Home / Artikel / Idul Fitri, Salaman dan Toleransi di Tengah Keberagaman

Idul Fitri, Salaman dan Toleransi di Tengah Keberagaman


Oleh : Moechtar Nasution

 

Idul Fitri sebagai hari kemenangan bukan hanya bermakna sebagai pembebasan sekaligus pembersihan secara personal menuju kefitrian setelah berjuang sebulan penuh melaksanakan Ibadah Shoum namun juga memiliki makna perekat dan pemersatu diantara sesama masyarakat ditengah kemajemukan beragama yang merupakan anugerah dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia. Inilah makna Idul Fitri secara komunal atau kolektif dengan pendekatan kebersamaan dan kekeluargaan dalam bingkai kebangsaan.

Idul Fitri sebagai pemersatu komponen kemasyarakatan terwujudkan dalam kesediaan untuk saling memberikan toleransi membangun kesepahaman bahwa setiap hari besar keagamaan apapun merupakan ajakan untuk membangunkan solidaritas dan juga ajang untuk menunjukkan kasih sayang bagi sesama ummat manusia.

Membangun relasi sosial kemasyarakatan tanpa adanya sekat primodordialisme seperti suku, agama, kepercayaan, status ekonomi dan strata pendidikan sejatinya melalui perayaan Idul Fitri dapat diejawantahkan dalam sikap, tingkah laku, perkataan dan perbuatan. Saling bersilaturrahmi dan mengunjungi diantara sesama warga masyarakat setelah melaksanakan sholat Idul Fitri membuktikan tingkat toleransi dan penghargaan terhadap multikultural ini sudah menyatu dengan urat nadi kehidupan masyarakat tanpa adanya rekayasa dan pencitraan.

Inilah substansi kesucian Idul Fitri melalui persatuan yang inklusif, hubungan sesama manusia yang tidak dibatasi perbedaan apapun baik etnik, bahasa dan juga suku. Semua membaur dalam khakikat kemanusiaan. Menyatu dalam keanekaragaman. Bersekutu dalam perbedaan.

Masing masing saling menjulurkan tangan untuk bersalaman disertai ucapan minal Aidin wal Faidzin menandakan bahwa semua manusia memiliki  posisi yang sama di hadapan Allah SWT. Semua sama tanpa adanya kasta dan strata. Sama sama sadar memiliki kesalahan dan sama sama memohon kemaafan. Dalam terminologi Islam yang membedakan semua manusia hanyalah ketaqwaan saja.

Bersalaman merupakan bentuk pengakuan tertinggi dalam kemanusiaan dimana kebersediaan untuk saling mengulurkan tangan merupayakan upaya untuk merontokkan ego dan cara untuk meluluhlantakkan kesombongan. Tidak ada larangan bagi yang tua terlebih dahulu mengulurkan tangan kepada yang muda dan juga sebaliknya malah yang lebih dahulu mengulurkan tangan disertai permohonan maaf merupakan tindakan terpuji yang nilai pahalanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang menerima uluran tangan tersebut.

Hari ini, saya dan keluarga melaksanakan Sholat Idul Fitri 1443 di Mesjid Al Ikhlas Kampung Losung, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Mesjid kecil yang berada di tengah komunitas penduduk yang Nasrani. Bukti toleransi itu nyata adanya saya temukan di sini. Puluhan pemuda Nasrani yang tergabung dalam organisasi Pemuda Batak Bersatu tampak sigap mengamankan prosesi peribadatan sholat Idul Fitri. Lengkap dengan uniform, mereka sibuk mengatur lalu lintas jalan raya, mengatur parkir baik roda dua atau empat dan juga melakukan penjagaan di luar komplek masjid. Mereka menebar senyum dan bertutur sopan menandakan mereka juga turut merasakan kebahagiaan di hari yang fitri ini.

Menjadi pemandangan yang indah saat mereka menyalami kaum muslimin yang keluar dari kompleks mesjid sebagai tanda kegembiraan mereka melihat saudara saudara mereka yang sudah mencapai “kemenangan” pada hari ini.

Semua berlangsung secara alamiah. Tidak sedikitpun terlihat adanya keengganan mereka untuk membantu kaum muslimin yang hendak menunaikan sholat Ied. Saat hujan gerimis turun menyiram bumi, mereka seakan enggan untuk beranjak sedikit pun.

Begitu sholat selesai, saya hampiri salah satu dari mereka. Saya ucapkan terimakasih atas keterpanggilan dan kepedulian mereka. Terimakasih untuk keterpanggilan dan kepedulian mereka yang menurut saya lahir dari sanubari dan hati yang terdalam sebagai manusia.

Allaahu Akbar…Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar…

Allaahu Akbar Wa lillaahilhamd…

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: