sesuai apa yang ayah pikirkan. Benar -benar nikmat,” sahut ayah.

“Apa nenek tidak tau kalau Ayah punya simpanan daging?” tanya Madi penasaran.

“Nenek tidak tau, karena kalau nenek tau pasti nenek akan merasa sedih, makanya ayah sembunyikan itu.”

Sambil mengerutkan jidatnya tanda penasaran Madi meletakkan tangannya di pundak ayah untuk pegangan.

“Yang ayah sembunyikan itu adalah tiga buah batu yang setiap tidak ada lagi bahan untuk dimasak akan ayah jadikan sebagai bahan untuk gulai saat ayah memasak untuk makan.”

Madi terkejut sambil menganga, seolah tidak percaya dengan cerita ayahnya barusan.

“Jika kamu sekarang makan ayam goreng Kentucky yang terkenal dan harganya juga cukup mahal atau jika kamu makan ikan mera atau lauk nikmat lainnya, maka rasa batu yang ayah gulai itu rasanya melebihi nikmatnya ayam Kentucky ataupun ikan mera itu tadi.”

“Ahhh.. masa iya sih, Yah. Batu kok enak?” tanya Madi.

“Ayah serius, lho. Ayah gak bohong. Gulai itu terasa sangat nikmat karena apa? Karena rasa syukur yang ayah miliki membuat rasa gulai batu itu sangat nikmat. Rasanya seluruh bumbu masakan itu meresap sempurna ke dalam batu itu sehingga saat makan tak jarang ayah menghisap batu itu seperti menikmati kepala ikan mas besar yang diasampode. Kamu pasti bisa bayangkan kan betapa nikmatnya itu. Jadi ayah mohon untuk kamu sebagai anak laki-laki janganlah terlalu mudah mengeluh. Jadilah anak yang kuat dan selalulah bersyukur dengan apa yang ada yang saat ini sudah kamu miliki.”

“Belajar hidup susah bukan berarti kamu akan hidup susah nantinya. Justru pengalaman itu akan menjadi cambuk bagimu untuk jadi sukses nantinya dan kamu menjadi lebih kuat, mampu menghargai dan menyayangi orang dan apapun yang ada di sekitarmu. Jangan sekali-kali kamu mencela makanan apapun itu karena sedikit atau banyak, itu adalah rahmat Allah”.

“Jadi, ayah minta kamu nanti untuk memohon maaf sama umak karena tadi umak pasti sudah merasa sedih dengan ucapanmu.”

“Seharian ini umak sudah sangat lelah mengurus rumah. Kebetulan tadi sore sebelum kamu pulang, seorang pemulung lewat mau mengambil baskom di belakang rumah kita, umak melihat dan melarangnya karena baskom itu masih berguna untuk kita. Sebagai gantinya umak memberi sepiring nasi dengan gulainya, makanya tadi gulaimu hanya tinggal sedikit saja.”

Merasa sedih dan malu di belakang pundak ayahnya, Madi menundukkan kepalanya. Ia menyesal telah berlaku kasar pada umak yang sangat mulia.Ia bergumam dalam hati akan segera memeluk dan meminta maaf pada umak sesampainya di rumah nanti.

Rina Youlida Nurdina adalah guru di SMP Negeri 6 Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut.
Anggota Forum Komunikasi Pendidikan (FKP) Madina.

Cerpen ini didedikasikan untuk ayah, Nuruddin Tanjung tammatan tahun 1971 musthafawiah.

*Ilustrasi dicopy dari instagram akun aeksingolot story

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.